Ini Sebenarnya Isi Instruksi Wali Kota Illiza Soal “Jam Malam”

BANDA ACEH – Instruksi Wali Kota Banda Aceh yang didalamnya mengatur jam kerja perempuan di tempat wisata, rekreasi, hiburan dan cafe menjadi pemberitaan hangat belakangan ini. Bahkan intruksi ini menjadi trending topic di kalangan netizen yang kemudian dikenal menjadi ‘jam malam’.

Bagaimana isi sebenarnya Instruksi Wali Kota Banda Aceh tersebut?

Dalam intruksi Wali Kota Nomor 2 tahun 2015 tentang pengawasan dan penertiban pelayanan tempat wisata/rekresai/hiburan, penyedia layanan internet, cafe/sejenisnya dan sarana olahraga di Banda Aceh, sebenarnya tidak pernah disebutkan istilah ‘jam malam’.

Menurut Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, SE, dalam instruksi ini tidak disebutkan pelarangan bagi kaum perempuan ke luar rumah pada malam hari.

“Yang ada hanya mengatur mengawasi pembatasan jam kerja hingga pukul 23.00 WIB bagi karyawati (pekeja perempuan) di tempat wisata, rekreasi, hiburan, penyedia layanan internet, cafe sejenisnya dan sarana olahraga,” ujar Wali Kota Illiza, seperti siaran pers yang dikirim Humas Pemko Banda Aceh, Jumat, 12 Juni 2015.

Sementara poin yang mengatur jam kerja perempuan tersebut berada di nomor 13 dalam instruksi ini. Illiza mengatakan instruksi ini sebenarnya berawal dari instruksi Gubernur Aceh nomor 02/INSTR/2014 tentang Penertiban Cafe dan Layanan Internet se-Aceh. Dalam instruksi yang ditujukan untuk Wali Kota/Bupati se Aceh ini, pada nomor tiga poin f, menyebutkan dilarang melayani pelanggan wanita di atas pukul 21.00 WIB kecuali bersama mahramnya.

Illiza mengatakan menindaklanjuti hal tersebut Pemko Banda Aceh melakukan kajian lebih dalam. Akhirnya dia menuangkan dalam Instruksi Wali Kota bahwa para pekerja dari kalangan perempuan yang bekerja di Banda Aceh hanya boleh hingga pukul 23.00 WIB.

“Kebijakan ini kita ambil mengingat Banda Aceh sebagai Ibukota Provinsi memiliki tingkat kesibukan tinggi pada warganya. Sementara bagi yang berprofesi seperti dokter dan perawat tetap boleh beraktivitas seperti biasa,” kata Illiza.

Ia mengatakan dalam instruksi ini juga diatur pelayanan terhadap anak di bawah umur, dimana hanya dibolehkan hingga pukul 22.00 WIB. “Namun kalau mereka keluar didampingi orang tuanya, kita tidak akan melarang,” ujarnya.

Terkait dengan tudingan diskriminatif terhadap perempuan, Illiza mengaku bingung. Pasalnya, kata dia, selama ini pihaknya justru sangat mendorong peningkatan kapasitas perempuan.

“Banda Aceh adalah kota yang ramah gender yang sangat menghargai keberadaan perempuan. Kita melibatkan perempuan dalam pembangunan kota melalui Musyawarah Aksi Perempuan (Musrena). Perempuan Banda Aceh juga memiliki Balee Inong, WDC. PUEM juga, dana ini 80 persen kita serahkan untuk perempuan,” katanya.

Illiza mengaku selama ini termasuk salah satu orang yang sangat memperjuangkan hak-hak perempuan. “Saya pejuang perempuan, gak mungkinlah saya korbankan hak-hak perempuan,” ujarnya.[](bna)

Leave a Reply