Simeulue Tanah Harapan

MELIHAT Simeulue dari udara, seperti melihat untaian pinggiran lukisan tumpah warna biru. Biru laut luas kontras dengan biru pinggir pantai. Sepanjang pinggiran pantai birunya seperti tumpahan cat warna biru.

Dari udara sepanjang pandangan mata kita akan kehabisan kata untuk mengungkapkan. Ada laut dangkal biru kontras antara dua pulau. Terlihat jelas dasar laut dengan garis-garis kontras kebiruan. Ada juga sejumlah pulau karang yang menguning.

Menurut warga di sana, pulau karang itu muncul pascatsunami. Karena daratan Simeulu naik ke permukaan sehingga muncul daratan baru. Sekda Simeulue, Drs Naskah, mengatakan ada 20 lebih pulau baru muncul di daerahnya setelah tsunami melanda.

Di sepanjang pinggir pantai gerombolan kerbau amat banyak. Simeulue terkenal dengan ternak kerbaunya.

“Kerbau Simeulue termasuk jenis kerbau yang sudah diakui secara nasional,” kata Naskah.

Menurutnya sangat mungkin Simeulue dikembangkan menjadi penghasil kerbau. Pulau seluas lebih 2000 KM persegi ini termasuk jarang penduduknya. Apalagi ada sejumlah pulau lain yang kini belum berpenghuni.

Dalam pesawat yang penulis tumpangi, Senin, 14 September 2015 lalu, sejumlah bule juga ikut dalam penerbangan itu. Ternyata di sejumlah pulau dan kawasan pantai Simeulue sudah berdiri banyak resort wisata.

“Pemiliknya bule yang kadang menikah dengan warga di sini, status kepemilkan tanah atas nama warga lokal,” ujar Sekda.

Dia mengatakan pemerintah Simeulue akan segera mengantisipasi penguasaan ruang publik oleh korporat atau pribadi.

“Kita tidak mau seperti pantai Sanur di Bali yang hanya bisa diakses kaum berduit,” jelasnya.

Meskipun begitu, pariwisata Simeulue kian berdenyut yang turut meningkatkan pendapatan rakyatnya. Seperti peningkatan harga hasil laut seperti lobster.

Seperti diketahui, Simeulue merupakan negeri kedua Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti. Susi punya penangkaran lobster di sini.

“Saat ini kami juga dapat beberapa program dari kementrian buk Susi untuk nelayan di sini,” kata Sekda.

Alam Simeulue memang elok. Rumah rakyat umumnya berada sepanjang jalan besar. Indahnya rumah-rumah itu membelakangi hutan alam yang lebat. Jadi kita seperti berada di villa di tengah hutan.

Menurut warga walaupun mereka memiliki tanah hutan itu, tapi mereka tidak menebang pepohonan di sana. “Pemerintah di sini juga meminta agar masyarakat menjaga hutan,” ungkap salah satu warga Air Dingin Kemuning, Sinabang.

Bahkan warga masih menampung air di celah-celah bukit di samping rumahnya. Simeulue adalah tanah harapan, bukan hanya lobster dan isu penemuan gas bumi dalam jumlah besar. Negeri ini menjanjikan sejuta harapan. Tergantung pemerintah setempat bagaimana agar fokus mengekploitasi potensinya. Tentu saja dengan menghindari ekploitasi alam atau hutan yang berlebihan.

Banyak yang menyarankan agar Simeulue lebih baik meningkatkan potensi yang ada seperti laut, kelapa dan peternakan kerbau. Dari pada menjual alam indahnya untuk diekploitasi pemodal besar. Pemberdayaan rakyat juga diharapkan bisa sesuai dengan kearifan lokal. Bukan memaksa masuk modal yang malah membuat rakyat terpinggirkan.

Butuh kerja keras dan cerdas dari pemerintah setempat. Pimpinan di sana harus kreatif dan mau keluar dari kotak rutinitas penyelenggaraan pemerintah. Saat ini sepertinya aparatur pemerintah di sana masih perlu dididik jadi pelayan. Sebab, sepertinya reformasi pelayanan belum menjalar kemari.

Buktinya terlihat saat penulis bertandang ke kantor Bupati Simeulue pada Kamis, 17 September 2015. Sampai pukul 09.00 WIB lebih, kantor bupati masih “mati suri”. Di lantai pertama hanya ada satu staf di Bagian Organisasi dan satu staf di Bagian Umum.

“Biasanya cepat pak, mungkin karena hujan,” ujar staf di Bagian Umum yang terlihat sedang main game di komputer. Bila begini, maka semua potensi daerah akan berkembang sendiri. Minim peran pemerintah. Maka butuh puluhan tahun lagi daerah ini untuk maju.[]

Foto: Salah satu pulau Simeulue terlihat dari udara. @Adi Gondrong

Leave a Reply