Kabut Asap Selimuti Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE – Kota Lhokseumawe kembali dikepung asap tebal pada sejak pagi Senin, 5 Oktober 2015. Salah satu kawasan yang tampak jelas diselimuti kabut asap adalah Waduk Pusong-Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lhokseumawe, Muhammad Syifaul Fuad kepada portalsatu.com mengatakan, kabut tersebut disebabkan akibat titik api di sebagian wilayah Provinsi Jambi, Pekanbaru, dan Sumatera Selatan kembali bertambah.

“Pergerakan anginnya mengarah ke wilayah Aceh, maka dengan itu kabut asap pun ikut mengarah, sehingga Kota Lhokseumawe dan sekitarnya kembali pekat dengan asap kiriman,” kata Syifaul.

Syifaul mengatakan jarak pandang untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya mencapai 2 kilometer sejak 1 Oktober 2015 kemarin. Kondisi jarak pandang seperti ini masih memasuki kategori normal dalam aktivitas umum.

“Namun untuk aktivitas penerbangan kondisi seperti ini sangat terkendala,” katanya.

Dia berharap para pengguna jalan raya harus tetap berhati-hati saat melintas di jalan dengan kondisi seperti ini.

“Untuk menjaga kesehatan dari penyakit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa), sebaiknya menggunakan masker saat keluar rumah dan jika berkendara agar tetap menghidupkan lampu depan,” ujarnya.[](bna)

Kabut Asap Selimuti Lhokseumawe

KABUT asap kembali menyelimuti kawasan Lhokseumawe sejak dua hari terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah membahas kejadian ini dengan Dinas Kesehatan setempat.

“Sejak kemarin kabut asap mulai mengganggu jarak pandang kita, persis seperti kejadian pada Februari lalu, (jarak pandang) hanya sekitar 100 meter,” kata Munzir, warga Lhokseumawe, kepada ATJEHPOST.CO, Kamis, 18 September 2014.

Nurdin, nelayan Desa Ujong Blang, Lhokseumawe, mengatakan, biasanya jarak pandang saat melaut mencapai 2 mil. “Saat ini jarak pandang kurang dari 1 mil akibat kabut asap,” ujarnya.

Kepala BPBD Lhokseumawe, Bakhtiar, mengatakan kabut asap di kota ini diduga ekses kebaran lahan di Jambi. “Juga dari kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah di Aceh,” katanya.

Menurutnya BPBD sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan terkait antisipasi jika kabut asap semakin meningkat. Sejauh ini, katanya, kabut asap di Lhokseumawe belum berbahaya bagi pengguna kendaraan sebab jarak pandang masih di atas 100 meter.

“Yang berbahaya (jarak pandang) kurang dari 50 meter, tapi kita tetap harus waspada. Kita sarankan masyarakat memakai masker atau pencegahan lainnya, sebab kabut asap ini berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan,” katanya.

Kabut asap juga menyelimuti Lhokseumawe dan sekitarnya pada Februari 2014 lalu. Saat itu, Kepala BPBD Lhokseumawe Bakhtiar mengatakan kabut asap berasal dari kebakaran hutan di Singkil, Pidie, dan Nagan Raya.[]

Kabut Asap Selimuti Lhokseumawe

Kabut asap menyelimuti Lhokseumawe dan sekitarnya sejak Sabtu lalu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lhokseumawe sedang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi dampak buruk terhadap masyarakat jika kabut asap semakin tebal.

“Sejak Sabtu sudah mulai terlihat kabut asap, dan semakin meningkat pada Minggu sampai hari ini. Tidak hanya di Lhokseumawe, tapi juga di Aceh Utara dan Bireuen,” kata Kepala BPBD Lhokseumawe, Baktiar, kepada atjehpost.com, pukul 09.50 WIB, Selasa, 18 Februari 2014.

Informasi diterima Bakhtiar, kabut asap tersebut berasal dari kebakaran hutan di Singkil, Pidie, dan Nagan Raya. Sejauh ini, kata dia, akibat kabut asap jarak pandang masih tembus 75 hingga 150 meter.  

“Kami terus memantau perkembangan di lapangan, saat ini sedang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Lhokseumawe untuk mengetahui apakah ada dampak terhadap kesehatan masyarakat, dan apa saja langkah-lagkah antisipasi yang perlu kita ambil. Kita juga berkoordinasi dengan BPBA (Badan Penanggulangan Bencana Aceh),” ujar Bakhtiar.

Panglima Laot Blang Mangat, Lhokseumawe, M. Ali mengatakan kabut asap belum berdampak terhadap aktivitas nelayan. “Beberapa hari terakhir memang tampak kabut asap, tapi belum menghambat nelayan yang melaut karena jarak pandang masih tembus hingga dua mil,” katanya.

Hal senada disampaikan Malikussaleh, 38 tahun, nelayan di Kuala Jangka, Bireuen, saat dihubungi lewat telpon seluler. “Memang meusagop, tapi jarak pandang masih tembus dua mil, dan kami masih bisa melaut seperti biasa,” ujar dia.[]

Leave a Reply