Home Opini Saat Himbauan Gubernur Dianggap Angin Lalu

Saat Himbauan Gubernur Dianggap Angin Lalu

43
0

GUBERNUR Zaini berkomat-kamit tak karuan. Suaranya tak jelas terdengar. Demikian juga dengan pesan yang disampaikan. Volume suaranya kalah dengan deru mesin kendaraan yang melintas di Jalan T. Nyak Arif, Jumat 3 Juli 2015.

Ya, suara orang nomor satu di Aceh itu seolah dianggap ‘angin lalu’ oleh para pengguna roda dua yang menyemut di lampu merah kompleks PKA Taman Ratu Safiatuddin, tepatnya di Simpang Stadion Lampineung.

Gubernur Zaini sebenarnya tak sendiri. Ada istrinya Niazah A. Hamid yang sepertinya juga menyampaikan pesan penting, tapi tak juga terdengar. Demikian juga dengan Teuku Wisnu dan Anya Dwinov, artis nasional yang sepertinya mengampanyekan isu yang sama dengan Gubernur Zaini dan Niazah A. Hamid.

Di sana, hanya terlihat mulut mereka yang berkomat-kamit. Ya, hanya gambar mereka yang terlihat di papan reklame televisi dalam ukuran besar. Ukurannya kira kira 2×4 meter. Televisi reklame milik Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh.

Apa yang aneh dengan media promosi itu?

Mengacu nomenklatur dinas ini sasarannya jelas. Dari namanya saja sudah tahu siapa sasaran badan ini. Cobalah berdiri dan lihat display yang tampil di televisi raksasa itu. Berbagai anjuran kepada masyarakat. Misalnya menghindari bahan pangan yang terkontaminasi pestisida dan mikroba. Ada seruan pemanfaatan lahan pekarangan. Ada juga anjuran-anjuran untuk memotivasi para penyuluh.

Sayang, sejumlah orang yang tampil di sana, hanya mulutnya terlihat komat kamit. Tidak jelas apa yang disampaikan. Konon lagi disampaikan di tepi Jalan T Nyak Arif yang terkenal padat.

Dalam video itu sejumlah tokoh muncul. Mulai petani, guru, masyarakat, Kabid dinas tersebut. Ada juga Kepala Badan Ir. Iskandar. Televisi raksasa ini seperti ajang mencari muka.

photo 1

Televisi ini juga menjadi semacam infotainment artis. Pasalnya ada artis Teuku Wisnu dan Anya Dwinov di sana. Semua mereka seperti berbicara kepada penonton. Tapi jangankan untuk mereka yang sedang berkendara, penulis yang berdiri di bawah televisi itu saja yang mengambil foto tidak bisa mendengar apa yang sedang disampaikan mereka. Entah apa yang ada di benak SKPA saat mengadakan proyek semewah ini. Pesan yang disampaikan tidak bersentuhan dengan target audiens. Padahal belum tentu mereka yang melewati jalan tersebut membutuhkan informasi yang disampaikan itu.

Televisi besar ini bukan hanya ada di jalan T Nyak Arif. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP Luh) juga memasang televisi di Pasar Lambaro dan di depan pertokoan Beureunuen. Namun kedua televisi di lokasi ini ukurannya lebih kecil.

Di display TV di Pasar Lambaro juga tampil salah satu pimpinan SKPA. Sedikit anjuran macam-macam. Lainnya tampil harga-harga kebutuhan pokok. Seperti cabai, bawang, telor dan daging. Lucunya harga harga itu tidak sesuai dengan harga di pasar.

Misalnya harga daging di display itu adalah Rp 130 ribu. Tapi saat penulis menanyakan ke salah seorang pembeli daging, ia mengatakan harga daging Rp 110 ribu sampai Rp 115 ribu perkilonya.

Sementara televisi di jalan negara di depan pertokoan Beureunuen tidak hidup pada Jumat, 3 Juli 2015. Proyek ini diduga bernilai miliaran rupiah. Dan inilah model pemanfaatan APBA. Yang penting ada proyek. Apalagi bisa untuk ajang cari muka ke pimpinan. Tak penting bermanfaat bagi rakyat.

Kembali ke soal tupoksi BKP Luh. Seharusnya anjuran atau larangan pemakaian pestisida pada produk hasil pertanian disampaikan ke petani penghasil. Tentu dengan solusi pengganti pestisida. Jika makanan tercemar mikroba bagaimana konsumen seperti kita menghindari.

Bagaimana kita tahu sayur tidak menggunakan pestisida atau tidak tercemar mikroba. Tugas badan ini adalah meningkatkan ketahanan pangan melalui penyuluhan. Jadi apa korelasinya seruan peningkatan kinerja penyuluh untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Bagaimana kita memastikan jumlah penyuluh yang membaca, mendengar atau melihat televisi raksasa itu setiap harinya? Apakah pencetus proyek ini tidak pernah berpikir buat apa seruan yang dibaca. Siapa yang bisa mendengar? Sementara mereka tidak menggunakan pengeras suara. Lagipula ketiga televisi itu dipasang di dalam kota. Apakah disitu sasaran kerja mereka?

Televisi terbesar dipasang pas di lampu merah dan tanjakan menjelang jembatan, di samping pagar kantor gubernur. Maka patut diduga ini proyek cari muka. Agar setiap gubernur atau wakil gubernur lewat melihat. Dan mereka akan bangga karena tampil di televisi yang dilihat pengguna jalan tiap saat. Lucunya wakil gubernur hanya tampil sekilas berupa foto saja. Beda untuk gubernur dan istrinya.

Tampil di berbagai foto dan ada komat kamitnya. Begitu juga soal artis kenapa pilihan nya jatuh ke Artis nasional Teuku Wisnu dan Anya Dwinov. Sekelebat juga tampil putri Aceh bernama Cut Nyak Dhien. Jadi jangan heran uang berlimpah tapi kemiskinan tetap merajalela di Aceh. Pejabat bukan bekerja untuk rakyat. Tapi untuk mancari rente dan mencari muka ke pimpinan agar posisi basah menjadi langgeng. []