Mengapa Warga Suriah Memilih Eksodus ke Eropa?

MUENCHEN – Ada tanda tanya besar saat ratusan ribu warga Suriah melakukan eksodus menuju negara-negara Eropa, seperti Hungaria, Austria, Jerman, dan Inggris. Mengapa Eropa? Mengapa tidak pergi ke negara-negara Arab yang kaya minyak?

Menurut International Business Times, ada beberapa faktor Eropa menjadi magnet besar bagi warga Suriah. Salah satu magnet itu adalah niat baik dari negara seperti Jerman. Selain ekonominya yang kuat, pemerintahan Kanselir Angela Merkel juga berjanji tidak akan menepatkan batasan soal jumlah aplikasi suaka.

“Tidak akan ada batas atas yang ditetapkan pada penerimaan orang-orang yang melarikan diri penganiayaan dan membutuhkan perlindungan,” kata Manfred Schmidt, Kepala Migrasi Jerman, pekan lalu.

Ini berbeda dengan negara-negara Teluk yang cenderung diam terhadap pengungsi. Secara geografis, para pengungsi Suriah memang lebih mudah menuju Eropa ketimbang ke Arab Saudi, misalnya. Untuk ke Arab, warga Suriah harus melewati negeri konflik lain, seperti Libanon dan Irak. Sedangkan untuk ke Eropa, mereka tinggal menyeberang ke Turki atau Yunani. Lalu dengan naik bus, berjalan kaki atau naik kereta menuju Hungaria, Austria, dan Jerman. Menurut The Guardian, rute favorit mereka adalah Istanbul (Turki)-Athena (Yunani)-Subotica/Rozke/Kanjiza-Budapest (Hungaria).

Jumlah pengungsi dari daerah konflik Timur Tengah setidaknya 350 ribu yang mencapai perbatasan Uni Eropa. Sabtu lalu, ribuan pengungsi yang sebagian besar lari dari perang di Suriah itu pergi dari Hungaria setelah mendapatkan perlakuan keras dari pemerintah. Mereka melintasi Austria dengan tujuan Jerman. “Perang telah merampok impian kami, mencuri rumah-rumah kami,” kata Ahmad Yusuf, 62 tahun, pengungsi asal Suriah.

Di antara negara Uni Eropa, Jerman muncul sebagai tujuan favorit para pencari suaka dan imigran. Lebih dari 3.000 pengungsi yang Sabtu lalu tiba di Kota Muenchen pada tengah hari dan secara keseluruhan akan ada sekitar 7.000 yang akan datang pada hari itu.

Reaksi orang Jerman untuk pendatang baru memang belum sepenuhnya positif. Pegida, kelompok anti-Islam yang memproklamasikan diri sebagai neo-Nazi, telah berusaha mencegah para pengungsi memasuki negara itu dengan melakukan protes keras dan bahkan menyerang kamp-kamp pengungsi. Freital dan Heidenau, dua kota kecil di tenggara Jerman, dikenal sebagai tempat subur bagi kekerasan terhadap pengungsi.

Namun banyak juga penduduk setempat yang menyambut para pengungsi dengan tangan terbuka seperti yang ditunjukkan di stasiun Muenchen, Sabtu lalu. Sekelompok warga berkumpul di sana menyambut para pengungsi, membagi-bagikan permen dan air. Pengungsi, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tersenyum saat orang bertepuk tangan dan berteriak, “Selamat datang di Jerman!” ketika mereka tiba di stasiun kereta api.

“Pada kenyataannya, kehidupan seperti yang kita alami di sini sudah jauh lebih beragam,” kata Presiden Jerman Joachim Gauck soal sikap warganya itu.

Pihak berwenang mengatakan Jerman diperkirakan menerima 800.000 aplikasi suaka pada akhir tahun. “Biaya untuk menangani ratusan ribu pengungsi itu bisa US$ 2-3,6 juta,” kata Menteri Tenaga Kerja Jerman Andrea Nahles.[] sumber: tempo.co