Kesaksian Bocah SD yang Kepalanya Diduga Dimartil Guru

LHOKSUKON – Bocah lelaki berkulit coklat itu duduk termangu di teras rumahnya yang bercat putih. Di sisi kanan terlihat beberapa orang sedang berbincang-bincang. Ia duduk menyandarkan dagunya di atas lutut yang ditekuk. Pandangannya menatap lurus ke depan memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain.

“Piyoh, jeh pat adek loen. Nyoe ka lumayan lah. Ka item duk ie keu rumoh, sabab rame ngen nyang troh (Mari singgah, itu adik saya. Ini sudah lumayan ‘lah. Sudah mau duduk di depan rumah, karena ramai teman-temannya yang datang),” kata Efendi, 27 tahun, saat portalsatu.com tiba di rumahnya.

Efendi merupakan abang kandung F, 12 tahun, siswa SD Negeri 7 Matangkuli, Aceh Utara yang mengalami bocor kepala karena diduga dimartil oleh oknum guru berinisial ANT, 54 tahun, warga Desa Rayeuk Glang-Glong, Kecamatan Matangkuli.

Setelah mempersilahkan duduk di teras rumahnya, Efendi memanggil F yang langsung datang dengan langkah perlahan. Saat ditanyakan tentang kejadian yang menimpanya di sekolah hari ini, F langsung bercerita.

“Setelah waktu istirahat selesai ada tiga siswa yang berkelahi. Saya dan beberapa siswa lainnya mendekat untuk melihat. Secara bersamaan masuk guru ANT dan melerai mereka. Ia memegang tangan salah satu siswa yang berantam itu,” ujar F.

Dilanjutkan, tiba-tiba siswa lain yang tadinya terlibat perkelahian memukul kepala siswa yang tangannya dipegang guru.

“Guru itu langsung menuduh saya yang memukul kepala siswa itu, hanya lantaran saya berdiri paling depan. Setelah menuduh, guru itu memukul kepala belakang saya dengan palu dua kali. Rasanya sakit sekali,” kata F.

Setelah memukul kepala F, guru yang hendak berlalu pergi itu berbalik arah karena melihat kepala bocah tersebut mengeluarkan darah. Ia pun memegang tangan F dan membawanya ke kantor untuk diobati.

“Setelah dibawa ke kantor, guru itu mengajak saya ke rumah sakit. Tapi saya menolak dan lebih memilih pulang ke rumah. Saya pulang ke rumah sambil menangis sepanjang jalan,” kata F.

Saat ditanyakan, apakah besok dia akan pergi ke sekolah seperti biasanya? F menjawab, “Saya takut ke sekolah karena malu nantinya diejek teman-teman.”[](bna)

Leave a Reply