Home News Warga Tiga Desa Protes Pembangunan Waduk Alue Geureutut

Warga Tiga Desa Protes Pembangunan Waduk Alue Geureutut

56
0

LHOKSUKON – Warga dari tiga desa di Kecamatan Sawang, memprotes pembangunan Waduk Alue Geureutuet, Aceh Utara, Senin, 21 September 2015. Pasalnya dengan adanya waduk ini membuat debit air sungai di kawasan tersebut semakin menipis.

Adapun tiga desa tersebut adalah Blang Cut, Lhok Cut dan Kubu Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Informasi yang diterima portalsatu.com, waduk ini direncakan untuk keperluan irigasi di Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, yang dibangun melalui dana APBA.

“Kami telah mendatangi lokasi pembangunan waduk yang terletak antara Dusun Baro, Blang Cut dan Dusun Alue Anoe, Desa Gunci. Kami meminta itu dihentikan karena bila itu tetap dilanjutkan akan berdampak pada masyarakat tiga desa, baik keperluan irigasi dan juga keperluan rumah tangga,” ujar Geuchik Blang Cut, Musliadi, kepada portalsatu.com.

Musliadi mengatakan selama ini masyarakat bergantung pada sungai yang bakal mengalir ke waduk tersebut untuk kebutuhan air bersih. Menurutnya jika waduk ini selesai, hanya warga Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, yang mendapat keuntungan.

Dia mengatakan warga bersama Muspika Sawang, Muspika Makmur, Sekda Bireuen, anggota dewan kedua kabupaten, dan Dinas Pengairan dan ESDM Aceh Utara telah menyepakati akan meninjau bersama ke lokasi, pada 26 Agustus 2015 lalu. Namun hal itu tidak berjalan sesuai kesepakatan.

Di tempat terpisah, masyarakat Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara, mendesak bupati untuk memperjuangkan pembangunan Waduk Teupin Keubeu di Desa Jamuan. Saat ini pembangunan waduk sedang berlangsung, namun lahan sekitar 7 km dari 12 km untuk saluran irigasi belum dibebaskan.

Ketua Forum Peduli Banda Baro, Tajuddin, kepada portalsatu.com, Senin 21 September 2015, mengatakan masyarakat mendesak bupati untuk menganggarkan dana pembebasan lahan sisa pada 2016.

“Bila waduk selesai dan saluran dari Krueng Sawang ke waduk Teupin Keubeu di Jamuan tidak dibebaskan, sama saja tidak bisa dimanfaatkan segera. Padahal kebutuhan petani untuk mengairi sawah sudah sangat mendesak. Begitu juga mengatasi banjir,” tutur Tajuddin.[](bna)

Foto: Ilustrasi. @antaranews.com