Home News Sosiolog Unimal: Kualitas Pendidikan Aceh Masih Rendah

Sosiolog Unimal: Kualitas Pendidikan Aceh Masih Rendah

83
0

LHOKSEUMAWE – Sosiolog Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Nirzalin, M.Si., menilai kualitas pendidikan Aceh saat ini masih rendah dibanding daerah-daerah lainnya di Indonesia.

“Jika melihat dari segi infrastruktur, pembangunannya saat ini sudah mulai baik. Namun dari aspek kualitatifnya Aceh masih perlu adanya pengembangan-pengembangan lanjutan, sehingga melahirkan peserta didik yang aktif dan melahirkan pikiran-pikiran yang lebih kritis lagi,” kata Nirzalin saat dihubungi portalsatu.com, Rabu, 2 September 2015, siang.

Menurut Nirzalin, lemahnya pola pikir peserta didik saat ini muncul dari masih adanya paradigma pendidik yang memposisikan peserta didik tersebut hanya sebagai tabung atau sentral dalam melakukan proses belajar mengajar. Bukan menjadikan peserta didik sebagai teman, sehingga dampaknya dari situlah mereka kurang cepat dalam memahami apa yang diberikan pendidik setiap saat.

“Jika hal ini tidak segera diganti maka jangan harap pendidikan Aceh akan lebih baik lagi,” ujar Nirzalin. “Jadi, ketika berbicara pendidikan Aceh agar lebih berkembang ke depan, sudah seharusnya paradigma tersebut ditiadakan. Sebab hal tersebut sangat urgen dalam kemajuan pendidikan”.

Nirzalin menjelaskan hal tersebut juga berdampak pada budaya membaca. Menurutnya, saat ini budaya membaca peserta didik sangat lemah. “Contohnya, bisa kita lihat bersama ketika para siswa berduyun-duyun ke kota, bukan mencari toko yang menyediakan buku untuk belajar, melainkan mereka memillih toko pakaian ketika hendak ke kota,” katanya.

Seharusnya, Nirzalin melanjutkan, ini yang perlu dibenahi sekarang. Sebab, jika siswa tidak menjadikan buku sebagai kebutuhannya, maka dapat disebutkan prestasi juga bukan sebuah kebutuhan bagi mereka.

“Aceh krisis figur pendidik yang berkompeten. Dunia pendidikan Aceh tidak menemukan guru yang bisa memberikan motivasi dan contoh teladan kepada peserta didik, sehingga budaya malas membaca dari peserta didik tersebut tidak dapat diminimalisir,” kata Nirzalin.

Untuk itu, Nirzalin mengharapkan ke depan adanya sinergitas pemenuhan pendidik yang berkualitas, sehingga peserta didik dapat merubah pola pikir lebih baik lagi. Kemudian merubah paradigma dari memposisikan murid sebagai tabung menjadi teman, sehingga apa yang diberikan dapat ditanggap dengan baik dan jelas.

Kepada Pemerintah Aceh, Nirzalin juga mengharapkan agar dapat menunjukkan regulasi ataupun kebijakan-kebijakan dalam membangun pendidikan secara konstruktif . “Dan kepada pendidik agar menjadikan dirinya ‘role model’, sehingga peserta didik dapat mengubah budaya-budaya malas tersebut yang nantinya berdampak pada prestasi mereka itu sendiri,” ujarnya.[]

Foto ilustrasi.