Peneliti Arsip Digital Tsunami dari Jepang Kunjungi Redaksi ATJEHPOST.co

PENELITI dari Tokyo Metropolitan University, Professor Hidenori Watanave berkunjung ke redaksi ATJEHPOST.co, di Jalan Pango, Banda Aceh, Selasa, 16 Desember 2014. Kedatangan akademisi asal Jepang ini disambut Pimpinan Redaksi ATJEHPOST, Yuswardi A. Suud.

Dalam kunjungannya Hidenori menjelaskan sedang membuat arsip digital tsunami Aceh menggunakan aplikasi google earth. Program ini merupakan kerjasama Metropolitan University, Cias University dan Magister Kebencanaan Unsyiah.

"Arsip digital ini bisa diakses melalui laman www.aceh.mapping.jp oleh publik di seluruh dunia. Di dalamnya ada poin-poin ketinggian bencana, foto-foto sebelum dan sesudah tsunami serta testimoni korban yang survive," ujar Hidenori Watanabe kepada ATJEHPOST.co. Ia turut didampingi oleh Nurjanah, salah satu warga Aceh yang kini mengambil study S3 di Jepang.

Ia mengatakan informasi ini penting untuk anak-anak Aceh karena selama ini terjadi gap informasi. Dengan adanya arsip digital tersebut, Hidenori berharap memori tsunami akan tetap tersimpan meski nantinya korban yang selamat dari bencana kemudian meninggal dunia karena usia.

Hidenori mengatakan program ini tercetus saat pertama kali bertemu korban bencana di Jepang yang juga korban tsunami. Ide ini kemudian berkembang setelah Hidenori mengetahui adanya bencana serupa yang sebelumnya pernah melanda Aceh.

"Jadi ada keterikatan perasaan yang sama antara Jepang dan Aceh," katanya.

Dia kemudian mencoba mengakses situs-situs yang mengangkat isu bencana tsunami dari Indonesia. Saat penelusuran tersebut, Hidenori menemukan website berisi info kebencanaan yang dikelola TDMRC Unsyiah. "Namun website ini terlalu serius untuk kategori remaja sehingga jarang dibuka walaupun infonya sangat bagus," ujarnya.

Selain peta dan arsip tsunami Aceh, Hidenori dan timnya juga telah membuat arsip digital untuk tsunami Fukian, korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki, dan pemanasan global yang menenggelamkan  Kepulauan Tuvalu di Samudera Pasific.

Pria usia 40 tahun tersebut juga sudah membuat arsip digital untuk peta bencana topan yang terjadi di beberapa kawasan. "Peta ini dibuat secara live sehingga bisa diakses publik. Dengan begitu, publik akan mengetahui jika topan tersebut bergerak ke daerahnya dan bisa menyelamatkan diri," katanya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply