Home Headline Partai Nasional di Aceh Kalah!

Partai Nasional di Aceh Kalah!

95
0

PELENGSERAN Sulaiman Abda lewat “Kudeta Paripurna” DPR Aceh (30/9) bukan hanya buah dari terbelahnya partai Golkar di tingkat pusat, namun juga sebagai tanda kekalahan telak Partai Nasional (Parnas) dalam percaturan politik Aceh.

Bagaimanapun, Sulaiman Abda adalah simbol tokoh partai Golkar serta politisi Parnas di Aceh. Pertama, dibawah kepemimpinannya, Golkar Aceh mampu bangkit dari citra masa lalu yang kelam. Bahkan, Golkar mampu meraih podium kedua pada pileg 2014 setelah Partai Aceh. Yang perlu diapresiasi, dengan segenap masa lalu Partai yang berat, tidak mudah membuat Golkar bisa bangkit di Aceh. Namun Sulaiman Abda, dengan tipe kepemimpinan egaliter dan populis mampu menjadi pembangkit persaudaraan kader Golkar sekaligus menjadi daya pikat bagi publik.

Kedua, politik persaudaraan yang dibangun Sulaiman Abda dengan berbagai elit partai lainnya juga menjadikannya kawan dan lawan politik yang cukup disegani dalam kalangan Parnas di Aceh. Posisi politik Sulaiman Abda inilah yang membuat banyak kalangan khawatir. Bagi sebagian politisi Partai Lokal (Parlok), posisi Sulaiman Abda mampu menggerus suara Parlok dalam pesta demokrasi di Aceh. Sementara bagi sebagian politisi Parnas, posisi Sulaiman Abda dapat menutupi keberadaan citra politik mereka.

Kekhawatiran serupa bukan hanya melanda kalangan politisi berpartai. Sepak terjang politik Sulaiman Abda juga mengganggu kepentingan kalangan non partai. Berbagai kepentingan yang sama-sama melihat Sulaiman Abda sebagai penghalang, sudah sejak lama berusaha untuk melengserkannya. Menurut analisa awam-pun dapat terlihat bahwa dalam partai bergambar pohon beringin ini telah banyak yang menunggu dan mengincar kesempatan untuk mengantikannya.

Potensi politik

Kondisi terbelahnya Golkar di Jakarta dan di Aceh, dimanfaatkan dengan seksama oleh para pelaku politik untuk menghilangkan legitimasi status Sulaiman Abda di dewan kehormatan para perwakilan rakyat yang disebut DPRA. Maka, dilangsungkan-lah rapat-rapat fraksi dan berujung pada sidang paripurna yang melengserkan Sulaiman Abda dari kursi Wakil Ketua DPRA, walaupun jelas kisruh partai Golkar yang berpunca di Jakarta belum sepenuhnya selesai. Dari hal ini jelas terkesan ada sesuatu yang dipaksakan, dan demi mengejar kepentingan segelintir pihak.

Apa yang harus dilakukan oleh Sulaiman Abda? Menerima kekalahan atau melawan? Dalam perspektif psychological-strategic, menerima kekalahan tentu memberikan dampak besar bagi ‘nama’ Sulaiman Abda dan para loyalist-nya. Namun dengan melawan, bisa saja dapat memutar balikkan keadaan dan menjadi boomerang bagi lawan-lawan politiknya. Lagipula, amanah rakyat yang diberikan kepada dirinya dan Golkar pada Pileg 2014 yang lalu juga wajib dihormati. Namun, perlawanan ini tentunya harus dilakukan dengan cara-cara pintar melalui mekanisme hukum, secara negara Indonesia merupakan negara hukum.

Terbelahnya tubuh Golkar dan pelengseran Sulaiman Abda dari posisi Wakil ketua DPRA bukan hanya dapat mengorbankan harga diri, namun juga menghancurkan nama baik institusi di mata rakyat. Dalam konteks yang lebih luas, hal ini berdampak pula pada jatuhnya kredibilitas partai nasional dalam percaturan politik di Aceh.

Perlu kesadaran ekstra untuk memperbaiki kondisi politik yang telah terjadi di Aceh selama ini. Kader partai Golkar perlu paham dan sadar atas sosok Sulaiman Abda dalam internal partainya. Partai nasional lainnya pun perlu kembali merangkul seluruh kader dan simpatisannya, serta memperbaiki keretakan hubungan antar Parnas yang telah terjadi. Hal ini telah terlihat dalam tubuh partai lokal, manuver politik akhir-akhir ini memperlihatkan kesadaran bahwa perseteruan di dalam tubuh mereka sendiri akan memecah belah dukungan rakyat ke atas mereka dan kemudian akan dimanfaatkan oleh partai nasional.

Dalam konteks kompetisi antar partai nasional dan partai lokal, dengan ‘terusirnya’ Sulaiman Abda dari dalam rumah partainya sendiri, serta turut pula didukung oleh beberapa parnas tetangganya, maka para politisi partai lokal dengan santai dapat melakukan berbagai pendekatan kepada simpatisan-simpatisan Golkar yang tengah galau. Sementara, partai Golkar sendiri terus memperbesar api konflik internal mereka. Lagipula, bagi parnas lainnya tanpa disadari, telah memperbesar ‘jurang’ di antara mereka sendiri karena kehilangan sosok pemersatu dan bukan tidak mungkin mempengaruhi citra masyrakat dalam pesta demokrasi ke depannya.

Hematnya, hal ini menyiratkan kekalahan partai nasional atas partai lokal. Selain itu, hal ini juga dapat melanggengkan calon Gubernur dari partai lokal untuk bergerak mulus dalam Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017, bahkan tanpa perlu tokoh parnas menjadi calon Wakil Gubernur-nya sekalipun.

Penulis adalah Danil Akbar Taqwadin, pengamat politik dan konflik Aceh.