Tradisi Meugang Sangat Sakral di Aceh, Mengapa?

LHOKSEUMAWE – Masyarakat Aceh menyambut bulan suci Ramadan dengan penuh suka cita melalui tradisi meugang. Tradisi meugang atau meuramien dikenal sangat sakral di tengah penduduk Aceh sejak era kesultanan. Mengapa?

Bulan Puasa atau Ramadan kini di depan mata. Azwar, 35 tahun, warga Desa Paya Punteut, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, mengaku sangat bahagia menyambut bulan penuh berkah tersebut. Sama seperti warga lainnya di Aceh, ia dan keluarganya akan meluapkan kegembiraan untuk memuliakan bulan suci dengan kenduri/makan bersama sie (daging) meugang.

“Kami tidak akan melewatkan meugang kali ini, karena bagi rakyat Aceh tradisi meugang sudah ‘mendarah daging’ sejak masa indatu (nenek moyang). Kalau hari-hari biasanya tidak pernah makan daging, tiga kali setahun kami beli daging, yaitu hari meugang Puasa, meugang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tapi yang paling utama meugang Puasa, itu sudah seperti ‘wajib’ untuk beli daging dan menyantapnya bersama keluarga,” ujar Azwar, Senin, 15 Juni 2015.

Azwar mengaku sudah menyiapkan uang untuk membeli daging meugang kali ini. Warga yang penghasilannya pas-pasan ini menyisihkan sebagian pendapatanya sejak beberapa bulan lalu khusus untuk kebutuhan membeli daging meugang menyambut Ramadan tahun ini. Sikap yang sama ditunjukan Abdul Hamid, tetangga Azwar, dan warga lainnya di Desa Paya Punteut itu.

Hasil kajian para peneliti, tradisi meugang di Aceh sangat sakral sejak era kesultanan. “Tradisi ini tersurat dalam Qanun Al Asyi atau Qanun Meukuta Alam pada masa Kesultanan Aceh,” ujar Direktur Rumoh Manuskrip Aceh Tarmizi A. Hamid akrab disapa Cek Midi.

Menurut Cek Midi, bunyi Bab II pasal 47 Qanun Meukuta Alam menyebutkan, “Sultan Aceh secara turun temurun memerintahkan Qadi Mua’zzam Khazanah Balai Silatur Rahmi yaitu mengambil dirham, kain-kain, kerbau dan sapi dipotong di hari Mad Meugang. Maka dibagi-bagikan daging kepada fakir miskin, dhuafa, orang lasa, buta. Pada tiap-tiap satu orang yaitu; Daging, uang lima mas dan dapat kain enam hasta. Maka pada sekalian yang tersebut diserahkan kepada Keuchieknya masing-masing gampong daerahnya. Sebab sekalian semua mereka tersebut itu hidup melarat lagi tiada mampu membelikannya, maka itulah sebab Sultan Aceh memberi pertolonganya kepada rakyatnya yang selalu dicintai”.

Cek Midi menjelaskan, madmu gang/madmeugang/meugang atau meuramien (makan bersama) menyambut bulan suci Ramadan merupakan sebuah tradisi makan daging yang spesial bersama keluarga atau kelompok masyarakat. “Hari yang penuh suka cita dan paling sakral bagi masyarakat Aceh melaksanakan alih tradisi masa Kesultanan Aceh,” katanya.

Lantaran meugang sangat sakral di Aceh, kata Cek Midi, maka pemimpin atau sultan pada masa lampau membuat qanun tentang tradisi tersebut. “Tradisi meugang ini salah satu sisa-sisa kejayaan Aceh dalam budaya dan adat yang
sampai hari ini masih kita pertahankan,” ujar Cek Midi.

Menurut pandangan Cek Midi, tradisi meugang yang masih mengakar di tengah masyarakat Aceh hingga saat ini merupakan salah satu nilai tambah yang berpotensi melahirkan energi positif, sehingga mesti terus dilestarikan dengan baik. “Ini sebenarnya sebuah kekuatan sosial masyarakat Aceh yang dapat membawa manfaat bagi pemerintah daerah,” katanya.[]

Foto ilustrasi.

Leave a Reply