Kitab Masailal Dibicarakan di Kemah Sastra Hamzah Fansuri

BANDA ACEH – Sekolah Hamzah Fansuri (SHF) melaksanakan Kemah Sastra Hamzah Fansuri (KSHF) dalam rangka meramaikan Kemah Seniman Aceh ke 4, di Jantho, Aceh Besar, 11-13 September 2015.

Dalam kemah tersebut, SHF mengadakan diskusi tentang kitab Masailal Muhtadi li Ikhwanil Mubtadi karangan Syekh Baba Daud Rumi. Baba merupakan ulama Aceh turunan Turki, murid Syekh Abdurrauf Syiah Kuala.

Pengurus SHF, Thayeb Loh Angen, dalam pengantar diskusi, mengatakan, kitab Masailal berisi dasar-dasar agama Islam yang gaya penulisannya unik berisi pertanyaan dan jawaban.

Kitab Masailal menjadi pelajaran wajib bagi setiap anak Aceh selama beberatus tahun, sampai kini. Dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan) bersejarah, kitab Masailal banyak ditemukan.

“Di antaranya, ada 11 buah naskahnya berada di dalam koleksi Masykur. Kolektor Manusrip kelahiran 1997 ini telah menyimpannya selama setahun terakhir di museum manuskripnya ‘Pedir Museum’,” kata Thayeb.

“Pengakuan untuk kehebatan sastra kitab Masailal, datang dari para pakar di dalam dan luar Aceh. Di antaranya, dari seorang peneliti independen dari Istanbul Turki, Dr Mehmet Ozay. Ia mengatakan, kitab Masailal ikut mempengaruhi cara berpikir Aceh dan negeri lainnya, dari kecil sudah dididik menjadi kritis,” kata Thayeb.

Seorang akademisi bidang sastra, Muhammah Rain, dalam acara tersebut membicarakan tentang puisi, syair, nazam, dan hikayat.

“Puisi terikat dengan aturan dan prosa terlepas darinya namun harus memiliki tokoh. Karenanya, nazam dan syair dapat digolongkan ke dalam puisi” kata lekaki yang biasa dipanggil Muhrain dan suka menulis puisi ini. [] (mal)

Leave a Reply