Aku Memilih Setia

Catatan Lepas Tentang Sulaiman Abda

Ini bukan judul lagu Fatin Sidqia Lubis. Tapi ini pilihan politik, untuk memilih setia bersama Bang Leman.

Mungkin, ini bukan pilihan populer. Sebab di politik, kata orang, kesetian beriring dengan keuntungan. Lalu, apa untungnya lagi setia dengan Bang Leman?

Beliau bukan lagi Ketua Golkar Aceh toh. Keberadaan Beliau tidak bisa dipakai untuk mendapatkan jaminan pada saat pengusulan caleg di musim Pileg, atau melobi politik agar bisa jadi calon kepala daerah, atau setidaknya mengusulkan rekan atau calon pesanan, kepadanya.

Untuk apa lagi setia kepada Bang Leman, toh posisinya sekarang paska dilengserkan rame-rame oleh DPR Aceh, sudah tidak strategis lagi memasukkan proposal agar bisa mendapatkan sedikit dari bagian dana aspirasinya.

Untuk apa lagi setia kepada Bang Leman, jika nanti benar-benar jatuh dan terdepak dari DPR Aceh, maka habislah yang bisa didapati darinya. Politisi jatuh biasanya juga jatuh secara finansial.

***

Aku jadi terbayang pada saat Bang Leman masih sebagai Ketua Golkar Aceh, pada musim sebelum konflik internal. Orang-orang begitu setia kepadanya. Begitu dipanggil langsung datang. Malah ada yang menitip pesan kepada Kak Ida di sekretariat agar begitu Bang Leman tiba di kantor segera sms agar bisa merapat.

Aku masih merekam kehangatan teman-teman di kantor, dan aku sangat kagum karena mereka begitu terlihat kompak, dan menunjukkan dedikasinya kepada Bang Leman, yang kerap dipanggil Ketua.

Bang Lemanpun sangat terbuka dan memberi kebebasan kepada siapa saja untuk mengungkapkan pikiran dan juga kekesalannya. Istilah populer, sangat demokratis. Jadilah kantor tempat mengalirnya kritik, termasuk mengkritik Bang Leman. Tidak ada yang takut apalagi sampai merasa tertekan. Jika rapat berlangsung, semua dengan antusias menyampaikan pandangan dan sikapnya. Duduk di dalam rapat sangat bebas dan enjoy, bukan seperti duduk anak TK yang kerap mengikuti apa arahan ketua atau pimpinan rapat.

Akupun pernah mengkitik Bang Leman, tapi lebih banyak aku lakukan di saat berduaan. Apa yang tidak sesuai langsung aku katakan dengan argumentasi. Beliau mendengar, dan sesekali juga terjadi diskusi panas. Selebihnya, hubungan baik kembali terjalin.

Bahkan, aku pernah menyampaikan surat pengunduran diri karena pada saat itu aku merasa bosan hanya datang, duduk, dan diskusi saja. Aku ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, suratku dijawab dengan tantangan untuk mengelola pendidikan politik bagi anak-anak muda, mengelola pendataan dan membangun keterbukaan informasi.

Alhamdulillah, sejumlah anak-anak muda berhasil kami himpun, dan beberapa pelatihan pendidikan politik pernah digelar. Aku juga mengelola data yang dipakai untuk keperluan Pileg 2014. Hasilnya, perolehan suara dan kursi Golkar Aceh meningkat. Lebih dari itu, Golkar Aceh pernah mendapatkan Juara Keterbukaan Informasi yang penilaiannya dilakukan oleh Komisi Informasi Aceh.

***

Hari ini aku merekam pemandangan yang biasa secara laku politik, tapi sangat tidak baik secara etika atau sopan santun politik. Orang-orang yang dahulu mengalahkan kesetianku, justru menjauh dari Bang Leman. Ada yang sembunyi dan memilih diam padahal dahulu sangat vokal dan kritis terhadap Bang Leman. Kenapa terhadap orang lain tidak berani kritis?

Aku juga merekam keanehan yang mengiris hati. Orang-orang yang sudah dianggap adik, dan bahkan anak atau keluarga oleh Bang Leman justru dibelakang Bang Leman menjatuhkan pilihan politik Bang Leman. Sudah tidak bisa dan mau membantu Bang Leman, untuk sekedar menjaga marwah Bang Leman saja tidak bisa.

Mereka memang kerap menyatakan kasian kepada Bang Leman. Padahal, apa yang sedang terjadi dengan Bang Leman tidak perlu dikasihani. Semua kejadian politik sudah ada aturan dan jalur perlawanannya. Hanya yang dibutuhkan oleh Bang Leman adalah dukungan agar apa yang sedang dihadapinya berjalan secara aturan. Ini tidak cukup hanya dilakukan oleh Bang Leman, dan inilah kesempatan bagi teman-teman yang dahulu dekat ikut memberi dukungan dan sokongan.

Jadi, yang harusnya dikasihani adalah mereka yang hari ini lebih memilih setia dengan kalkulasi untuk sekedar mendapatkan keuntungan politik. Padahal, politik yang sedang sangat dirindui rakyat adalah politik yang tidak saling melukai, politik yang kompak di atas dasar kebenaran dan aturan, juga di atas rasa persaudaraan.

Bukankah sengketa Golkar belum selesai. Kedua kubu, baik yang sudah diakui pemerintah maupun yang sedang melakukan gugatan, keduanya masih terikat dengan logika sengketa. Dalam masa itu, sepatutnya tidak ada pihak yang saling menjatuhkan, apalagi sampai memecat kader yang sudah terbukti secara suara sangat didukung oleh rakyat, seperti Bang Leman.

Sejauh partai masih berada dalam sengketa, wakil rakyat tidak sewajarnya dipecat apalagi sampai mengkeroyok ramai-ramai dengan mengajak partai lain. Semestinya kader Golkar dan sesama wakil rakyat saling bela membela atau minimal tidak mengambil keuntungan dari situasi kekacauan.

Memang, dalam politik itu hal biasa. Kekuasaanlah yang utama dicari. Tapi Golkar bukan partai baru dan juga bukan Golkar jaman orde baru. Golkar paska orde baru adalah Golkar yang muncul dengan paradigma barunya. Golkar yang sudah berubah. Golkar yang tidak lagi ditentukan nasibnya oleh orang seorang. Golkar yang tidak lagi bergantung pada kekuasaan. Golkar hari ini adalah Golkar yang kemenangannya ditentukan oleh ide, gagasan, moral dan kedekatan dengan rakyat. Seluruh kemenangan Golkar ditentukan oleh permanent campaign yang digerakkan dengan ide, moral, dan kedekatan dengan rakyat.

***

Tapi, faktanya hanya beberapa saja yang memilih setia. Dan aku juga memilih setia. Apapun yang terjadi atas kezaliman yang sedang menimpa Bang Leman akan aku sertai dia dengan kemampuan yang aku miliki. Inilah politikku. Inilah sikapku dan ini juga etika yang aku pegang. Soal yang lain, aku maklumi sambil berdoa agar masih mungkin terbuka hati agar sosok yang sudah diberi amanah oleh rakyat terus bisa berkerja untuk rakyat.

Di suatu malam saat aku bersilahturami ke rumahnya, aku berkata dengan tegas. “Loen bantu bang, bukon agar na proyek. Tapi, lon teupu that, meuyo na bang di DPR Aceh, rame ureung yang mudah meu urosan dengan Bang.”

Di lain waktu saya juga berkata: “Mungkin bagi Bang Leman tidak ada lagi kepentingan sehingga tidak perlu sekali ngotot mempertahankan kekuasaan yang sedang ada. Tapi, ingatlah, enam belas ribu suara rakyat adalah angka kepercayaan yang tidak sedikit. Abang jangan bela diri tapi belalah suara rakyat yang sudah memberi kepercayaan kepada Abang untuk menjadi wakil rakyat. Ini jihad politik dan jika abang kalah dalam jihad ini, abang sudah mempertahankan satu kebenaran. Dan abang akan menjadi inspirasi bagi kami semua untuk tidak takut memperbaiki politik agar lebih bagus lagi di masa depan.”

Saat itu, wajah Bang Leman kembali bercahaya dan senyumnya kembali muncul sebab ia tahu masih ada orang yang setia dengannya. []

Leave a Reply