Home News Ini Kata Wakil Ketua DPR Aceh Soal Tata Cara Ibadah di Masjid...

Ini Kata Wakil Ketua DPR Aceh Soal Tata Cara Ibadah di Masjid Raya

44
0

BANDA ACEH – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Teuku Irwan Djohan, mengaku tidak tahu sama sekali soal surat edaran mengenai tata cara pelaksanaan ibadah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Padahal surat edaran ini telah dikeluarkan sejak dua pekan terakhir dan ditandatangani oleh Ketua DPR Aceh Teungku Muharuddin.

“Saya tidak tahu sama sekali mengenai surat edaran tersebut. Kapan, dan siapa saja yang hadir saya tidak tahu,” kata Irwan Djohan kepada portalsatu.com, Sabtu, 20 Juni 2015.

Teuku Irwan mengatakan tidak hanya dirinya yang tidak mengetahui adanya surat edaran ini. Para Wakil Ketua DPR Aceh yang lain juga prihal tersebut.

“Saya mengetahui hal ini setelah surat tersebut beredar luas di masyarakat,” ujarnya.

Dia mengaku juga tidak tahu apakah surat edaran ini diketahui oleh Komisi VII DPR Aceh yang membidangi tentang Agama dan Pariwisata. Bahkan, dia juga tidak tahu Komisi VII DPR Aceh ikut atau tidak dalam rapat pembahasan tata cara ibadah di Masjid Raya Baiturrahman tersebut.

“Untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa menghubungi Ustad Ghufran Ketua Komisi VII,” katanya.

Namun, terlepas dari ketidaktahuan tersebut, Irwan Djohan berharap kisruh yang terjadi di Masjid Raya dapat diselesaikan dengan baik tanpa merugikan siapapun.

“Saya yakin para ulama-ulama di Aceh punya jalan tengah dan solusi yang bagus terhadap perselisihan tersebut,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui,  netizen asal Aceh sejak dua hari terakhir ramai memperbincangkan kisruh tata cara pelaksanaan ibadah di Masjid Raya Baiturrahman. Pembicaraan ini menjadi trending topic di beberapa media sosial setelah beberapa santri dayah disebut-sebut mengeluarkan interupsi pelaksanaan ibadah Jumat pada 18 Juni 2015 lalu.

Ironisnya, perdebatan tata laksana ibadah Jumat ini telah mengarah pada klaim kebenaran beribadah antara muslim penganut salafi dengan penganut wahabi. Beberapa diantaranya menyebutkan tata laksana Jumat yang benar adalah dengan disertai dua azan dan sekali iqamah serta mengharuskan khatib memegang tongkat saat khutbah. Namun ada juga yang berpendapat tata cara tersebut bukanlah sebuah keharusan dan tidak diriwayatkan dalam hadish sahih.[](bna)