Nestapa Pengungsi Suriah

WAJAH bocah tiga tahun itu tertelungkup. Separuh wajahnya menyentuh pasir pantai. Persis seperti pose bayi yang tengah tertidur lelap. Begitu tenang dan damai.

Namun anehnya ia tak bergerak saat hempasan ombak laut berulang kali menyapu wajahnya. Dia tetap bergeming. Hanya tangannya sesekali bergerak lemah mengikut sapuan ombak. Ada yang salah di sini. Setelah didekati, bocah itu ternyata sudah tak lagi bernyawa.

Bocah itu masih mengenakan kaus merah, celana biru, dan sepatu kecil lengkap. Pertanda jasad itu baru saja tenggelam dan terbawa ombak hingga ke pantai

Bocah kecil itu adalah satu dari 12 orang yang tewas tenggelam di lepas pantai Turki. Sempat terombang-ambing di lautan, jasad mereka terhempas ke pinggiran pantai Turki.

Bocah malang dan keluarganya itu adalah warga keturunan Kurdi. Mereka adalah pengungsi Suriah yang berusaha menggapai tanah harapan di Vancouver, Britis Columbia.

Bocah malang itu bernama Aylan Kurdi.

Belakangan, diketahui tak hanya Aylan yang mesti berkalang nyawa. Kakaknya, Galip, dan ibu mereka, Rehen, ikut menemaninya menemui Sang Pencipta ketika kapal mereka pecah di laut lepas.

Foto Aylan yang terdampar sendirian dengan seorang polisi yang berdiri di dekatnya segera mendunia. Foto itu tersebar luas secara viral di dunia maya. Jagat maya geger. Twitter berhastag #KiyiyaVuranInsanlik atau Terkaparnya Kemanusian tersebar luas.

“Dunia harus malu!” cuit Burhan Akman dalam akun Twitternya.

Ia menambahkan, “Saya melihat manusia tapi tak ada kemanusian.”

***

Foto bocah malang Aylan Kurdi menghentak cepat rasa kemanusiaan penduduk dunia. Seorang bocah bersama dua anggota keluarga lainnya harus merenggang nyawa demi kehidupan lebih baik. Mereka tersingkir dari tanah kelahirannya akibat perang berkepanjangan.

Negeri asalnya, Suriah, adalah sebuah cerita kelam tentang perang sipil bersaudara yang tak berkesudahan. Dimulai pada tahun 2011, konflik tak kunjung mereda. Bahkan semakin parah. Meninggalkan kota-kota dalam kerusakan.

Ketidakpuasan terhadap pemerintah serta pertentangan aliran membuat perdamaian sulit tercapai.

Alhasil, Suriah jadi lahan subur bagi tumbuhnya kelompok radikal. Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) pun lahir di sana. Kini perang berkepanjangan terus bergejolak. Menghancurkan masa depan setiap manusia di sana.

Amnesty International menyebut konflik di Suriah telah merenggut nyawa 220 ribu orang. Sebanyak 12,8 juta lainnya membutuhkan bantuan kemanusian. Lebih dari 50 persen populasi Suriah kini mengungsi.

Organisasi pengungsi PBB, UNHCR menyebut 4.087.139 pengungsi terkena dampak dari kekerasan yang terjadi di Suriah.

Lebih dari 2,9 juta orang Suriah kini terperangkap di dalam negaranya sendiri. Tersiksa dengan ketiadaan makanan dan infrastruktur yang memadai.

Aylan Kurdi, Galip, dan Rehan hanyalah tiga dari ribuan manusia yang mesti bertarung nyawa dalam upaya pengungsiannya. Sementara antrean panjang warga Suriah terus bergerak mencari negeri harapan baru.

Secara gerografis, para pengungsi sulit masuk ke Arab Saudi. Melalui jalur darat mereka harus melewati Irak yang juga tengah bergolak. Sebagian memang ada yang berhasil lolos. Mencari kehidupan baru di tanah-tanah Negeri Pertodollar.

Kini harapan muncul dari Benua Biru, Eropa. Dengan berjalan kaki sepanjang 200 kilometer melalui daratan atau naik kapal melewati Turki, mereka bermimpi bisa tiba di daratan Eropa.

Gelombang pengungsi pun mulai terjadi. Jerman, Inggris, Perancis, dan Swedia adalah sedikit dari Negara Eropa yang mau menerima. Tapi kondisi sekarang sudah berbeda.

Banyak penduduk negara itu mulai menolak. Dan tak semua pemimpin negara Eropa berani melawan. Meski sebagian lagi bersikukuh membuka diri menampung pengungsi dengan alasan kemanusian.

Malang tak dapat dicegah, tak semua pengungsi berhasil menggapai mimpinya. Dalam setahun sudah lebih dari 2.600 orang tewas saat berusaha melintasi Mediterania menuju Eropa.

Itu menjadikan Eropa sebagai titik mematikan para pengungsi di dunia. International Organization for Migration bahkan khawatir angka itu akan terus bertambah.

Hampir tigaperempat dari kematian pengungsi di dunia pada tahun ini terjadi d Mediterania. Angka kematian kini sudah 20 persen lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

***

Kematian Aylan Kurdi bukanlah satu-satunya kisah pilu kemanusian di tanah Eropa. Bocah ini hanyalah puncak dari gunung es tragedi pengungsi Suriah. Beragam perjuangan berat mesti dilalui pengungsi Suriah untuk tiba di Negeri Harapan baru.

Simaklah perjuangan para pengungsi yang menyusuri Rute Balkan. Dimulai dari Turki, Yunani, Macedonia, Serbia dan berakhir di Hungaria, mereka berjalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer.

Dari ratusan mungkin ribuan pengungsi, lensa kamera sempat menangkap momen pilu yang menyesakkan dada. Tak bisa berjalan normal, seorang remaja rela menggendong adiknya yang cacat menyusuri rute Balkan.

Peluh keringat tak hanya dirasakan para pengungsi yang berusaha menggapai negeri impian. Abdul, pria paruh baya yang sudah keluar dari kecamuk perang Suriah, masih harus berjuang memulai hidup baru di Libanon.

Sambil menggendong putrinya di bahu kanan, tangan kirinya menggenggam beberapa pucuk pena. Abdullah mencari uang dengan cara itu di jalanan kota Beirut.

“Ini gambar yang emosional. Anda lihat raut wajahnya dan cara dia memegang pena yang seakan hidupnya bergantung pada pena-pena itu,” ujar seorang aktivis asal Islandia yang tinggal di Norwegia, Gissur Simonarson, seperti dikutip dari CNN.

Namun nasib baik menghampiri Abdullah. Kemurahan hati netizen yang tergugah lewat foto Simonarson menyelamatkan hidupnya. Sumbangan uang mengalir deras. Hanya 30 menit setelah foto itu tayang, sumbangan senilai Rp 70 juta dari seluruh dunia mengalir ke kantong indiegogo.com, sebuah website komunitas yang digunakan unruk mewartakan penderitaan penjual pena itu.

Aliran uang terus mengalir cepat. Ketika media ikut memberitakan perjuangan Abdul, seluruh dunia ikut tersentuh. Kini, sumbangan untuk Abdul sudah mencapai hampir US$ 190 ribu atau sekitar Rp 2,7 miliar.

Angka yang sangat fantastis bagi solidaritas para pengguna dunia maya.

Kematian bocah malang Aylan Kurdi dan perjuangan Abdul Halim Attar serta ribuan pengungsi lainnya memang telah membuka mata dunia. Kekerasan dan perang sudah pasti bukanlah jalan bagi kemanusiaan.

Peperangan hanya bisa memproduksi kematian baru yang tak perlu. Tak terkecuali kematian seorang bocah pengungsi tiga tahun yang terdampar di pantai seperti Aylan.[] sumber: dream.co.id