Home Headline Nisan Sultan Iskandar Muda Belum Ditemukan?

Nisan Sultan Iskandar Muda Belum Ditemukan?

430
0

BANDA ACEH – “La ilaaha ilallah, nisan ini nisan inangda/baginda/ananda, Syah ‘Alam Raja Iskandar Muda.” Demikian nukilan kaligrafi yang terukir di salah satu nisan kuno, yang diperlihatkan Duta Nisan Aceh, Mizuar Mahdi, Selasa, 7 April 2015 lalu.

imageMizuar menceritakan, nisan ini ditemukan di kawasan kompleks makam Sultan Saidil Mukamil dibelakang toko Serikat, Pasar Aceh, Banda Aceh. Tepatnya di Jalan KH Ahmad Dahlan. Dokumentasi nisan tersebut berhasil dikoleksi Mizuar Mahdi meski benda itu tidak diketahui lagi dimana rimbanya.

“Kompleks makam ini sudah diratakan dengan beko saat rehabilitasi dan rekosntruksi tsunami lalu,” kata Mizuar kepada portalsatu.com.

Menurut Mizuar, nisan ini memiliki empat sisi yang memiliki ukiran kaligrafi dan menjelaskan siapa empunya makam. Di sisi lainnya juga terdapat ukiran lain yaitu, “Inilah kubur dan nisan anangda/baginda/inangda raja, Iskandar Muda Jauhan Berdaulat.” Sementara di sisi lain nisan yang sama juga terukir, “Dalam negeri Aceh.”

image_1Ukiran kaligrafi ini membuat Mizuar menduga nisan tersebut merupakan makam milik Sultan Iskandar Muda. “Inilah yang kita sebut nisan para Raja Aceh yang belum ditemukan. Makam Sultan Iskandar Muda yang ada di Gedung Juang itu kan bisa saja cuma monumen. Apalagi makamnya dibeton yang dibuat pada awal kemerdekaan Indonesia, sekitar 1950-an. Contohnya kompleks makam Kandang XII, itu kan terbuat dari perak, masak makam Sultan Iskandar Muda hanya dari semen biasa,” katanya.

Ia mengatakan sedikitnya terdapat empat makam Raja-raja Aceh yang hingga kini belum ditemukan selain makam Sultan Iskandar Muda. “Makam itu adalah milik Sultan Firmansyah, makam Sultan Alaudin Riayat Syah atau dikenal Saidil Mukammil, makam Sultan ‘Ali Riayat Syah, dan makam Sultanah Tajul ‘Alam Safiatuddin,” katanya.

Menurutnya kelima Sultan Aceh tersebut merupakan satu dinasti yaitu dari Dinasti Darul Kamal. “Jika kita melihat kecenderungan kompleks pemakaman raja-raja di Aceh, seperti kompleks Kandang XII, seharusnya makam para raja itu berada di satu tempat dan tidak terpisah. Inilah yang membutuhkan penelitian lebih lanjut,” katanya.[]