Pemilihan Wakil Wali Kota Banda Aceh; Kisah Abadinya Kepentingan

Pemilihan Wakil Wali Kota Banda Aceh; Kisah Abadinya Kepentingan

SAYA bukan warga Banda Aceh. Tapi pemilihan wakil Wali kota amat menarik perhatian saya. Terutama sejak polemik di internal Demokrat. Pertarungan antara Nova Iriansyah dengan Yudi Kurnia. Pertarungan ini kemudian memancing libido PAN mencalonkan Geuchik Zainal.

Kemudian SIRA juga memajukan calon yaitu Ibnu Rusdi. Nama terakhir ini juga kader Demokrat yang namanya juga dikirim ke DPP Demokrat. Tapi yang disetujui hanya Nova dan Yudi. Kasus pemilihan Wakil Wali Kota Banda Aceh memang tidak ada aturan tertulis yang dilanggar. Namun bila mengacu pada pada etika dan moralitas politik kasus ini pengecualian.

Kasus ini jelas tidak mengunakan acuan itu. Sebagai contoh pemilihan wakil Gubernur DKI Jakarta. Pasca Jokowi menjadi presiden dan Ahok menjadi gubernur. Walaupun pasangan ini diusung PDIP dan beberapa partai lain, tapi Jokowi adalah kader PDIP. Sehingga tanpa polemik wakil gubernur mendampingi Ahok langsung diserahkan ke kader PDIP.

Kembali ke polemik pemilihan Wakil Wali Kota Banda Aceh.‎ Karena para partai pengusung mulai bersitegang, maka diadakan-lah konvensi. Partai pengusung terdiri dari Demokrat, PAN, PPP dan SIRA. Konvensi ini dilakukan setelah Nova mundur dari calon yang diusung Demokrat. Maka dari Demokrat tinggal Yudi. Dua calon lagi adalah Geuchik Zainal dan Ibnu Rusdi.

Konvensi ini memperebutkan 8 suara dari 4 partai pengusung. Masing masing partai dapat 2 suara yaitu ketua dan sekretaris. Nah, dalam konvensi ini Yudi Kurnia tersingkir. Dia hanya dipilih oleh Demokrat. SIRA juga memilih calon sendiri yaitu Ibnu Rusdi. PAN melakukan hal yang sama. Suara PPP dibagi kedua orang, yaitu satu untuk Ibnu Rusdi satunya lagi untuk Geuchik Zainal.

Disini mulai terbaca PPP mulai memainkan jurus ‘mabuk’. Bila mengingat histori bahwa Mawardi Nurdin berpasangan dengan Iliza, dan sudah dua periode. Maka tak sepatutnya PPP “kang kang lueng”. Bila suara itu diberikan ke Yudi dan Ibnu Rusdi, maka permainan bukan berakhir seperti hari ini. Maaf ini memang opini saya. Ini sepertinya Ibu Iliza ingin lepas dari bayang masalalu. Beliau tidak mau terbebani utang politik dengan almarhum Mawardi dan Demokrat. Dalam politik, etika akan kalah demi hegemoni atau merebut kemenangan. Dari hasil convensi jelas PPP dengan vulgar mengkhianati Demokrat.

Nah, dalam pemilihan kemarin hal itu jelas sangat terang-terangan. Dari sumber yang saya percayai, mengatakan Iliza menyatakan mendukung Ibnu Rusdi sehari sebelum pemilihan. Rupanya ini bagian jurus ‘mabuk’. Mengapa demikian? Rupanya ini agar PPP bisa mengintip kekuatan Ibnu Rusdi. Dalam kalkulasi awal, Ibnu Rusdi mempunyai 15 suara. Satu suara berasal dari partai pendukung Geuchik Zainal. Tapi kemudian gagal karena dibocorkan ke tim sebelah oleh PPP.

Masih menurut beberapa sumber saya, pagi sebelum pemilihan PPP diperintahkan memilih Geuchik Zainal. Dan Demokrat-pun terpental. Iliza, kini merdeka dari ikatan masalalu dan Demokrat. Romantisme masalalu dengan Mawardi tidak berlaku bagi Iliza.

Dalam pemilihan di DPRK Banda Aceh, Kamis pagi 2 April 2015, Ibnu Rusdi mendapat suara 14. Adapun rinciannya, yaitu Demokrat 5 suara, Nasdem 4, Golkar 3, PKPI 1 dan PDA 1.

Sedangkan Geuchik Zainal memperoleh 16 suara, yaitu dari Partai Aceh 4 suara, PKS 4, Gerindra 2, PAN 3 dan PPP 3.

Ini hasil akhir kemarin. Jelas sudah bagaimana Iliza dan PPP meninggalkan demokrat yang sudah membesarkannya. Ini juga tidak lepas kebodohan Demokrat di awal ketika mereka bertengkar. Momen inilah memberi peluang bagi Iliza mencampakkan mereka.

Saya tak habis pikir bagaimana mungkin ini terjadi. Tapi saya sadar ini politik. Semua halal.

Siapa sangka Iliza yang begitu santun tapi bisa sekejam ini ketika berhadapan dengan kepentingan politiknya.

Saya berharap tulisan ini dibantah oleh para pihak. Agar opini ini jangan dianggap kebenaran. Namun satu hal yang harus dicatat bahwa politik menjadi hal buruk ketika etika dan kalkulasi normatif tidak berlaku.

Tulisan ini tidak bermaksud menyerang siapapun. Saya hanya menulis berdasarkan yang saya tahu melalui pengamatan dan pendengaran saya.

Saya terusik saja dengan kejadian ini. Dan saya tidak mengenal satupun calon itu. Saya cukup mengenal ibu Iliza. Dan saya mengagumi beliau yang selalu tersenyum dalam situasi apapun. Saya juga tak mengenal orang orang partai dan almarhum Mawardi.

Ini memberi saya pelajaran bahwa tidak ada musuh dan kawan abadi di politik. Yang abadi hanya kepentingan. Tapi kita tentu berharap para pemimpin di negeri kita istiqamah dan bisa mengajarkan kita berpolitik yang cerdas dan beretika. []

Leave a Reply