Mahasiswa Aceh di Jakarta: Hapus Tradisi Meugang

JAKARTA- Mahasiswa asal Aceh-Jakarta, Teuku Azril, meminta agar masyarakat menghapus tradisi meugang di Aceh.

“Masyarakat Aceh harus membiasakan yang benar, jangan membenarkan yang biasa. Euforia meugang harus ditiadakan di Aceh, bila perlu hapus tradisi itu,” kata Teuku Azril dalam siaran persnya ke redaksi portalsatu.com, Selasa 16 Juni 2015.

“Meugang itukan beli daging di pasar lalu dimasak dengan beragam rasa oleh masyarkat Aceh. Itu peristiwa biasa tidak ada yang istimewa bagi saya. Sungguh akan bermakna apabilan masyarakat Aceh punya tradisi menyantuni anak Yatim menyambut Ramadhan,” kata Azril lagi.

Menurutnya, tradisi meugang telah melukai hati kaum miskin dan anak Yatim di Aceh. “Seolah kalau mereka tidak ikut radisi itu (meugang-red) mereka akan menyambut bulan Puasa itu dengan tidak lengkap. Mindsite rakyat Aceh harus diubah,” ujarnya.

Pemerintah Aceh, katanya, harus memikirkan cara agar rakyat Aceh yang miskin setiap satu Minggu bisa makan daging lembu 2 kali. Tujuannya, agar di saat meugang tidak ada yang sedih karena tidak mampu membeli daging.

“Habibie ketika menjabat Presiden RI, telah membuktikan. Dia yang bukan Aceh, tapi bisa mensejahterakan petani Aceh. Hasil pertanian warga Aceh dibeli dengan harga mahal, masyarakat sibuk bertani karena hasil panen mereka dihargai. Bukannya Gubernur Aceh sekarang itu orang Aceh?” ujarnya.

“Bagaimana tidak menggemparkan dunia, dengan Meugang Aceh, seolah orang Aceh itu tidak pernah makan daging lembu, ada yang mengira rakyat Aceh makan daging disaat meugang saja. Inikan tradisi Gila,” katanya lagi.

Teuku Azril mengajak semua pihak untuk meciptakan kondisi Aceh yang aman damai dan sejahtera. “Setiap enam bulan sekali kita data warga miskin. Kalau dulu katanya melawan ketidakadilan Pemerintah Pusat terhadap Aceh. Sekarang apa ? Kami tidak bisa terima kalau ada kabar anak yatim di Aceh menangis tidak bisa makan daging pada waktu meugang, malu kami di Jakarta,” ujar Azril. [] (mal)