Teungku Muhammad Nur: Jangan Salahkan Ulama Kalau Harus Turunkan Gubernur yang Tidak Pro Syariat

BANDA ACEH – Alumni Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah, Kabupaten Bireuen, Teungku Muhammad Nur, mengatakan parade Aswaja susulan pada 1 Oktober 2015 merupakan sebuah gerakan moral bukan gerakan politik, yang bekerja untuk meluruskan iktikad ahlussunnah wal jamaah sesuai dengan tuntunan Alquran dan Al hadis, Ijma dan Kias.

“Parade ini harus dilakukan terus hingga tumbangnya kezaliman dan tegaknya sebuah kebenaran yang menggambarkan keseluruhan peradaban Islam di Aceh,” kata Teungku Muhammad Nur, kepada portalsatu di salah satu Warkop di Banda Aceh, Rabu 30 September 2015. [Baca: Ulama Aceh Akan Lakukan Parade Susulan?]

Katanya, Aceh membutuhkan pemimpin yang melaksanakan syariat, bukan menghancurkan hampir semua tatanan kehidupan masyarakat.

“Kita harus turunkan siapa pun, tak terkecuali gubernur kalau tidak mendukung tegaknya syariat Islam kaffah di Aceh,” katanya.

“Jangan salahkan ulama kalau harus turunkan gubernur yang tidak pro syariat. Tuntutan parade pertama ada sejumlah poin yang harus dicapai, tapi tak satupun dijalankan, makanya ada parade susulan,” ujarnya lagi.

Katanya, perjuangan yang dilakukan ulama dayah ini telah dilakukan puluhan tahun.

“Itu demi agama dan kebenaran bukan demi pangkat dan jabatan. Tanpa peunutoh ulama tidak ada yang mau melakukan perjuangan dan jangan sampai hari ini. Alquran, Alhadis, ijma dan kias yang merupakan keyakinan yang sudah mendarah daging bagi ulama mau ditinggalkan dan kita harapkan tidak ada Islam gaya baru yang mengurangi sunnah Rasulullah SAW di Aceh,” kata Teungku Muhammad Nur. [] (mal)

Leave a Reply