Home News Ini Faktor Penyebab Pemuda Terjebak Menjadi Teroris

Ini Faktor Penyebab Pemuda Terjebak Menjadi Teroris

86
0
SONY DSC

BANDA ACEH – Faktor penyebab anak muda terdorong melakukan kekerasan dan termotivasi untuk menjadi teroris melalui dunia maya bukan karena single faktor melainkan multifaktor. Hal ini disampaikan oleh Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjen TNI Agus Surya Bakti, di Hotel Grand Naggroe, Banda Aceh, Selasa, 29 September 2015.

“Bukan hanya satu faktor saja yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kekerasan atau menjadi teroris, melainkan multifaktor seperti masalah kemiskinan, ketidakadilan, perbedaan persepsi, tinggal di daerah miskin yang kumuh, serta tingkat pendidikan rendah dan faktor balas dendam,” kata Mayjen TNI Agus saat konferensi pers siang tadi.

Dia mencontohkan seperti adanya keluarga mereka yang terlibat dalam kelompok bersenjata dan kurang mendapat penjelasan dari masyarakat serta orangtua, sehingga menimbukan dendam. Menurut Mayjen TNI Agus hal itu banyak terjadi.

Namun faktor lain pada dimensi internasional, motif anak muda ikut terlibat dalam jaringan teroris atau tindak kekerasan karena persalahan persepsi, ketidakadilan global serta pengaruh politik luar negeri yang arogan. Sementara dimensi dalam negeri ada faktor ketidakadilan, dan persepi masyarakat merasa pemerintah tidak adil.

“Sementara pemerintah sekarang ini sudah banyak berbuat, hanya saja di sini ada komunikasi yang terputus. Kita hilangkan persepsi itu, pemerintah sudah banyak berbuat dengan program-program sosial dan program kesejahteraan seperti program ekonomi,” katanya.

Dia menyebutkan seperti kondisi ekonomi Indonesia dan nilai rupiah yang terpuruk. Menurutnya pemerintah sudah berusaha bagaimana membangkitkan kembali dan hal itu tidak mudah dilakukan. “Tetapi usaha pemerintah sudah luar biasa,” ujar Agus.

Menurutnya keterlibatan pemuda di tindak kekerasan atau jaringan teroris juga dilandasi oleh sikap mencari identitas diri. Faktor lainnya adalah pemahaman pengetahuan yang masih kurang, pemahaman agama yang masih dangkal, tapi mereka langsung ingin tampil beda.

“Di sinilah dia termotivasi dengan apa yang ada di dunia maya. Anak-anak muda kita sedang mencari identitas ditambah persepsi tadi, karena persepsi belum tentu benar, justru cenderung kebanyakan salah,” katanya.

Serta pemahaman agama dan isu-isu agama yang sensitif. Padahal, kata Agus, kadang-kadang ketika ditanyakan mereka juga tidak memahami apa yang mereka ikuti pada suatu kelompok.

“Mereka hanya ikut-ikutan dan inilah ciri-cirinya. Ini kita misalkan umpama persemaian sawah yang sangat subur,” ujar Agus.[](bna)