Sikap Pemaaf Rasulullah dan Seorang Kafir yang Meludahinya

RASULULLAH memiliki sifat yang sangat mulia yaitu seorang pemaaf. Ia tidak mudah sakit hati walaupun diperlakukan dengan perbuatan yang sangat menyakitkan sekalipun. Beliau dicaci, dihina, disakiti tetapi dengan mudahnya beliau melupakan itu semua.

Diriwayatkan, setiap kali Rasulullah pulang dari masjid beliau diludahi oleh seorang kafir. Suatu hari Rasulullah tidak mendapati orang tersebut, ketika ia mengetahui orang itu ternyata sakit, beliau bergegas menjenguknya. Dan karena sebab itulah orang tersebut masuk Islam.

Dalam perjalanan dakwah ke Taif pun tidak kalah pedihnya cobaan yang Rasulullah SAW hadapi. Rasulullah ditolak oleh pemimpin Tsaqiif, bahkan beliau dilempari batu oleh budak-budak dan orang-orang bodoh dari mereka sehingga kedua kakinya berlumuran darah.

Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka, Rasulullah menolak bahkan mendoakan mereka agar mendapat pengampunan Allah.

Bukankah kita sering kali merasa sakit hati, tersinggung dan kecewa hanya karena hal sepele?

Keadaan seperti ini membuat kita mudah marah, menyimpan kebencian dan dendam pada orang yang ada di sekitar kita. Padahal, perasaan seperti itu kalau dibiarkan sangat mungkin akan dapat mengganggu kesehatan jasmani, seperti menimbulkan stress, penyakit darah tinggi, jantung dan lain-lain.

Soal keutamaan menahan amarah, Allah telah berfirman dalam Alquran:
“ ………Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)

Pada firman yang lain dikatakan “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS: As-Syuraa: 43)

Penjelasan lain mengenai keutamaan menahan amarah ini juga bisa dilihat dari hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah kekuatan itu dengan menang dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan amarahnya ketika ia marah.” (HR. Imam Bukhari Muslim).