Home Opini Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

148
0

“Saya sudah menjadi nakhoda Golkar, dan kalian semua ada dalam pikiran dan hati saya. Nanti, giliran kalian yang membawa Golkar, apakah saya juga ada di hati dan pikiran kalian?” — Sulaiman Abda

+++

MALAM itu, usai salat isya saya makan malam bersama Sulaiman Abda, di rumahnya. Sebelumnya, kami baru saja kembali dari kunjungan silahturahmi ke Dayah MUDI, Samalanga, Kamis, 17 September 2015.

Di meja makan, hanya ada nasi putih dan ikan lado. Bang Leman, panggilan akrab Sulaiman Abda, hanya mengambil sedikit nasi. Lalu beliau mengajak saya untuk ikut makan. “Jak pajoh bu, Man (ayo kita makan, Man).”

Saya hanya mengangguk. Selebihnya, mata saya memperhatikan wajah Bang Leman. Kelihatan lebih segar dibanding setahun lalu, saat Bang Leman masih sebagai Ketua Golkar.

Sejenak saya jadi kepikir angka kepercayaan rakyat yang diperoleh Bang Leman di Dapil I pada Pileg 2014. Jika tidak salah, sekitar 17 ribuan. Ini bukan angka kepercayaan yang sedikit. “Man, ka pajoh laju bu,” ujar Bang Leman lagi.

Saya mencoba menepis ingatan soal Golkar. Tapi, tidak bisa. Padahal, sebelumnya saya sudah memaklumkan untuk tidak dahulu bicara Golkar, sampai badai konflik hukum di tubuh Golkar benar-benar berlalu.

Sambil mengambil nasi dan menaruhnya di piring, saya kembali melirik sosok Ketua Golkar Aceh yang dilantik 17 Januari 2010 itu. Saat itu, Bang Leman menggantikan Sayed Fuad Zakaria yang terpilih sebagai anggota DPR RI.

Sosok yang sedang berada di hadapan saya ini bukan orang baru, apalagi sekedar penumpang gelap di Golkar. Sebelumnya, selama dua periode Sulaiman Abda duduk di posisi Wakil Ketua.

Rintisan jalannya menuju pucuk pimpinan Golkar Aceh benar-benar merangkak dari bawah. Usai berkhitmad di KNPI, Bang Leman masuk Golkar. Beliau ditempatkan di Biro Pemuda Golkar Aceh tahun 1994.

Baru delapan tahun kemudian Bang Leman berhasil duduk di jajaran Wakil Ketua. “Sangat dramatis. Kalau sekarang, hanya dalam sejenak posisi strategis di Golkar bisa didapat,” bisik hati saya.

Sejenak sayapun jadi mengingat diri sendiri. Saya masuk Golkar usai Sulaiman Abda terpilih sebagai Ketua Golkar, Desember 2009. Bang Lemanlah yang berhasil “menaklukkan” saya untuk bergabung di Golkar. Oh ya, juga Bang Husein Banta.

Sungguh, awalnya saya pernah membuat surat pengunduran diri. Tapi hanya sampai di meja sekretariat. “Nanti saya bicara dulu dengan ketua,” kata Taufik kala itu.

Akhirnya saya tidak jadi keluar. Saya diberi kesempatan untuk memperbaiki tata kelola Golkar agar lebih terbuka, lebih akomodatif terhadap kader muda dan kader perempuan.

Buahnya, Golkar Aceh mendapat penghargaan keterbukaan Informasi dari Komisi Informasi Aceh, Desember 2014. Sayapun diberi kepercayaan untuk mengelola pendidikan politik bagi anak-anak muda, dan diberi kepercayaan menata Golkar agar lebih responsif gender.

Bagaimana nasib Golkar di tangan sosok kelahiran Geulumpang Payong, Pidie ini? Apakah “partai beringin” ini mati di tangan Sulaiman Abda?

Sulaiman Abda diwarisi Golkar Aceh dalam posisi kursi yang turun drastis, 59 kursi DPRK, 8 kursi DPRA, dan 2 kursi DPR-RI. Ini perolehan kursi hasil Pileg 2009.

Pada Pileg 2014, Sulaiman Abda berhasil menaikkan angka kursi Partai Golkar menjadi 80 kursi DPRK di kabupaten/kota. Kader Golkar berhasil meraih lima kursi ketua DPRK dan tujuh kursi pada posisi Wakil Ketua DPRK.

Di samping itu, juga sukses meraih 9 kursi  DPRA dan 2 kursi untuk DPR-RI. Ini hasil Pileg 2014 di bawah kepemimpinan Sulaiman Abda. Posisi Golkar nomor dua setelah Partai Aceh. Golkar Aceh berhasil bertahan dari “serbuan” parnas baru, Nasdem yang sejak kemunculannya banyak menarik perhatian publik.

Lebih dari itu, khusus untuk DPRA, 4 dari 9 kursi yang diraih Partai Golkar diisi oleh perwakilan perempuan, yaitu Fauziah, Yuniar, Nuraini Maida, dan Nurlelawati.

“Ini pengabdian terakhir saya untuk rakyat melalui DPR Aceh,” katanya suatu waktu usai dilantik sebagai anggota DPRA.

Kala itu, Bang Leman menegaskan hanya akan mengabdi sepenuhnya untuk Aceh. “Saya sudah menjadi milik Aceh, dan saya ingin pengabdian terakhir sebagai anggota DPR Aceh benar-benar bermanfaat untuk Aceh,” katanya kala itu.

Pernyataan itu, menurut Bang Leman adalah kunci kebangkitan Golkar Aceh. Golkar Aceh hanya mungkin dipercaya rakyat manakala kadernya mengabdi penuh untuk Aceh. Golkar jangan sampai dianggap parnas asing, dengan kepentingan asing. Golkar Aceh mesti bermanfaat bagi Aceh.

“Ini kunci kemenangan Golkar di Pilkada dan Pileg nanti,” kata Bang Leman saat itu.

Sayangnya, turbulensi politik di Golkar pusat akhirnya menyeret kader-kader Golkar di daerah ke dalam dua kubu hasil Munas, yang saling bertentangan.

Tragisnya, hasil “ijtihad” politik Bang Leman yang memilih bergabung dengan kubu Munas yang diakui pemerintah membuat pihak pendukung kubu Bali berang. Dan, melalui putusan DPP Golkar hasil Munas Bali nomor 27/DPP/Golkar/2015 Sulaiman Abda dipecat sebagai kader Golkar. Tragis!

Kini, buntut pemecatan mulai bercabang. Sulaiman Abda sudah diusul Pergantian Antar Waktu (PAW). Sebegitu besarkah dosa politik Bang Leman sehingga hukumannya bagai hukuman mati? Pemecatan sebagai kader sama artinya seperti hukuman mati karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat sesuatu kepada rakyat melalui partai. Lebih dari itu, mengapa Bang Leman dipecat sebagai kader? Dan, mengapa sampai terburu-buru dan mengabaikan proses politik dan hukum yang sedang berjalan?

Mengapa untuk agenda Pilkada kedua belah kubu bisa berdamai dalam mencalonkan kadernya dari kedua belah pihak, sedangkan untuk pemecatan tidak dibangun kesepahaman sebelum diambil tindakan? Ada apa di balik percepatan pemecatan Sulaiman Abda sebagai kader Golkar?

Lagi pula, “ijtihad” politik Bang Leman berkenaan dengan tugasnya sebagai anggota DPR Aceh dan bukan semata sebagai pengurus. Mungkin ia berpikir, jika keanggotaannya sebagai wakil rakyat tidak bersandar pada badan hukum yang diakui pemerintah maka tindakan politiknya di DPR Aceh tidak memiliki kekuatan legalitas.

Mungkin ini menjadi dasar ia berpindah kubu. Itu artinya, bila kubu Bali yang diakui oleh pemerintah, tentu Sulaiman Abda akan bertahan di kubu Bali. Intinya, penghargaan atas ruang kader untuk berpikir mestinya dihormati kecuali bila ijtihad politiknya berpindah ke lain partai politik. Tapi, apa yang dilakukan oleh Bang Leman masih dalam lingkungan berwarna kuning.

Pingin rasanya bertanya kepada Bang Leman soal pemecatan dan PAW yang dilakukan oleh kubu Munas Bali. Tapi, saya urungkan. Pasti beliau akan jawab, “Saya bukan di kubu Munas Bali. Tapi di kubu Munas Ancol yang disahkan pemerintah. Bila saya dipecat oleh Kubu Ancol baru saya bisa bereaksi,” duga saya mencoba membaca pikiran Bang Leman.

Lebih dari itu, Bang Leman akhir-akhir ini memang sedang larut mengabdi kepada Aceh. Beragam peristiwa politik di Aceh yang “memanas” menuntun hati dan pikirannya untuk ambil bagian dalam usaha membawa Aceh kembali ke suasana yang diharapkan semua.

Tidak mudah memang. Karena itulah, Bang Leman terlihat sibuk melakukan silahturahmi ke berbagai pihak. Bang Leman sangat yakin bila silahturahmi dilakukan, perbedaan bisa diselesaikan dengan baik. Untuk langkah ini, dengan sangat sabar Bang Leman melakukannya.

Langkah silahturahmi yang dilakukan oleh Bang Leman juga wujud dari penghormatan Bang Leman terhadap seluruh tokoh. Semua dihormati dan ditempatkan dalam posisi terhormat. Tidak ada satupun sosok tokoh yang ingin dilihat kekurangannya. Setiap kali berbincang dengan Bang Leman maka potensi kebaikan sang tokohlah yang mengalir dari suaranya. Itulah Bang Leman, sosok yang tidak pernah lelah membangun komunikasi, dengan siapa saja. []