Home News Tiga Tahun “Zikir”, Rektor Unimal: Pembangunan Aceh tidak Fokus

Tiga Tahun “Zikir”, Rektor Unimal: Pembangunan Aceh tidak Fokus

45
0

LHOKSEUMAWE – Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Prof. Dr. Apridar menilai Pemerintah Aceh belum fokus melaksanakan pembangunan yang dapat membawa manfaat nyata bagi daerah ini.

Penilaian tersebut disampaikan Apridar di Lhokseumawe, Kamis, 11 Juni 2015, menjawab para wartawan terkait kinerja Pemerintah Aceh di bawah Gubernur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf atau “Zikir” yang kini sudah tiga tahun.

Apridar menyebut proses pembangunan memang harus dilaksanakan bertahap. Sebab tidak mungkin membangun sebuah daerah dalam sekejap dari kondisi terbelakang menjadi daerah maju. Akan tetapi, patut dipertanyakan apakah tahapan-tahapan yang harus diselesaikan Pemerintah Aceh selama ini sudah dilakukan secara sistematis atau tidak. “Saya kira mereka belum bekerja secara sistematis untuk menyelesaikan persoalan-persoalan secara tuntas,” ujarnya.

Ia mencontohkan, Aceh memiliki uang berlimpah dari bagi hasil migas, namun kinerja penyerapan anggaran masih lemah. “Banyak sekali serapan (anggaran) yang tidak tercapai. Kenapa hal ini terjadi? Karena program-programnya tidak fokus kepada program-program yang menyentuh persoalan utama,” kata Apridar.

“Persoalan yang utama misalnya untuk pembangunan jalan, kenapa tidak dibuat jalan highway (jalan bebas hambatan) dari Banda Aceh ke Sumatera Utara. Satu program itu saja berhasil dijalankan, saya kira sudah termasuk hebat,” ujar dia lagi.

Permasalahan lainnya, menurut Apridar, krisis listrik di Aceh tidak kunjung tuntas lantaran masih bergantung pada pembangkit di Sumatera Utara. Mestinya dengan uang Aceh yang cukup signifikan, kata dia, daripada “dicincang” untuk program-program yang belum tentu akan menghasilkan manfaat besar, lebih berguna jika diprioritaskan mengatasi krisis listrik.

“Misalnya, dibeli mesin listrik yang kapasitasnya mencukupi, ditempatkan di Aceh Barat, Banda Aceh, dan Lhokseumawe masing-masing satu unit, sehingga  dapat mengatasi kekurangan listrik,” kata Apridar.

Apridar menambahkan, “Zikir” masih memiliki sisa waktu dua tahun untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. “Perlu kita dorong bersama agar kinerja Pemerintah Aceh ke depan lebih fokus, karena sepertinya mereka belum berani mengambil sikap itu. Kalau dia belum berani mengambil sikap maka tidak akan nampak keberhasilan,” ujarnya.[]