Nezar Patria, Wartawan Aktivis Calon Menkominfo Asal Aceh

“Setelah 1998, hari ini saya kembali bangga menjadi warga Indonesia. Inilah bangsa besar, dengan pengalaman demokratik tak tertandingi di Asia Tenggara. Hari ini rakyat bicara, dan memberi mandat kepada Jokowi-JK. Mereka setia pada jalan reformasi, dan tak pernah ingin kembali ke masa lalu. Selamat. Dan hormat saya kepada Prabowo-Hatta yang berjiwa besar menempuh jalan demokrasi ke kekuasaan. Tabik!”

Kalimat itu ditulis Nezar Patria di dinding Facebook-nya pada 9 Juli 2014, tak selama setelah sebagian besar hasil hitung cepat menunjukkan pasangan Jokowi – Jusuf Kalla memenangkan pemilihan presiden 2014.

Tahun 1998 menorehkan sepotong kisah perih nan pahit dalam perjalanan hidup pria kelahiran Sigli, 5 Oktober 1970 itu. Menjelang kejatuhan Soeharto, ia bersama sejumlah aktivis prodemokrasi diculik oleh Kopassus di sebuah rumah susun di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Dalam sejumlah kesaksiannya Nezar menggambarkan penculikan itu berujung penyiksaan. Ia berada di batas hidup dan mati.

Saat itu Nezar adalah Sekretaris Jenderal Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID). Organisasi yang berafiliasi ke Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini dituduh dalang kerusuhan 27 Juli 1996, meski tak pernah terbukti di pengadilan. Sejak itu ia bersama sejumlah rekannya hidup berpindah tempat, menghindari kejaran tentara pemerintah.

“Perlakuan politik Orde Baru yang penuh penindasan hak asasi manusia, ketidakdilan politik dan ekonomi membuat saya mengambil sikap krits terhadap praktik kediktatoran Orde Baru,” tulis Nezar dalam sebuah kesaksiannya.

Ia pun terlibat aktif dalam aksi-aksi protes mahasiswa dan advokasi kasus rakyat yang menurut Nezar “haknya dirampas, ditindas secara ekonomi politik oleh rezim Orde Baru.”

Tapi petualangan bawah tanah itu berakhir pada 13 Maret 1998. Di bawah todongan senjata, para penculiknya membawanya ke suatu tempat. Ia disiksa, disetrum berkali-kali, hingga ajal terasa begitu dekat.

Dalam sebuah tulisannya di majalah Tempo, Nezar menulis para penyiksa sempat menempelkan pistol di kepalanya dan disuruh berdoa.

“…Kerongkongan saya tercekat. Ajal terasa begitu dekat. Tak seorang keluarga pun tahu bahwa hidup saya berakhir di sini. Saya pasrah. Saya berdoa agar jalan kematian ini tidak begitu menyakitkan…,” tulis Nezar.

Untunglah senjata  yang telah dikokang itu tak meletus. Rupanya itu hanya ancaman. Nezar lalu menjalani hari-hari dalam sel gelap yang disebutnya “tanpa matahari, dan senam pagi.”

Kopassus yang menculiknya belakangan diketahui punya nama sandi Tim Mawar dan disebut-sebut di bawah kendali Prabowo Subianto.

***

Setelah Soeharto dan rezim Orde Baru tumbang, Nezar Patria banting stir. Ia memilih menjadi wartawan, profesi yang masih setia dijalaninya hingga kini. Saat ini Nezar juga salah satu anggota Dewan Pers.

Mulai bergabung di majalah DR pada 1999, Nezar kemudian pindah ke Tempo. Di sini, liputannya tentang kerusuhan Mei 1998 memenangkan Journalism for Tolerance Prize yang digelar International Federation of Journalist (IFJ) di Manila, Filipina.

Pada 2008, Nezar ikut mendirikan portal berita VIVA.co.id, yang kemudian terpaksa ditinggalkan menjelang pemilu 2014 lalu lantaran beda prinsip dengan manajemen media milik Aburizal Bakrie itu.

Alumnus London School of Economics (LSE), Universitas London, Inggris ini juga tercatat pernah menjabat Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

Darah kewartawanan Nezar mengalir dari sang ayah, Sjamsul Kahar, Pimpinan Umum Koran Serambi Indonesia. Maka tak heran, sejak kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada, ia sudah terlibat di pers kampus.

Selain mewarisi darah ayahnya, Nezar punya alasan lain mengapa memilih hidup sebagai wartawan.

“Saya memilih menjadi wartawan, karena keleluasaan berekspresi adalah oksigen bagi demokrasi. Proses ini perlu juga dijalani, saya pernah bergabung dengan Majalah Tempo sekarang saya berkiprah di Dewan Pers," kata Nezar seperti dikutip merdeka.com, Mei lalu.

Menurut Nezar, kebebasan pers yang dinikmati pers Indonesia saat ini adalah buah reformasi.

“Saya kira tidak semua harus menjadi aktivis partai politik. Harus ada yang mengerjakan bidang-bidang lain yang terbuka. Itu adalah ikhtiar menjadikan Indonesia lebih baik," kata Nezar.

Nezar sepakat ruang demokrasi yang terbuka lebar setelah reformasi tak berjalan sesuai harapan. Perselingkuhan elit politik dengan pemodal telah membuat bandul kekuasaan terus bergerak untuk kepentingan elit, bukan ke rakyat.

Nezar pun menyimpan cita-cita mewujudkan lembaga penyiaran publik yang kompeten dan profesional dan mengabdi pada kepentingan rakyat.

“Itu tugas Negara. Lewat semangat reformasi yang kita punya, kita dapat ciptakan. Saya tidak khawatir dengan kebebasan pers yang kebablasan. Saya cukup gembira dengan adanya kepatuhan etik oleh media mainstream yang ada di Indonesia," kata Nezar.

***

Kini, namanya masuk dalam daftar calon Menteri Informasi dan Komunikasi. Nezar dijagokan menduduki posisi itu bersama politisi Nasdem Mursyidan Baldan dan praktisi teknologi informasi Onno W Purwo.

Jika Nezar terpilih, tentu saja cita-citanya tentang lembaga penyiaran publik yang mengabdi pada rakyat dapat terwujud. Sekaligus, menjaga denyut demokrasi –yang dulu ikut diperjuangkannya dengan taruhan nyawa– tetap berdetak.  

“Setelah membuka bab pengantar reformasi, kini waktunya kita membuat konklusi yang konsisten,” tulis Nezar di akun Twitternya setelah Jokowi menang.[]

Baca juga:
Masuk Bursa Calon Menkominfo, Ini Kata Nezar Patria

  • Uncategorized

Leave a Reply