Home Opini Peluang Bisnis Batu Giok Lokal

Peluang Bisnis Batu Giok Lokal

100
0

SEIRING dengan boomingnya batu permata seantero Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke, maka peredaran batu permata impor seperti safir, rubi, topas bahkan batu zamrud semakin meredup.

Namun sebaliknya batu permata lokal seperti Bacan Halmahera (Crisocola Calsedoni), Batu Garut (Crusoplast Calsedoni), Sungai Dareh Padang (Idocrase), Lumut Aceh (Idocrase), Solar Aceh (Hydrogrosular Garnet), Fire Opal (Carnelian), Kalimaya Banten (Opal/Carnelian), Red Raflesia Bengkulu (Calcedoni), Red Baron Pacitan (Calcedoni), serta King Oby Maluku dan lain lain batu nusantara semakin diminati oleh rakyat pribumi.

Ini menyentak hampir seluruh bangsa Indonesia yang konon saat ini berpenduduk hampir 200 juta lebih.

Fenomena hebohnya batu permata lokal ini oleh banyak kalangan yang juga pemerhati kegiatan bisnis sekaligus hobby, mencoba mengaitkan dengan mencuatnya kasus bunga gelombang cinta (antorium) beberapa tahun lalu. Demam bunga gelombang cinta berakhir dengan kerugian besar bagi banyak pelaku bisnis.

Padahal saat itu populasi sudah mulai banyak tapi pembeli menghilang dari muka Bumi. Pemikiran itulah yang menjadi banyak pembinis atau investor yang berkeinginan untuk menginvestasikan modalnya di bisnis batu permata lokal untuk lebih berhati-hati.

Hal ini juga akan menjadi salah satu penyelamat hutan lindung dari para pemburu batu permata lokal, yang setiap saat keluar masuk hutan belantara untuk mencari bahan batu permata lokal.

Gema permata batu lokal ini tentunya akan terus bertahan sampai 5-10 tahun yang akan datang. Pertimbangannya adalah jumlah penduduk Indonesia yang dua ratus jutaan lebih merupakan potensi pasar yang sangat besar sebagai pemakai (user).

Selain itu, harga dan kualitas batu permata lokal sudah terbukti masih terjangkau oleh ukuran penghasilan masyarakat Indonesia. Hal ini menumbuhkan semangat ego sektoral yang memunculkan komunitas-komunitas batu permata lokal hampir di seluruh pelosok negeri. Kondisi tersebut juga menjadi iklan gratis bagi masyarakat yang tadinya belum tertarik untuk memakai asesoris.

Keterbatasan bahan baku dengan kualitas bagus yang sangat terbatas membuat beberapa kalangan, terutama pecinta batu permata lokal untuk melakukan investasi di bidang ini. Hal tersebut membuat beberapa harga batu permata lokal yang berkualitas tinggi tetap terjaga dengan baik.

Pertimbangan lainnya adalah bangkitnya home industry dengan bahan baku batu permata lokal yang memproduksi cincin, liontin, gelang dan anting serta asesoris lainnya. Produksi ini tentunya membutuhkan bahan baku berupa batu permata lokal dalam jumlah besar.

Selanjutnya, masuknya investor luar yang ikut membeli bahan baku atau bahan setengah jadi untuk diekspor ke luar negeri.

Dasar pertimbangann itulah maka gema batu permata lokal ini pasti akan terus berjaya sampai beberapa tahun ke depan. Saat ini, di sektor ini sangat banyak menyerap tenaga kerja bahkan hampir setiap pelosok bermunculan pebisnis baru. Fenomena tersebut turut mewarnai suasana masyarakat yang ditambah lagi dengan banyaknya event-event yang diprakarsai oleh para gemslover nusantara untuk melakukan kontes-kontes hasil kerajinan batu. Bahkan, kontes tersebut dilaksanakan hampir serentak di seluruh pelosok tanah air dengan menampilkan batu permata lokal seperti Opal Bau Bau, Fire Caldoni Lampung, Serventin Aceh dan Teratai Jambi.

akik

Ilustrasi pembeli batu. @antaranews.com

Setelah melihat peluang yang demikian besar maka untuk menjadi pemula di bisnis batu permata lokal ini juga tidak mudah. Hal ini lantaran banyak sekali spekulan yang ingin memulai bisnis batu harus gigit jari alias rugi. Ini disebabkan kemampuan untuk memahami batu permata lokal yang cocok untuk dijadikan asesoris berkualitas tidak mudah.

Adapun yang harus diperhatikan untuk mendapatkan batu permata lokal yang bagus adalah:

1. Jenis batu

Batu permata pada saat ini dibagi dengan berbagai jenis berdasarkan kandungan kimia karbon yang ada di dalam batu itu sendiri. Hal ini bisa diketahui melalui proses di laboratorium gemologi yang ada, sehingga batu permata dibagi menjadi banyak jenis. Di antaranya adalah amber, seventin, jade, garnet, topas, safir, rubi, calcedoni, zamrut dan lain lain.

2. Kekristalan batu

Dalam proses pembentukan batu yang mengandung karbon tentunya banyak zat senyawa lainnya yang ikut di dalamnya, sehingga ini akan mempengaruhi kekristalan batu yang biasanya dilihat dengan menggunakan senter. Semakin kristal batu yang didapat tentunya akan semakin mudah untuk diproduksi menjadi bahan asesoris yang berkualitas.

3. Kekerasan batu

Tingkat kekerasan batu yang diukur dengan skala mosh, salah satu alat hasil penemuan dari gemologis negara Jerman. Skala ini hanya dari 1 sampai 10. Dalam hal ini, tingkat kekerasan batu akan semakin baik dipakai dan indah apabila tingkat kekerasan batu sudah mendekati sepuluh. Namun biasanya batu permata lokal hanya berkisar di antara 4 sampai dengan 7 skala mosh, kecuali batu ruby Kalimantan yang kekerasannya sudah di atas 9 skala mosh.

4. Warna  batu

Warna batu sangat mempengaruhi nilai jual suatu asesoris. Dalam hal ini, latar belakang negara asal dan tempat tinggal serta warna kulit pemakai juga akan mempengaruhi keindahan suatu asesoris. Misalnya untuk daerah Asia yang lebih menyenangi warna hijau, untuk Eropa lebih senang dengan warna kuning dan kecoklatan sementara Amerika dan Afrika lebih senang dengan warna merah dan hitam. Untuk daerah Arab Saudi dan sekitar, lebih menyukai warna yang putih dan tentunya batu permata lokal nusantara pasti mempunyai warna warni yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.

5. Keunikan batu

Batu gambar (agate picture) dan batu bentuk unik (sueseki) merupakan sebuah fenomena baru di dunia gemslover. Kelangkaan batu tersebut mempunyai nilai tersendiri yang ditentukan oleh yang mengoleksi batu gambar. Misalnya batu gambar kereta kencana yang saat ini dihargai miliaran rupiah. Begitu pula dengan batu suiseki yang berupa pohon beringin, yang nilanya juga sampai ratusan juta rupiah.

pengasah batuFaktor keberuntungan merupakan hal yang paling utama untuk mendapatkan  batu permata dengan tipe seperti ini.

Sebagai pebisnis pemula yang tentunya berasal dari berbagai pengalaman pekerjaan dan pendidikan, sebaiknya ada beberapa alternatif yang bisa dipilih sesuai dengan kemampuan keuangan dan talenta pribadi sehingga bisnis di batu permata lokal bisa berhasil dengan baik.

1. Pencari batu

Para pencari batu merupakan kelompok dengan modal yang sangat rendah, mengingat pada saat ini kawasan wilayah yang menghasilkan batu permata lokal masih berupa hamparan. Setiap warga bisa melakukan aktivitas ini hanya bermodalkan bekal makan siang dan palu. Resiko yang dihadapi adalah berhadapan dengan binatang buas di hutan dan kemungkinan tersasar di hamparan kawasan hutan yang dilalui. Dianjurkan apabila memilih profesi ini, sebaiknya membawa bekal yang cukup dan berkelompok sehingga bila ada sesuatu kejadian yang tidak diharapkan selalu bisa diatasi dengan baik.

2. Pengepul

Di tingkat pengepul seringkali terjadi kesalahan dalam memutuskan batu permata lokal yang akan ditampung. Untuk tahapan ini, kekuatan cash money (modal uang) sangat berperan karena hampir semua pencari batu menginginkan uang atas upaya yang dilakukannya.

3. Jasa belah

Banyaknya para pencari batu dan pengepul membuka peluang usaha di bidang jasa belah batu, karena banyak di antara mereka yang punya keinginan untuk mengetahui kondisi batu permata lokal yang akan diproses menjadi asesoris. Untuk memulai usaha ini diperlukan modal hanya untuk membeli mesin belah yang nilainya sekitar puluhan juta rupiah. Usaha ini sangat menguntungkan karena setiap harinya hampir puluhan pengepul dan pencari batu yang membelah batu.

4. Toko jual beli bongkahan dan jasa gosok

Jual beli bongkahan batu saat ini adalah usaha yang sangat booming. Hampir setiap pelosok kota usaha ini bermunculan. Biasanya, usaha ini di barengi dengan jasa poles batu cincin yang pada saat ini berdasarkan pemikiran banyak orang lebih hemat untuk mendapatkan cincin permata lokal.

5. Toko jual ring cincin, jasa pasang ring cincin dan jasa crome

Toko jual ring cincin dan pasang cincin serta crome menjadi sangat favorit di daerah penghasil batu lokal. Apalagi mengingat saat ini hampir setiap orang memiliki cobochon cincin, baik di saku maupun di tas yang belum bisa dipakai. Ring cincin yang paling diburu saat ini adalah ring cincin yang hasil cetakan seperti alpaka (perak bakar), ring titanium dan aloy crome serta ring cincin jenis perak.

6. Toko cincin jadi

Pada saat ini hampir setiap pusat pasar maupun pusat perbelanjaan berlomba-lomba menyiapkan boot khusus untuk lokasi kios-kios penjualan cincin. Hal ini menjadi daya tarik baru bagi pengunjung, dimana biasanya pusat perbelanjaan yang tadinya sepi menjadi ramai.

7. Toko penjualan asesoris dan peralatan produksi batu mulia

Kebutuhan asesoris dan peralatan produksi batu permata menjadi toko yang laris manis. Ini disebabkan menjamurnya tempat produksi batu permata di hampir seluruh pelosok negeri. Sampai saat ini kebutuhan mesin gosok, mesin potong, kertas amplas, serbuk intan dan senter menjadi permintaan yang lumayan pesat. Sehingga, banyak sekali saat ini bermunculan toko-toko yang menyediakan asesoris dan peralatan produksi batu mulia.

Kehadiran berbagai even yang diselenggarakan oleh event organizer, lembaga swadaya masyarakat dan beberapa pemerintah daerah dalam bentuk kontes batu permata menjadi warna sendiri dalam kebangkitan batu permata lokal. Apalagi batu permata lokal saat ini terus diproduksi menjadi benda seni dengan keindahan yang sangat bagus. Bahkan batu permata lokal saat ini sudah menyedot pembeli (buyer) luar negeri sehingga tidak salah bila anak negeri untuk lebih giat lagi menggeluti bisnis ini.[]

Penulis adalah Edi Wanda A.Md.P, SE, MM, pemilik Toko Giok Aceh di Jakarta Gemscenter (JGC) Rawabening Jakarta Timur dan Rektor STIA Pelita Nusantara Kabupaten Nagan Raya.