Pengamat Politik: Penyakit Lama Golkar Kambuh

JAKARTA – Pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi mengatakan sikap sejumlah petinggi Partai Golkar yang meminta Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbar Tandjung mundur dari jabatannya menunjukkan bahwa partai berlambang pohon beringin ini kembali mengalami nasib yang sama seperti masa sebelumnya.

"Itu penyakit lama di Golkar. Ada faksionalisasi karena ketiadaan tokoh yang dominan di internal Golkar," kata Burhanuddin di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, Sabtu, 29 Desember 2012. Menurut dia, saat ini setidaknya ada empat faksi di Golkar, yakni faksi Agung Laksono, Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, dan Jusuf Kalla.

Petinggi Golkar menginginkan Akbar mundur lantaran mantan Ketua Umum Golkar itu tak menghormati keputusan Rapat Pimpinan Nasional yang menetapkan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden. Menurut Ketua Dewan Pengurus Pusat Golkar, Mahyudin, beberapa kali pernyataan Akbar terkesan menyudutkan Ical, sapaan akrab Aburizal.

Burhanuddin mengatakan, munculnya pernyataan Akbar tentang Ical disebabkan elektabilitas Ical yang tak kunjung naik hingga saat ini. Ical memiliki tingkat keterpilihan yang jauh di bawah elektabilitas partai. "Ketika statement itu direspons secara keras oleh faksi yang lain, saya khawatir justru makin membuat persiapan Golkar di pemilihan legislatif 2014 semakin kacau-balau," ujarnya.

Adapun jika Ical digantikan oleh calon presiden Golkar dari faksi lain, Burhanuddin menilai langkah tersebut belum tentu membuat Golkar memenangi pemilihan presiden. "Stok yang ada di Golkar rata-rata, kan, popularitasnya atau tingkat elektabilitasnya tidak memadai," ucap Burhanuddin. | sumber: tempo

  • Uncategorized

Leave a Reply