Home News Kasus Pembunuhan Tinggi, Irwandi: Sudah Selayaknya Qanun Qishas Diberlakukan di Aceh

Kasus Pembunuhan Tinggi, Irwandi: Sudah Selayaknya Qanun Qishas Diberlakukan di Aceh

62
0

BANDA ACEH – Kasus pembunuhan kian marak terjadi di Aceh. Dalam dua pekan terakhir saja, tiga kasus pembunuhan terjadi di Aceh seperti di Aceh Besar, Pidie, dan Nisam Antara. Hal ini pula yang membuat Aceh memerlukan sebuah aturan hukum tegas.

“Aceh sudah selayaknya menerapkan aturan hukum berupa Qanun Qishas. Dan ini (Qanun Qishas) sudah saya paparkan di depan Duta Besar Eropa, terkejut dia, gawat that lagoe (gawat sekali),” ujar mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf kepada portalsatu.com, Selasa sore, 31 Maret 2015.

Politisi Partai Nasional Aceh (PNA) ini menilai, Aceh memang telah memerlukan Qanun Qishas tersebut. Menurut Irwandi qanun ini bisa menjadi pencegah tingginya kasus-kasus pembunuhan di Aceh.

“Dia (Dubes Eropa) mengatakan pembunuhan itu kan tidak simple, na yang diyue lee gop (ada yang disuruh). Saya menjawab, ya itu akan na (ada) kalkulasi dan pertimbangan yang lain: pembunuhan nyoe terjadi karena peu? (pembunuhan ini terjadi karena apa?),” ujar Irwandi.

Irwandi menegaskan dalam hukum Islam siapapun yang menyuruh membunuh atau mendukung pembunuhan akan dianggap sebagai pembunuh juga. “Yang disuruh juga kena sebagai pembunuh, sebab orang yang disuruh itu memiliki pikiran dan nurani sendiri. Itu salah apa benar. Dalam Islam cukup tegas, hanya tiga perkara orang lain bisa dibunuh. Pertama dia membunuh, kedua karena menyebabkan kerusakan di muka Bumi. Ketiga, saya lupa, ada tiga intinya,” katanya.

Namun menurut Irwandi, pembunuhan seperti itu tidak dilakukan oleh rakyat atau individu-individu, melainkan negara melalui keputusan pengadilan. “Makanya harus ada qanun supaya bisa diadili, dieksekusi oleh jaksa, oleh negara. Kon lee teungku-teungku hana ta tune (bukan masyarakat biasa), kecuali dalam mempertahankan nyawa atau membela diri dan keluarga. Datang perampok malam ke rumah, ta tak laju jih hana masalah (kita bacok saja tidak masalah),” ujarnya.

Irwandi mengatakan sistem hukuman ini cenderung sama dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara di Arab. “Hukumannya bisa berupa pancung, apa tembak atau gantung,” katanya.

Mantan propaganda Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini tidak menyangkal salah satu penyebab tingginya angka pembunuhan di Aceh lantaran konflik berkepanjangan. Menurutnya dulu spot-spot yang kerap terjadi pembunuhan bisa dipetakan seperti di Aceh Besar yaitu di Piyeung dan Leupueng, Pidie di Ulee Glee, dan salah satu daerah di Aceh Utara.

Di Leupeung nyan, ta ba moto bicah manok mantong dikeroyok matee teuh (Di Leupueng itu, kita bawa mobil tabrak ayam saja dikeroyok hingga tewas). Namun sekarang, pembunuhan itu menggejala. Orang Aceh itu tidak tahu lagi bahwa membunuh itu adalah dosa besar. Ta beudoh ta ceramah ta peugah lagee nyan, efektif bagi orang yang ikut hukum, tapi tidak bagi orang yang tidak sadar hukum atau tidak memiliki pendidikan,” katanya.

Irwandi menilai konflik telah berpengaruh besar terhadap mental masyarakat Aceh saat ini. Ia mengatakan orang Aceh sangat banyak mengalami gangguan jiwa. “Tapi gangguan jiwa itu belum bisa dibilang gila dan orang seperti ini masih bisa dihukum jika membunuh orang,” ujar Irwandi.[]