Home News Tragedi Crane Jatuh, Sosok Ferry Mauluddin yang Jadi Contoh Rekan Jemaah Haji

Tragedi Crane Jatuh, Sosok Ferry Mauluddin yang Jadi Contoh Rekan Jemaah Haji

69
0

Jakarta – Sosok Ir Ferry Mauluddin Arifin yang menjadi korban roboh crane di Masjid Haram Mekkah di mata sesama jamaah haji asal Bekasi, Jawa Barat adalah seorang yang amanah memegang tanggungjawab dan menjadi panutan sesama jamaah haji.

Hal itu diungkapkan Johanda Kariadi (46) teman satu rombongan yang tergabung dalam Kelompok Terbang (kloter) JKS 12.

“Kami satu rombongan dengan almarhum Pak Ferry. Dia adalah kepala rombongan (Karom) 9 Kloter JKS 12,” ungkap Johanda Kariadi kepada detikcom melalui messenger, Selasa (15/9/2015).

Menurut dia, Ferry bersama keluarganya tinggal di Kranji, Bekasi Barat. Dia dikaruniai anak yang masih berumur 10 bulan. Dia mendaftar haji sejak tahun 2008 dan baru bisa berangkat tahun ini.

“Beliau bekerja di  PT Freeport Indonesia. Alumnus Teknik Sipil Universitas Trisakti, Jakarta,” ungkapnya.

Sebelum berangkat menuju tanah suci lanjut dia, visa Ferry juga yang paling akhir diterima sehingga sempat satu rombongan khawatir.

“Visa Pak Ferry terakhir keluar. Itu membuat kita deg-degan. Sebab pada malam harinya harus masuk Asrama Haji Kota Bekasi dan paginya visa baru terbit,” katanya.

Di mata sesama jamaah haji, Ferry adalah orang yang ramah dan akrab serta mudah bergaul sehingg disukai semua anggota rombongan. Oleh karena itu dia dipercaya menjadi karom. Rombongan yang bersama Ferry adalah kelompok haji mandiri.

“Beliau yang aktif mengkoordinir untuk pembayaran dam berupa seekor kambing karena kita melaksanakan haji tamattu atau melaksanakan umroh sebelum ibadah inti haji,” katanya.

Saat di Mekkah katanya, dia yang mengkoordinir seluruh anggota rombongan untuk naik bus bersama-sama agar bisa menyaksikan langsung pemotongan hewan kambing di rumah potong resmi milik pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Pada saat pemotongan kambing dam, Ferry juga meminta semua anggota rombongan 9 melihat langsung pemotongan kambing masing-masing. Setiap disebutkan nama jamaah, maka dipotongkan satu kambing.

Dia juga yang mengajak semua jemaah satu rombongan untuk pergi ke Gunung Jabal Nur dan melihat langsung Gua Hira tempat Nabi SAW menerima firman pertama dari Allah SWT. Dia mengajak jemaah satu rombongan untuk mengunjungi Gua Hira karena  tidak banyak jemaah Indonesia yang datang ke tempat itu. Yang paling banyak naik ke Gua Hira adalah jemaah asal Turki, Pakistan dan India. Namun sampai saat ini niat tersebut belum terlaksana karena ada musibah tersebut.

“Pak Ferry semangat ibadahnya sangat tinggi. Sejak di  Madinah tidak pernah terputus salat lima waktu di Masjid Nabawi. Saat di Mekkah juga selalu berusaha salat di Masjidil Haram dan berusaha sedekat mungkin dengan Kabah,” ungkap alumnus FIB UGM itu.

Saat berada di Mekkah, rombongan menginap di Maktab 801 FC Towers Taysir Street di daerah Jarwal. Jarak pemondokan dengan Masjidil Haram sekitar 950-an meter. dari Masjidil Haram. Salah satu contoh saat dia dipercaya menjadi pemimpin adalah ketika pembagian kamar pondokan, dia tidak mau mengambil jatah kamar sebelum semua anggota dapat menempati kamar.

“Saat di pondokan di Jarwal, kita sering bersama-sama jalan kaki karena jarak yang dekat dan mudah. Tapi kalau naik semacam angkot biayanya 2 Riyal per orang atau sekitar Rp 8 ribu,” katanya.

Ferry sebagai karom juga akrab dengan Ketua Kloter, Mulyono yang merupakan guru MAN 1 Kota Bekasi dan Pembimbing Ibadah, KH Munawir. Setiap ada bimbingan manasik di Maktab, KH Munawir sering menyebut nama Ferry sebagai contoh.

Saat melaksanakan umroh sunnah, Ferry juga sering mengajak semua jemaah. Mereka menyewa mobil dengan ongkos masing-masing membayar 5 Riyal untuk menuju tempat miqat di Tanim kemudian menuju Masjidil Haram.

Johanda mengatakan dalam rombongan jemaah haji asal Kota Bekasi selama di tanah suci mempunyai tugas mengambil jatah konsumsi untuk anggota rombongan. Oleh karena aturannya harus Karom yang boleh tandatangan saat mengambil konsumsi.

“Regu kita yang paling sering bertugas mengangkat konsumsi sejak dari Madinah maupun di Mekkah. Kita selalu menumggu Pak Ferry pulang dari Masjidil Haram supaya bisa mengeluarkan makanan dari ruang catering. Karena tanpa tandatangan Karom, makanan tidak bisa keluar,” katanya.

Dalam ingatan Johanda maupun sesama satu rombongan, sosok Ferry setiap pulang dari Masjidil Haram selalu muncul dengan senyumannya kepada setiap orang yang ditemui dan dikenalnya.

Menurut Johanda, banyak omongan Ferry yang selalu diingat oleh jemaah satu rombongan. Salah satunya saat di Masjid Nabawi di Madinah, dia jarang mau ke Raudhah untuk berdoa. Padahal tempat itu adalah tempat paling mustajab untuk berdoa. Dia beralasan tidak mau menyakiti orang lain karena situasi yang banyak jamaah sehingga harus berdesak-desakan.

Saat di Mekkah dia juga selalu mengingatkan teman-teman agar selalu salat di Masjidil Haram meski terlambat. Kedua dia selalu ingin salat di depan Kabah. Ketiga, dia selalu ingin mencium Hajar Aswad.

“Pak Ferry juga sering bilang, orang-orang banyak yang mengucap takbir tapi tak bisa kendalikan hawa nafsunya. Ketika kami tanya kenapa? Itu contohnya orang-orang yang berebut mencium Hajar Aswad tapi dengan cara menyikut orang lain,” katanya.

Johanda menambahkan saat terjadi musibah tersebut, Ferry berangkat ke Masjidil Haram bertiga. Salah satunya adalah teman sekamar Ustad Nurhasan. Namun Ferry meminta berhenti untuk melihat-lihat penjual pakaian. Sedangkan dua orang temannya diminta duluan karena belum salat Ashar. Mereka pun kemudian berpisah.

Sebelum kejadian lanjutnya, cuaca dan suhu udara sore itu di Mekkah cukup sejuk. Sebelum kejadian tiba-tiba langit gelap dan ada angin  kencang. Angin kencang membawa pasir beterbangan ke mana-mana.

“Orang-orang yang masih di jalan diminta masuk oleh para pemilik toko atau pengelola hotel yang ada di dekatnya. Badai pasir sekitar 15 menit dan setelah itu hujan deras dan kemudian ada musibah itu,” katanya.

Saat kejadian lanjut dia, Ferry mengenakan baju gamis motif garis-garis putih biru. Baju tersebut adalah pemberian ayahnya saat beliau hendak berangkat haji. Dia juga sudah berniat menghajikan atau membadal hajikan mertuanya.

Sehari sebelum musibah Ferry membeli baju, tapi saat dicoba di kamar ternyata ukurannya kesempitan. Oleh teman sekamar yaitu Ustad Nurhasan baju itu dibeli sesuai harganya yaitu 10 Riyal. Dia bilang nanti akan membeli baju lagi.

Rencananya malam ini sehabis salat Isya, jenazah Ferry akan disalatkan di Masjidil Haram untuk selanjutnya dimakamkan di Ma’la.

Selamat Jalan Pak Ferry Mauluddin Arifin. Semoga Khusnul Khotimah.[] Sumber: detik.com

Foto:dok.Johanda Kariadi/Ferry Mauludin ketiga dari kanan