Orang-orang Ini Dulu Hidup Pas-pasan Kini Jadi Jenderal

Perjalanan hidup seseorang berubah jika dia mau berusaha. Sejumlah nama jenderal polisi ternyata lahir dari keluarga pas-pasan. Berkat kerja keras akhirnya nasib mereka bisa berubah.

Kepala BNN Komjen Budi Waseso misalnya, sewaktu masih berpangkat Kapten, Buwas yang sudah menikah dan memiliki anak satu merasa memiliki beban dan tanggung jawab besar untuk menghidupi keluarganya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa membuat fulus untuk istrinya berkurang, Buwas putar otak. Idenya ialah memanfaatkan motor Vespa yang dia beli dari temannya seharga Rp 350 ribu untuk ngojek.

Tanpa malu-malu Buwas nekat menjadi tukang ojek, di kawasan pasar Induk Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tiap pulang bertugas, Buwas mencari sewa penumpang. Uang yang ia dapat untuk memenuhi kebutuhannya sehari mulai dari ongkos hingga rokok.

“Saya berpikir bagaimana caranya gaji saya sebagai Polisi itu hanya untuk keluarga. Sementara untuk rokok dan uang bensin harus saya cari sendiri,” ujarnya dengan suara serak.

Selain mengojek, Budi Waseso juga pernah menjadi calo bahan bangunan. Biasanya saat mengojek apabila melihat ada perumahan yang sedang dibangun, dia langsung menghampirinya dan berbicara dengan sang mandor untuk menawarkan bahan bangunan, seperti pasir, semen dan batu bata. Setiap menjual bahan bangunan, Buwas mengambil selisih Rp 5.000 dan uangnya untuk tabungan.

“Lumayan bisa dapat untung Rp 5.000. Jadi mereka mesan apa, saya carikan harga yang termurah. Modalnya kejujuran, kalau ada niat pasti ada jalan,” jelasnya.

Jenderal Sutarman saat kecil tak punya waktu untuk istirahat karena usai pulang sekolah dirinya langsung terjun ke sawah untuk menggembalakan kerbau. Sebab Tarman sadar, dirinya berasal dari keluarga kurang mampu di kampungnya Dukuh Dayu RT 03 RW XI, Kelurahan Tawang, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.

Pawiro Miharjo (83), ayah Sutarman mengatakan anaknya memang tipikal pria yang tak mau menambah beban orang tuanya. Segala macam pekerjaan digeluti Tarman agar dapur orang tuanya ngebul. Dari kuli bangunan, mencangkul di sawah, ataupun pekerjaan berat lainnya, semua pekerjaan itu dilakukan usai pulang sekolah.

“Sutarman itu anak yang pintar, disiplin, rajin dan pekerja keras. Sejak SD sampai STM selalu membantu orang tuanya dengan berjualan bambu, bekerja di sawah sampai angon kebo (menggembala kerbau),” kata Sugimin, Ketua RW 011 Dukuh Dayu.[] Sumber: merdeka.com

Foto: Budi Waseso