Pengabdian Nur Habibah di Kerkhof Peutjout

PAMFLET itu berukuran 5 x 5 dengan tulisan Kerkhof Peutjout. Dari arah jalan raya, tempat yang memiliki sejarah ratusan tahun ini tak terlalu terlihat. Namanya tertutup dengan batang kayu besar.

Bangunan berbentuk atap rumah dengan dinding menjulang tinggi tampak dari jalan masuk. Di sana tercantum sederetan nama-nama tentara Belanda, lengkap dengan tahun dan tempat dimana ia terbunuh.

Keberadaan nama-nama itu memberi gambaran akan tempat yang hendak dikunjungi.

Namun untuk mencapai Kerkhof Peutjout, ada  ada lorong lagi yang harus ditembus, kemudian baru terlihat berbagai batu nisan dengan bentuk yang bervariasi.

Ada yang hanya salib biasa, ada pula yang nisannya memiliki tinggi lebih dari 160 meter. Sekeliling dipenuhi rumput dan bunga-bunga bugenvil. Ya, semua yang berada di tanah yang luas itu adalah makam yang usia-nya melebihi ratusan tahun. Di sana juga peristirahatan terakhir para tentara Hindia Belanda yang menjajah negeri ini ratusan tahun lalu.

Nur Habibah tinggal di sekitar makam. Di sana, dia tingga bersama ibu, suami dan empat anaknya. Dia menjaga makam para penjajah Balanda ini sudah dari 25 tahun silam.

"Ketika baru menikah, saya tinggal disini. Tapi Kalau bapak udah lebih dari 25 tahun," ujar Nur Habibah, saat dikunjungi ATJEHPOSTcom, Selasa siang, 26 Maret 2013.

Tanggal 26 Maret adalah hari keluarnya maklumat perang Belanda terhadap Aceh, tepatnya 1873 tahun silam.

Nur Habibah mengaku tidak pernah takut tinggal berdampingan dengan makam Belanda.

Bahkan, ketika Tsunami datang melanda Aceh akhir tahun 2004 lalu, ia bersama keluarganya sempat lari ke Taman Budaya Aceh yang jaraknya tak jauh dari Kerkhoff.  Kerkoff Peutjout merupakan titik akhir gelombang hitam itu memporak-porandakan Aceh masa itu.

Banyak mayat dan bangunan, bahkan kapal tersangkut di Kerkhoff. Saat itu, Kerkhoff sangat kacau, dan tak seperti sekarang yang sudah kembali rapi dan indah.

Hari ke lima, suami Nur Habibah sudah mulai membersihkan Kerkhoff dibantu dengan para relawan yang mengevakuasi mayat-mayat yang tersangkut di sana. Semua tak mudah, perlu waktu berbulan-bulan untuk membersihkan ratusan makam-makam itu, bahkan banyak batu nisan yang hilang karena Tsunami.

"Ada sekitar 50 papan nisan yang berbentuk salib hilang pada saat tsunami," ujar Nur Habibah.

Saat tsunami, rumah yang dia tempati pun runtuh. Rumah ini baru kembali dibangun pada tahun 2007 oleh Yayasan Peutjout. Yayasan yang langsung didatangkan dari Belanda, dan memantau segala prihal Belanda yang masih ada di Aceh, termasuk juga Kerkhoff.

Pengabdian Nur Habibah dan suaminya mendapat apresiasi dari pihak Belanda. "Penghargaan atas jasa diberikan kepada bapak, baru saja. Tanggal 02 Desember 2012, tahun lalu," kisah Nur Habibah.

Nur Habibah dan suaminya mengaku tidak begitu tahu mengenai sejarah makam-makam ini. Bahkan ia menyuruh beberapa pengunjung yang datang menanyai prihal kuburan, untuk membaca buku sejarah atau setidaknya membuka sejarah di internet.

"Saya belum lahir ketika itu, dan saya tidak membaca. Lagipula saya bukan seorang sejarahwan, saya bersama suami hanya sebagai tukang bersih-bersih dan menjaga kuburan saja," kata Nur Habibah.

Ia juga menelaskan bahwa pemerintah Aceh sendiri sudah bekerjasama dengan perwakilan Belanda untuk membuat buku mengenai sejarah Kerkhoff. Buku sejarah Kerkhoff itu sudah terbit sejak tahun 2007 lalu, dalam jumlah yang sangat terbatas.

“Kalau mau, ada sama saya beberapa buku lagi. Harganya Rp150 ribu,” Ujar Nur Habibah.

Kerkhoff sendiri berasal dari bahasa Belanda yang berarti halaman gereja atau kuburan. Kerkhoff sudah ada sejak  tahun 1893 M. Pada masa itu bangunan Kerkhoff masih berupa susunan batu bata saja. Di Kherkhoff sendiri terdapat  ±2.200 tentara kerajaan Hindia Belanda yang wafat saat perang.

Belanda sendiri memiliki prinsip, pahlawan yang mati di medan perang dan akan dikuburkan di tempat ia menghembuskan nafas terakhir pula. Seperti  Jendral Kohler, wafat di Banda Aceh. Setelah 139 tahun dikuburkan di Belanda, tulang-tulangnya kembali dikuburkan di Banda Aceh, yakni di Kerkhoff.

Kuburan putra mahkota Sultan Iskandar Muda, pangeran Pho-tu Tjoet yang dihukum mati oleh ayah kandungnya karena perbuatan kriminal, juga dikuburkan pula di Kerkhoff. Maka dari itu nama Kerkhoff hingga kini menjadi Kerkhoff Peutjot.

Nur Habibah juga bercerita mengenai penghormatan Belanda terhadap peninggalan sejarah mereka.

“Mereka sangat menghargai para pahlawan. Tak sedikitpun mereka tidak memerhatikan Kerkhoff ini, setiap tahun mereka datang dari Belanda untuk melihat Kerkhoff,” Kata Nur Habibah.

Kerkhoff banyak pula dikunjungi oleh berbagai kalangan, terkadang hanya sekedar berfoto saja di Kerkhoff.

Kerkhoff akan ramai pada hari Sabtu dan Minggu. “Terkadang saya tegur orang-orang yang berfoto sambil tertawa. Foto boleh, tapi jangan tertawa, setidaknya kita dapat menghargai kalau ini kuburan. Meski bukan kuburan orang islam,” ujar Nur Habibah.[] (mrd)

  • Uncategorized

Leave a Reply