Pengalaman Kontestan Master Chef Indonesia Berlibur ke Banda Aceh

Kalau Anda penggemar Master Chef Indonesia, pasti mengenal salah satu kontestannya; Adelina Khrisantie. Beberapa waktu lalu, Adelina berlibur ke Banda Aceh. Di Banda Aceh ia mengunjungi beberapa tempat wisata, dan tentu saja mencicipi aneka kuliner khas Aceh.

Adelina merupakan karyawati di PT Jasa Marga (Persero) tbk, ia juga seorang wirausahawan. Di Master Chef Indonesia 2, dari 18 ribu pendaftar ia masuk menjadi top 20.

“Aku mengundurkan diri saat 17 besar karena anakku minta maminya pulang,” ujarnya kepada ATJEHPOSTcom melalui jejaring sosial facebook.

Kisah perjalanan Adelina dan putranya Reyhan dituangkan di blognya http://rumahedelweiss.wordpress.com. Dihubungi ATJEHPOSTcom melalui akun facebooknya, Adelina tak keberatan cerita perjalanannya untuk dibagi ke pembaca ATJEHPOSTcom. Berikut tulisannya:

—————————————–

Jelajah Nusantara (3) : Banda Aceh

Situs-situs Tsunami

Saya pribadi tidak mampu mengatakan kunjungan kami ke Banda Aceh dalam rangka wisata tsunami, bagaimana mungkin mengunjungi situs-situs tsunami dimana terjadi musibah yang merenggut begitu banyak  jiwa itu saya sebut wisata. Yang ada justru perasaan turut berduka mendalam terlebih ibunda dan anggota keluarga teman yang mengantar kami selama di Banda Aceh adalah korban juga.

Terima kasih tak terhingga kepada mas Arie dan mas Hijrah yang menemani kami mblusukan di Banda Aceh dan Aceh besar. Andai tak ada mereka saya harus menyewa mobil karena transportasi publik di ujung barat Indonesia ini sangatlah minim. Lokasi situs-situs tsunami juga tidak berada di pusat kota sehingga akan sulit dijangkau dengan kendaraan umum.

Selain itu bantuan mas Arie telah memesankan hotel UKM dengan harga khusus. Seharusnya kamar yang kami tinggali di lantai 1 dengan fasilitas AC dan privat bathroom seharga Rp. 198.000 menjadi saya bayar Rp. 170.000 (senangnya).

Mas Arie dan mas Hijrah adalah orang-orang yang bergelut di dunia pariwisata. Dan saya berkeinginan suatu hari bisa mengunjungi Aceh lagi namun khusus ke Sabang yang alamnya sangat indah, untuk itu bisa bergabung dengan program tour yang digarap oleh mas Arie seperti dalam akun facebook ‘ayo ke pulau weh’.

Yang unik mas Hijrah, dia adalah kakang Malang tahun berapa ya lupa nanya hehe. Namun kini kembali ke tanah leluhurnya yaitu Sabang dan tetap bergerak di industri pariwisata yang salah satunya ikut mempromosikan Sabang dengan souvenir yang dia buat berlabel PIYOH. Showroom Piyoh di jl. Cut Mutia No. 11, Kota Atas-Sabang.

Alhamdulillah berkat kedua rekan tersebut perjalanan singkat saya dan Reyhan menjadi sangat optimal karena mereka tahu betul apa saja yang menjadi magnet kuat di daerahnya.

Selain mas Arie dan mas Hijrah kami juga bertemu non feny dan suaminya saat makan malam di mie Razali. Thanks non atas traktiran dan oleh-olehnya hehe.

Berikut beberapa situs tsunami yang kami kunjungi :

Museum Tsunami

Museum yang dibangun untuk mengenang tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 ini mirip dengan Tepapa Museum yang pernah kami kunjungi di Wellington-Selandia Baru. Tepapa mendokumentasikan bencana gempa yang meluluhlantahkan kota Christchurch.

Gempa bumi Christchurch Juni 2011 adalah gempa bumi berkekuatan 6.3 SR  pada tanggal 13 Juni 2011pukul 14:20. Epsientrum gempa berada di 13 km (8 mi) utara Christchurch, dengan kedalaman 6 km (4 mi). Gempa ini didahului oleh gempa awal berkekuatan 5.6 SR dengan kedalaman 10 km (6 mi), sekitar pukul 13:10, disusul dengan gempa utama, lalu gempa-gempa susulan yang lebih kecil. (sumber : wikipedia)

Museum Tsunami menurut saya merupakan salah satu museum terbaik yang kita miliki karena walau tanpa dipungut bayaran museum dikemas sangat baik sehingga memiliki nilai edukatif yang tinggi namun tetap ‘fun’ untuk anak-anak.

Museum yang dibangun dengan konsep rumoh aceh (rumah panggung : rumah adat aceh) menjadi salah satu must have visit bila berkunjung ke serambi mekkah ini.

PLTD Apung (Electrical Generator Ship)

Sebelumnya PLTD Apung  tertambat di pelabuhan Ulee Lheue. Kapal itu didorong ke tanah sejauh 2,5 km dari pantai Ulee Lheue oleh Tsunami hingga berada di tengah-tengah Desa Punge Blang Cut.

Kapal pemasok listrik ini tak lagi beroperasi dan telah dijadikan salah satu situs tsunami oleh pemerintah setempat.


Fishing Boat on the Roof

Perahu nelayan ini terdampar diatas sebuah rumah penduduk di desa Lampulo akibat terjangan tsunami. Konon 59 jiwa yang berada di atasnya selamat.

Saat kami mengunjungi situs ini terbayang apa yang dialami oleh para korban ketika itu, saya hanya bisa berdoa semoga kini mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

MASJID-MASJID YANG SELAMAT DARI TERJANGAN TSUNAMI


Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja, pusat kota Banda Aceh merupakan ikon provinsi Nangroe Aceh Darusaalam. Menelusuri sejarah masjid yang berada di jantung kota ini, ibarat melihat perjalanan panjang bumi Serambi Mekah. Mulai masa Kesultanan Aceh, penjajahan Belanda hingga pahit manis nya bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masjid yang tetap berdiri kokoh dari hantaman dua bencana kemanusiaan yang maha dahsyat pernah terjadi di muka bumi ini, Bencana letusan Gunung Krakatau tua yang meggetarkan Nusantara dan abunya menutupi angkasa nusantara dengan dampak nya menyebar ke seantero bumi, hingga bencana Tsunami yang meninggalkan nestapa yang luar biasa bagi negeri ini terutama bagi keluarga korban yang selamat dari bencana dahsyat tersebut.

Ketika bencana dahsyat tsunami meluluhlantakkan Aceh Desember 2004, kita semua seakan di tampar dengan keras untuk sebuah kesadaran bahwa seluruh rakyat Aceh adalah saudara kita sendiri. Bencana dahsyat ini juga yang membungkam para pakar yang sama sekali tak mampu memberikan penjelasan logis bagaimana dan mengapa air bah tsunami tersibak ketika berhadapan dengan masjid ini dan menyelamatkan begitu banyak nyawa yang berlindung dan menyelamatkan diri di masjid ini. (sumber : http://bujangmasjid.blogspot.com)

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Masjid Baiturrahim adalah salah satu masjid bersejarah di provinsi Aceh. Masjid yang berlokasi di Ulee Lheue, kecamatan Meuraksa ini merupakan peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Masa itu masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu. Pada 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim.

Sejak berdirinya hingga sekarang masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Awalnya masjid dibangun dengan rekonstruksi seutuhnya terbuat dari kayu, dengan bentuk sederhana dan letaknya berada di samping lokasi masjid yang sekarang. Karena terbuat dari kayu, bangunan masjid tidak bertahan lama karena lapuk sehingga harus dirobohkan. Pada 1922 masjid dibangun dengan material permanen oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Namun masjid ini tidak menggunakan material besi atau tulang penyangga melainkan hanya susunan batu bata dan semen saja.

Berdasarkan catatan sejarah, pada tahun 1983 Banda Aceh pernah diguncang gempa dahsyat dan meruntuhkan kubah masjid. Setelah itu masyarakat membangun kembali masjid namun tidak lagi memasang kubah, hanya atap biasa. Sepuluh tahun kemudian, dilakukanlah renovasi besar-besaran terhadap bangunan masjid, hanya dengan menyisakan bangunan asli di bagian depan pascagempa 1983. Selebihnya 60 persen merupakan bangunan baru. Sampai sekarang bangunan asli masjid masih terlihat kokoh di bagian depannya.

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi yang disusul terjangan tsunami meratakan seluruh bangunan di sekitar masjid dan satu-satunya bangunan yang tersisa dan selamat adalah Masjid Baiturrahim. Kondisi masjid yang terbuat dari batu bata tersebut hanya rusak sekitar dua puluh persen saja sehingga masyarakat Aceh sangat mengagumi masjid ini sebagai simbol kebesaran Tuhan. (sumber : wikipedia).

Masjid Rahmatullah Lampu’uk

Desa Lampu`uk terletak sekitar 14 KM dari pusat kota Banda Aceh. Dikarenakan lokasi ini terletak agak ke dalam dari jalur kendaraan umum Banda Aceh – Lamno (Aceh Jaya) maka kendaraan pribadi atau taxi dapat mencapai tempat ini. Jalan menuju ke sana relatif cukup baik melalui jalan aspal hotmixed.

Masjid yang dibangun pada awal tahun 1990 ini sangat kokoh dan berukuran cukup besar untuk jumlah penduduk Lampu’uk sebelum Tsunami. Beberapa bagian dari dinding mesjid ini rusak namun secara keseluruhan mesjid ini masih berdiri tegak hingga sekarang. Daerah ini mendapat banyak bantuan dari Negara Turki. Disana terlihat tanda-tanda bantuan Turki baik itu kompleks perumahan disekeliling masjid maupun rehabilitasi masjid itu sendiri. (sumber : visitaceh.com)

PANTAI EUMPEE NULU, ACEH BESAR

Setelah mengunjungi masjid Rahmatullah Lampu’uk kami langsung meluncur menuju pantai Eumpee Nulu di Aceh Besar. Wah tak terasa penjelajahan kami makin melebar. Lokasi pantai ini tak jauh dari masjid Lampu’uk, hanya membutuhkan sekitar 15 menit dengan kendaraan.

Empee Nulu adalah bagian dari garis pantai Lhoknga dan Lampuuk yang terkenal keindahannya. Pantai ini terletak di Kabupaten Aceh Besar dan menjadi salah satu tujuan wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Sempat hancur dihantam gelombang tsunami 2004 yang lalu, pantai ini sekarang bangkit dengan aura kemolekannya. Kehancuran yang melumatkan kehidupan pantai dan sekitarnya seolah tak bersisa.

Kebangkitan Empee Nulu antara lain diprakarsai oleh pemuda setempat bernama Joel. Beberapa bungalow yang berderet di bibir pantai dibangun olehnya. Untuk melengkapinya, Joel juga membuka restorandengan menu andalan Pizza Italia, di samping menu asli setempat.

Menurut Joel, indahnya Empee Nulu membuatnya yakin pantai ini akan dikunjungi banyak orang. Keyakinannya terbukti saat ini dengan banyaknya kapal berbendera asing merapat di sana. Hampir setiap bulan, dua hingga tiga kapal layar ukuran sedang singgah di kawasan ini. Selain menikmati keindahan, beberapa wisatawan terlihat menikmati ombak dengan papan selancarnya.

Eumpee Nulu berada segaris dengan Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga yang tak kalah indah. Bahkan sejak setahun lalu, Pantai Lampuuk yang dikenal karena ikan bakar yang harum dan nikmat ini, juga menjadi kawasan konservasi penangkaran penyu. Lokasi pantai-pantai ini hanya berjarak 12-13 kilometer dari pusat ibukota Banda Aceh. Pastikan Anda mampir ke pantai-pantai ini bila berada Aceh, baik untuk menikmati birunya laut, putihnya pasir pantai, atau eloknya pertunjukan senja di langitnya. (sumber : kompas.com)

Keindahan pantai ini dan keberadaan bungalow-bungalow nan eksotis menambah keinginan saya saat kelak mengunjungi  Aceh lagi yaitu menginap di Joel Bungalow (banyak banget ya maunya).

Dan ternyata disini Adel masterchef dikenali lagi setelah kehadiran kami di museum tsunami juga cukup menarik perhatian pengunjung lainnya hehe.

TRANSPORTASI UMUM

Baik di Medan maupun di Banda Aceh kami tak banyak menjajal transportasi umum karena keterbatasan waktu. Hanya Bentor (becak motor) dan Damri menuju bandara yang kami jajal.

Naik bentor di Medan saat keliling kota di malam hari dengan tarif Rp. 30.000. Untuk bentor dari UKM hotel Banda Aceh yang kami tinggali menuju halte bus damri rute bandara seharga Rp. 10.000. Tarif damri Rp. 15.000/orang.

PAJAK BANDARA

Bandara Husein sastranegara Bandung : Rp. 25.000

Bandara Polonia Medan : Rp. 35.000

Bandara Sultan Iskandar Muda : Rp. 25.000

HILANGKAN KESAN ‘ANGKER’ TENTANG MEDAN DAN BANDA ACEH

“Adel hati-hati lho kalo mau ke Medan”….”Gila nekad amat sih lo ke Aceh, disana kan orangnya serem-serem”…”Emang nggak ada pilihan destinasi lainnya selain 2 kota itu. Del”

Kutipan kalimat di atas hanya sebagian komentar teman dan kerabat yang mengetahui rencana kepergian saya bersama Rey ke tanah batak dan serambi mekkah. Kesan angker dan seram seringkali digambarkan oleh mereka yang telanjur termakan oleh berita-berita kekasaran orang batak dan kekejaman Gerakan Aceh Merdeka.

Dengan niat mengenalkan nusantara kepada Reyhan dan meyakinkannya bahwa kabar-kabar yang kami terima takkan seluruhnya benar. Pasti ada sisi positif dan nilai kebaikan disana. Alhamdulillah kami melewatinya dengan lancar dan sangat berkesan.

Bahkan sesampai di rumah Reyhan berucap, “Rey seneng banget mami, nggak terasa capek kok sepulang dari Medan dan Aceh. Alam Indonesia memang bagus hanya kurang perawatan. Pemerintahnya nggak perhatian ya”.

Begitu banyak pembelajaran untuk Reyhan dalam perjalanan ini. Mengenal Indonesia dari dekat, belajar melihat segala sesuatu dari hal positif dan jangan berkutat sehingga terjebak pada hal negatif yang justru sering didengungkan orang. Selain itu saya juga menanamkan sikap toleransi dan menghargai nilai maupun adat istiadat daerah yang dikunjungi agar Rey nanti tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menghakimi perbuatan orang lain sebaliknya menjadi manusia yang bijak dalam menyikapi setiap perbedaan.

Yuk…kita bersiap menjelajah bumi nusantara lainnya Rey, dan berbanggalah menjadi Warga Negara Indonesia.[]

Adelina juga terkesan dengan beberapa bumbu masak khas Aceh seperti asam sunti dan emping beras. Untuk membaca tulisan-tulisan Adelina yang lain silahkan kunjungi blognya di http://rumahedelweiss.wordpress.com

  • Uncategorized

Leave a Reply