Peledakan Masjid di Arab Saudi, ISIS Klaim Tanggung Jawab

Riyadh – Kelompok perlawanan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas ledakan bom bunuh diri di dalam masjid markas pasukan khusus Arab Saudi, Kamis, 6 Agustus 2015.

Insiden ledakan yang menewaskan 15 orang tersebut menurut juru bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi dilakukan oleh teroris. “Insiden mematikan yang dilakukan kelompok teroris itu berlangsung saat jemaah sedang salat di Kota Abha, sebelah selatan Provinsi Asir,” ucapnya.

Pejabat lain yang tak bersedia disebutkan namanya mengatakan, bom bunuh diri itu merenggut 12 anggota Unit Senjata dan Taktik Khusus (SWAT) dan tiga pekerja di kompleks markas pasukan khusus. Sebelumnya, sejumlah media di Arab Saudi menyebutkan angka korban tewas adalah 17 orang.

Televisi Arab Saudi mengatakan, informasi sementara menunjukkan bahwa ledakan berlangsung setelah seorang pelaku bom bunuh diri memicu bahan peledak yang dililitkan di tubuhnya.

Seorang pengamat politik Arab Saudi mengatakan sebelumnya, jika memang terbukti benar bahwa serangan terkini tersebut dilancarkan oleh ISIS, maka dengan demikian target perlawanan ISIS saat ini adalah pasukan keamanan dalam negeri Kerajaan.

“Begini kawan, mereka berada di medan tempur bersama kami,” kata Jamal Khashoggi kepada Al Jazeera. “Mereka mengguncang negeri kami.”

Serangan bom pada Kamis petang, 6 Agustus 2015, waktu setempat, dianggap peristiwa sangat serius dalam upaya melawan pasukan keamanan Arab Saudi. Kerajaan ini telah bersumpah menumpas kelompok ISIS.

Pada pertengahan Juli 2015, sebuah bom mobil meledak di pos keamanan dekat rumah tahanan di ibu kota Riyadh. Ledakan tersebut, kata Menteri Dalam Negeri, menewaskan seorang sopir berusia 19 tahun dan melukai dua polisi. | sumber: tempo.co

Foto: Seorang pria melihat dari dekat sebuah tangki penampungan, yang hancur akibat serangan bom. Kantor berita Saba melaporkan bahwa, serangan Arab Saudi menewaskan sejumlah insinyur dan sejumlah warga sipil yang berada di pabrik pengolahan semen. Yaman, Amran, 27 Juli 2015. REUTERS / Khaled Abdullah