Rubiah; Potret Kehidupan Warga Miskin di Pelosok Paya Bakong

Oleh: Iskandar PB

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, begitulah roda kehidupan yang Ibu Rubiah rasakan selagi nyawa masih di kandung badan.

Ramadan lalu kami berjalan ke Desa Alue Bieng, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Bisa dikatakan pedalaman, dan juga tempat bekas masa konflik dulu. Kami berkeliling desa itu selama dua jam. Lalu kami menemukan sebuah rumah berkonstruksi kayu asal jadi di desa itu. Kami berhenti dan singgah di rumah tersebut. Kami masuk ke dalam dan memberikan salam kepada penghuni rumah yang sedang mengatur dan membereskan kayu-kayu. Kayu itu dicari di hutan untuk dijual ke pasar.

Namanya pemilik rumah itu Rubiah. Kami dipersilakan masuk olehnya. “Silakan masuk nak, inilah istana kami,” katanya.

Sontak kami terkejut dan berlinang air mata ketika melihat kondisi rumah yang asal jadi itu. Saat Rubiah menceritakan kondisi hidup dan keadaan ekonominya kami sudah hanyut dalam kesedihan. Ia ternyata tidak punya tanah sama sekali.

Rubiah saat ini menempati tanah milik PT. Badko yang ada di temat itu. Sehari-hari ia bekerja mencari kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari hasil menjual kayu bakar, ia mendapatkan penghasilan Rp 15 ribu perhari.

Coba kita renungkan, dengan uang sebesar itu tentu tidak cukup untuk memenuhi kebuthan ekonomi keluarga. Suaminya sudah lama terbaring di dalam rumah dan sama sekali tidak bisa bangun. Rubiah menjadi tulang punggung keluarga. Ia punya tiga anak perempuan yang masih kecil-kecil dan masih duduk di sekolah dasar.

Saat bercerita Rubiah tak kuasa menahan tangisnya. Ia mengaku pernah mengurus proposal dan mengadukan perihal nasibnya pada siapa saja yang bisa ia adukan, tapi semua itu seolah sirna karena tidak ada yang tergerak hati untuk menolongnya. Meski Indonesia sudah merdeka 70 tahun, tapi nasib Rubiah sama sekali belum merdeka.

Sambil menangis tersedu-sedu ia berpesan “Masihkah kami hidup seperti orang lain hidup.”

Ia hanya berharap bantuannya jangan salah alamat dan juga diberikan kepada orang yang layak menerima. Ia juga menitip salam untuk Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan juga Pemerintah Aceh. Katanya dana otsus Aceh triliunan, tapi kehidupan tidak layak masih dirasakan oleh rakyat Aceh seperti halnya Rubiah. Informasi terakhir yang kami peroleh, rumah tempat Rubiah dan suaminya Ismail, 60 tahun, sudah roboh dihantam angin kencang.[] Foto: Rumah Rubiah sebelum ambruk oleh angin @istimewa

Iskandar PB adalah mahasiswa Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh. Ketua Aktivis Sosial Kemasyarakatan Aceh. Saat ini berdomisili di Banda Aceh.

 

Leave a Reply