Home Histori Yatim Kinder Hut Indrapuri Ikut Meuseuraya di Jirat Cot Ulee Abu

Yatim Kinder Hut Indrapuri Ikut Meuseuraya di Jirat Cot Ulee Abu

56
0

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) kembali meuseuraya (gotong royong) di kompleks makam bersejarah “Jirat Cot Ulee Abu” Gampong Indrapuri, Aceh Besar, Minggu, 7 Juni 2015. Meuseuraya kali ini turut dihadiri warga setempat dan anak-anak yatim dari Asrama Kinder Hut Indrapuri.

Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan program rutin Mapesa dalam menyosialisasikan dan menyelamatkan bukti-bukti peradaban Islam di Aceh. Menurutnya, Mapesa untuk saat ini hanya fokus di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Saat ini karena berbagai keterbatasan yang kita miliki, Mapesa belum bisa bergerak di setiap kabupaten/kota di Aceh. Dalam hal ini, kami hanya bisa berharap masyarakat khususnya generasi muda agar ikut berperan dalam melestarikan peninggalan sejarah Aceh yang ada di setiap kabupaten/kotanya masing-masing,” ujar Mizuar.

Mizuar sangat menyayangkan sikap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/kota di Aceh, yang kurang peduli terhadap peninggalan sejarah. Padahal menurutnya bukti sejarah itu adalah jejak Aceh di masa lampau yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

“Penyebaran peninggalan sejarah yang ada di setiap kabupaten/kota itu adalah bukti bahwa Aceh sudah ada ratusan tahun silam. Ini adalah identitas bagi Aceh. Ini adalah aset untuk pembangunan Aceh ke depan. Peninggalan sejarah akan menjadi sumber PAD (pendapatan asli derah) bagi Aceh, jika dikelola dengan baik oleh pemerintah hari ini,” ujar Mizuar.

Salah satu tokoh masyarakat yang turut hadir dalam meuseuraya tersebut, Muhammad Juned (80), mengatakan kompleks makam yang sering disebut “Jirat Cot Ulee Abu” oleh warga setempat, dulunya sering diziarahi untuk peulheuh kaoy (menunaikan nazar).

“Tahun 2007 jirat ini pernah didatangi dan dibersihkan oleh para peneliti dari Malaysia. Melihat kondisi makam yang terbengkalai membuat mereka bersedih hati, bahkan ada yang meneteskan air mata,” ujar Juned.

Selain itu, konselor asrama yatim Kinder Hut, Cut Farhani Rizki, mengatakan kegiatan tersebut bisa menambah wawasan bagi anak-anak asuhnya terhadap sejarah Aceh. Menurutnya, hal tersebut belum tentu bisa mereka dapatkan dari pelajaran sejarah yang diajarkan dalam kurikulum di sekolah.

“Ini adalah kegiatan yang sangat baik. Banyak hal positif yang bisa anak-anak dapatkan. Dengan melihat langsung bukti sejarah Aceh yang merupakan bukti peradaban sejarah Islam, semoga menambah semangat anak-anak dalam melaksanakan amalan ibadah dalam kesehariannya,” ujar Farhani.[](bna)

Laporan: Muhajir Marzuki, siswa Sekolah Sastra Hamzah Fansuri.