Home Opini Tanda-Tanda Kegagalan Mualem

Tanda-Tanda Kegagalan Mualem

92
0

MALAM itu, saya punya dua ajakan. Pertama, ajakan menghadiri acara Kaukus Pembangunan Berkelanjutan Aceh (18/9). Kedua, ajakan silahturahmi dengan kandidat gubernur Aceh, Mualem.

Tadinya, saya ingin menghadiri sidang terbuka Kaukus. Di sana para anggota DPR Aceh dan aktifis lingkungan hidup bertemu. Pasti ada banyak diskusi menarik, dan sayapun ada kemungkinan bisa menyampaikan gagasan atau masukan.

Tapi, akhirnya saya memilih untuk memenuhi ajakan sahabat saya, Tengku Jamaica, bersilahturahmi dengan Mualem. Kenapa pilihan jatuh menemui Mualem, yang sudah menyatakan kesiapannya menjadi calon gubernur Aceh?

Salah satu alasan saya adalah untuk menemukan alasan penguat peluang kemenangan Mualem. Ukuran saya mungkin agak aneh. Saya tidak menggunakan indikator “surat tupe” alias dukungan para pihak kepada Mualem, melainkan menemukan potensi diri yang ada pada Mualem untuk saya lihat dari perspektif demokrasi baru yang lebih dirindui rakyat yaitu makin dialogis, makin partisipatif, makin merakyat, dan makin digital dengan menjadikan spiritualitas sebagai basis perubahan.

Mengapa indikator potensi diri yang menarik perhatian saya? Jujur, ini ada kaitannya dengan perkembangan pembangunan dan demokrasi di Bojonegoro yang oleh Otto Scharmer disebut sebagai demokrasi baru bagi dunia.

Karena itu, sebelum bertemu Mualem, saya sudah mempelajari kunci-kunci utama yang dimiliki oleh sang penggerak pembangunan dan demokrasi di sana, yaitu Bupati Bojonegoro, Suyoto, yang akrab disapa Kang Yoto.

Petuah pertama yang diberikan kepada saya oleh Mualem adalah “beu gleh nit.” Terus terang, petuah ini membuat saya sangat gembira. Soalnya, saya pernah membaca kekuatan niat baik yang oleh Kang Yoto dipresentasikan dihadapan 280 peserta dari 28 negara dalam pertemuan Global Forum, USA, Februari 2014.

Menurut Kang Yoto, dia percaya dengan kekuatan niat baik dari semua yang terlibat. Niat itulah yang membukakan berbagai kemungkinan yang lebih baik terbentang di hadapan kita masing masing dan saling mencari pasangannya untuk menghasilkan hal baik bagi kehidupan sesama.

Jadi, ajakan Mualem untuk membaguskan niat saya sambut gembira. Membangun Aceh, pada akhirnya memang harus kembali kepada basis spiritualitas orang Aceh, yang menempatkan niat baik sebagai kunci awal segala daya upaya.

Atas dasar inilah saya punya keyakinan bahwa model kepemimpinan Mualem akan diarahkan untuk lebih dekat secara langsung, nyambung, dan saling belajar dengan rakyat guna menggapai sukses yang membahagiakan semua, khususnya rakyat.

Itu artinya, sebagai calon gubernur Mualem akan lebih banyak mendengar dan menyelami serta mengetahui secara langsung apa yang dibutuhkan rakyat. Bukan rakyat yang harus memahami apa yang dibutuhkan oleh Mualem terkait Aceh.

Untuk itu, yang saya bayangkan adalah Mualem akan lebih banyak turun langsung bertemu rakyat. Mualem akan mengabaikan semua masukan mereka yang kerap mengatasnamakan rakyat, seperti partai politik. Jikapun Mualem mendengar sejumlah tokoh yang secara real memiliki basis dukungan sosial politik di masyarakat, tapi sebagai calon Mualem akan bersedia berlelah fisik dan pikiran guna menyerap semua masukan langsung rakyat guna mengetahui apa yang dibutuhkan rakyat.

Dengan kata lain, kunci kepemimpinan Mualem bukan lagi kepemimpinan partai politik, melainkan kepemimpinan rakyat yang pada akhirnya juga akan berkerja dengan dukungan penuh rakyat bila nanti dipercaya menjadi Gubernur Aceh.

Parpol dan wakil rakyat beserta birokrasi akan diajak untuk meringankan tugasnya sebagai pemimpin guna mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh rakyat sebagaimana yang telah dicernanya sejak dalam perjalanan pencalonan.

Apa keuntungan bila Mualem memperkuat akar politiknya langsung ke rakyat di akar rumput? Bukan malah mendekat ke parpol? Biaya politik yang makin murah. Inilah kuncinya. Politik yang makin mahal karena uang maupun mahar politik lainnya hanya akan membuat Mualem terperangkap dalam bayar hutang budi politik. Dan, pengeluaran politik paling beresiko adalah ketika Mualem terikat dengan politik transaksi dengan partai politik.

Sebaliknya, bila Mualem mengikat diri sepenuhnya dengan rakyat, bukan hanya dukungan politik rakyat yang akan diperoleh Mualem tapi juga dukungan politik dari parpol dan wakil rakyat beserta birokrasi yang bisa diarahkan untuk memenuhi hajat kebutuhan rakyat.

Pesan kedua Mualem adalah bersatu saja belum tentu berhasil membangun Aceh, apalagi bercerai berai. Pesan ini, lagi-lagi menjadi kunci dari model demokrasi baru yang sedang dibutuhkan dunia, khususnya mereka yang makin sadar bahwa tidak ada kebaikan sama sekali dibalik perseteruan yang menjatuhkan, mematikan, apalagi membunuh kesempatan orang untuk berkembang, minimal berkiprah bagi negeri dan rakyat.

Pesan kedua Mualem itu membangun gambaran politik bahwa Mualem akan memilih mendekat dengan orang-orang atau pihak-pihak yang sadar bahwa konflik, perseteruan, dan permusuhan adalah sumber bencana bagi pembangunan Aceh.

Salah satu kunci sukses, menurut Kang Yoto adalah kesadaran untuk berteman dengan orang-orang yang punya mental sukses, bukan mereka yang bermental gagal. Orang sukses bukan mereka yang tidak pernah gagal atau salah, melainkan mereka yang selalu mau berkerja keras, tanpa disertai sikap benci, menjatuhkan, dan mematikan orang lain. Orang salah berbeda dengan orang jahat. Orang jahatlah yang mesti dihindari karena motifnya hanya mencari keuntungan. Apapun akan dilakukan demi keuntungan, termasuk “mematikan” saudaranya. Jika saudaranya saja sikorbankan, apalagi orang lain.

Dua tanda itu saja, niat baik dan persatuan dengan rakyat sudah menjadi indikator bagi saya untuk melihat peluang kemenangan bagi Mualem. Tentu saja bila kedua sikap dasar Mualem ini bisa diterjemahkan oleh tim suksesnya. Sebaliknya, bila orang lingkar Mualem tidak cerdas menterjemahkan dan mewujudkan sikap politik Mualem, maka inilah tanda-tanda kegagalan Mualem. []

*Penulis adalah warga Ulee Kareng