Lingkungan Rumah Berkubang, ‘WC Terbang’ Jadi Alternatif Warga di Aceh Utara

LHOKSUKON – Sekitar 20 unit rumah di Desa Nga, Kemukiman Matang Ubi, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara terendam dan berkubang lumpur. Kondisi itu terjadi akibat disumbatnya saluran air di desa setempat oleh salah seorang pemilik tanah.

Rumah yang berkubang itu di antaranya milik Ilyas (40), Abdurrahman Risyen (45), Salamah Aji (42), Habibah (70), Muslem (32) Salamah Abdullateh (60), Razali (36), Ridwan Aji (33), dan Aminah (50).

“Sejak lima bulan terakhir halaman rumah kami yang dulunya kering berubah menjadi kubangan. Jika hujan deras sehari saja, maka air kubangan lumpur hitam itu akan masuk hingga ke dalam rumah,” kata Habibah, 70 tahun saat ditemui portalsatu.com, Sabtu 22 Agustus 2015.

Janda miskin itu mengatakan, ia tinggal berdua bersama anaknya Aidil Fitri, 30 tahun yang sejak 10 tahun terakhir mengalami gangguan mental. Sedangkan anak-anaknya yang lain telah menikah dan tinggal terpisah. Beberapa di antaranya juga tinggal di kawasan berkubang tersebut.

“Lihatlah jalan menuju rumah saya. Anak-anak terpaksa menebang pohon yang dijadikan layaknya jembatan kecil untuk menuju ke rumah saya. Halaman rumah penuh air kubangan. Tapi apa mau dikata, kami orang miskin biasa ditindas oleh orang kaya,” ujarnya.

Kondisi itu dibenarkan Muslim, 28 tahun. Ia mengaku sangat risau dengan kondisi tersebut, mengingat ia memiliki anak yang berusia 5 tahun dan selalu bermain dalam kubangan.

“Rumah kami memang sudah jelek, ditambah lagi air kubangan yang membuat pemandangan semakin kumuh dan rawan penyakit. Anak- anak di sini kerap gatal-gatal. WC warga di sini pun tidak dapat difungsikan lagi karena pembuangannya terendam air. Sehingga, ‘WC terbang’ jadi solusi terakhir,” kata Fitriani, 27 tahun, istri Muslim.

Menurut mereka, salah seorang pemilik tanah di desa setempat menutup saluran buang (parit), sehingga air tidak dapat mengalir dan menggenangi lingkungan rumah warga.

“Kami sudah laporkan ke keuchik. Kepada pemilik tanah kami juga sudah minta beli lahannya sedikit untuk dijadikan parit, tapi yang bersangkutan tidak mau menjualnya. Ia juga tidak mengizinkan kami membuka parit, padahal kami cuma minta sedikit,” ujar sejumlah warga saling membenarkan.

Habibah menimpali, “Troh hate di eu kamo lage nyoe. Uroe malam lam kubang. Padahal awai hana lage nyoe. Memanglah ureung kaya. (Sampai hati melihat kami begini. Siang malam dalam kubangan. Padahal sebelumnya tidak begini. Memanglah orang kaya).”

Sementara itu Keuchik Desa Nga, Sofyan secara terpisah membenarkan kondisi miris tersebut. Namun demikian ia mengaku sudah kehabisan akal menghadapi pemilik tanah yang dimaksud warga tersebut.

“Konflik ini terjadi setelah perpindahan kepemilikan tanah yang sudah dijual oleh pemilik aslinya. Saya sudah datangi pemilik yang sekarang untuk bermusyawarah terkait kondisi warga sekitarnya, namun tidak ada solusi. Pemilik tanah tidak memberi izin di tanahnya dibuatkan parit. Saya minta beli juga tidak dikasih,” jelasnya.

Sofyan menambahkan, permasalahan ini sudah dilaporkan ke Muspika. Bahkan pihak Babinsa Koramil 08 Lhoksukon juga sudah datang ke lokasi, tapi tidak juga ada titik temu.

“Saya sudah menaikkan permasalahan ini dalam musrembang kecamatan 2015, agar bisa dibantu pembersihan parit jalan. Saat ini saya hanya bisa menunggu pihak kecamatan turun. Ini permasalahan yang rumit, makanya kami butuh bantuan pihak kecamatan. Kasihan warga yang tinggal dalam kubangan, banyak anak-anak juga,” pungkasnya.[]

Foto: Kondisi rumah warga yang berkubang di Desa Nga, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com

Leave a Reply