Home Opini Warisan Buruk Hilangnya Nama Zawiyah Cot Kala

Warisan Buruk Hilangnya Nama Zawiyah Cot Kala

93
0
Oleh: Ambo Asse Ajis, SS
BAGAI tersambar petir. Demikianlah ibarat sederhana yang bisa menjelaskan perubahan psikologi Korps Alumni Zawiyah Cot Kala (KOPAZKA) yang masih setia menabalkan nama Zawiyah Cot Kala di belakang nama IAIN Langsa hingga hari ini.
Bisa dikatakan, sebuah kehilangan (atau kekalahan) yang telak, terhidang dengan tanpa tata krama scientifik sedikitpun yang dapat diterima akal sehat sekaligus membenarkan argumentasi terjadinya perubahan nama dari STAIN Zawiyah Cot Kala menjadi IAIN Langsa tahun 2014 lalu tanpa membawa gerbong bernama Zawiyah Cot Kala.
Tetapi, sangatlah tidak mungkin, mereka yang mengurus perubahan status di atas, tidak memahami risiko yang akan terjadi jika dilakukan penghilangan nama Zawiyah Cot Kala dalam label pendidikan IAIN Langsa yang baru.
Menduga 3 Teori Besar (Big Bang Theory)
Dari bincang-bincang cerdas dengan beberapa pemerhati kasus hilangnya nama Zawiyah Cot Kala di atas, setidaknya ada tiga teori yang pernah singgah di pikiran saya terkait kasus raibnya salah satu warisan nama besar lembaga pendidikan Aceh di masa lampau hingga masa kini bahkan di masa depan (jika berhasil dikembalikan tentunya).
Pertama, teori yang mengatakan hilangnya nama Zawiyah Cot Kala terjadi di Kementerian Agama Republik Indonesia. Asumsinya, nama Zawiyah Cot Kala adalah sangat ‘Islami’ dan tidak relevan dengan sistem negara kita yang menganut sistem demokrasi, di mana agama hanya diletakkan dalam wilayah ibadah saja. Argumentasi sederhananya, Aceh masih berada dalam naungan sistem demokrasi dan bukan sistem kekhilafahan Islam.
Kedua, teori yang mengatakan bahwa hilangnya nama Zawiyah Cot Kala terjadi saat pengusulan nama di Kementerian Hukum dan Hak Asazi Manusia (Kemenkunham) Republik Indonesia, di mana ketika itu diperkirakan pihak kementerian menawarkan solusi kepada para pengurus perubahan status nama STAIN Zawiyah Cot Kala. Bisa jadi, solusi yang ditawarkan lembaga tersebut adalah apabila masih menggunakan unsur Islami (Zawiyah Cot Kala) akan menuai kritik kebijakan dan setidaknya pengurusannya akan memakan waktu lebih lama. Karenanya, diperlukan kebijakansanaan para pengurus saat itu untuk menelaah permintaan mereka.
Ketiga, teori yang mengatakan bahwa hilangnya nama Zawiyah Cot Kala akibat kompromi yang dilakukan oleh para pengurus pengusul perubahan nama sebagai bacaan atas kenyataan saran-saran dari lembaga-lembaga yang memiliki power mengubah status. Barangkali pemikiran, “terima aja dulu. Yang penting berhasil dulu, setelah itu nanti diusul ulang” adalah skenario yang bisa disebut “politik aman dari bahaya lidah tak bertulang” yang lebih mementingkan prestasi daripada kegoncangan mental yang pasti terjadi pada diri ribuan alumni Zawiyah Cot Kala.
Cermin Emosional yang Ambiguitas
Alhasil, perubahan namapun terjadi di tahun 2014 dari STAIN Zawiyah Cot Kala
menjadi IAIN Langsa. Keberhasilan perubahan nama inipun disambut senyum semringah penuh kemenangan para pengurus perubahan nama, seolah dunia telah digenggam dan ada romantisme masa depan yang sedang dibayangkan.
Jika saudara mencoba membayangkan suara akalnya, kita tentu akan mudah mendengar suara sumbang yang mengatakan, “sesungguhnya tidaklah menjadi
pekerjaan mudah mengubah status STAIN menjadi IAIN, tetapi kami berhasil melakukannya. Dan, yang pasti ini terjadi pada periode pengurusan kami. Ini adalah momentum. Ini adalah prestasi sekaligus menegaskan kamilah pembawa peradaban baru di kampus IAIN Langsa kebanggan Kota Langsa ini”.
Lalu, bagaimana dengan suara sebaliknya. Suara dari kepedihan; suara kehilangan; suara patah hati atas kenyataan yang menunjukkan nama besar Zawiyah Cot Kala akan segera hilang di telan zaman. Suara itu mengatakan, “hanya perlu satu generasi IAIN Langsa saja, maka nama Zawiyah Cot Kala tidak akan terdengar lagi oleh generasi IAIN selanjutnya” .
Dan, kesedihan itu pun menjadi api di tahun 2014. Tanpa dikoordinir, massa alumni STAIN Zawiyah Cota Kala yang tersadar, mengelaborasi diri menjadi energi yang hendak mempertanyakan, menggugat dan meminta pertanggungjawaban mereka yang tega membunuh warisan nama besar lembaga pendidikan tertua di Aceh itu. Selanjutnya, perang dinginpun pecah di kalangan kampus yang sudah berubah menjadi ladang-ladang ranjau kebencian.
Pelajaran yang bisa diperoleh 
Debat kusir atas dugaan kesengajaan penghilangan nama Zawiyah Cot Kala, bisa
dipastikan, tidak akan pernah bisa dihentikan sampai kiamat terjadi. Barangkali ini adalah kutukan yang dibawa oleh para pengurus yang sudah sukses membawa perubahan nama STAIN menjadi IAIN. Paling jelek, kutukan ini akan menjadi hantu gentayangan yang akan selalu membayangi sejarah IAIN Langsa ke depan. Meskipun para alumni IAIN Langsa berikutnya tidak mengetahui alasan penghilangan nama Zawiyah Cot kala, tetapi, alumni KOPAZKA (yang
akan segera berubah nama) akan selalu ingat dan menguras mimpi-mimpi indah mereka selama menempuh pendidikan di taman Zawiyah Cot Kala.
 Tetapi yang bisa dipastikan, dosa-dosa sejarah yang dilakukan oleh para pengurus yang terlibat penghilangan nama Zawiyah Cot Kala di IAIN Langsa, akan selalu dikenang sebagai pembunuh warisan sejarah Aceh dan mereka layak mendapatkan tempat terburuk dalam ingatan intelektual. Mengapa, karena harga yang harus dibayar generasi IAIN Langsa selanjutnya adalah
mereka adalah produk generasi tanpa spiritisme Zawiyah Cot Kala yang telah berabad-abad tumbuh subur dalam sanubari pencinta Ilmu-Ilmu Islam di Aceh —yang kontribusinya tak terperikan dalam menghasilkan alumni-alumni kaliber internasional sejak dahulu kala.
Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa Zawiyah Cot Kala, bukan hanya sebuah nama benda, tetapi ia adalah jejak produktif peradaban Islam yang menjadi sumber primer mengapa Aceh digelari Serambi Mekkah. Karena itulah, menjadi masuk akal para alumni KOPAZKA bergerak menuntut dikembalikannya nama Zawiyah Cot Kala, sebab menghilangkan nama Zawiyah Cot Kala sama dengan mematahkan salah satu pilar sejarah Aceh Serambi Mekkah. Dan, dipastikan ini adalah kejahatan intelektual yang pelakunya mesti dirajam secara sosial kapanpun keadilan hendak ditegakkan. Wallahu A’lam.[]
Penulis adalah pemerhati sejarah. Saat ini bekerja sebagai Petugas Kurator Museum Kota Langsa pada Disporabudpar Kota Langsa