Dituntut Hukuman Mati, Muzakir: Lon Golom Ku Meukawen

LHOKSUKON – Muzakir terkejut bukan kepalang saat mendengar tuntutan hukuman mati yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Wajah yang tadinya ditekuk langsung terangkat dengan rona tidak percaya.

“Ini sungguh di luar prediksi saya. Tadinya saya pikir hanya 15 hingga 20 tahun penjara. Tapi ternyata hukuman mati. Sirna sudah semua harapan saya,” ujar Muzakir, 20 tahun, salah satu terdakwa dalam perkara 14,4 kilogram sabu saat digiring keluar dari ruang sidang usai pembacaan tuntutan JPU di PN Lhoksukon, Senin, 6 Juli 2015.

Muzakir mengatakan dirinya sudah tidak punya harapan lagi meski penasehat hukum akan mengajukan pledoi.

“Itu semua sia-sia, meski pledoi diajukan tapi tuntutan tetap hukuman mati. Padahal ada yang ingin saya sampaikan kepada hakim, tapi setelah dibacakan tuntutan buyar semua. Rasanya napas berhenti. Saya sama sekali tidak takut menghadapi persidangan, hanya saja ini hal baru bagi saya jadi wajar jika gugup. Tuntutan JPU semakin membuat pikiran saya terhenti,” kata Muzakir.

Mendengar itu, terdakwa lainnya Herman menimpali, “Sudahlah, apa yang perlu diributkan lagi jika memang sudah demikian. Saat ini yang perlu kita pikirkan adalah memperbanyak ibadah sebelum ajal menjemput.”

Muzakir menjawab, “Idroneuh mangat ka tuha kaleuh meukawen, kana aneuk ngon purumoh. Lon golom ku meukawen, manteng lajang manteng muda. Manteng panyang harapan loen. Tapi jinoe hana arti le, mandum ka sirna. Golom meukawen tapi ka toe ngon mate (Anda enak sudah menikah, punya anak istri. Saya belum menikah, masih lajang dan masih muda. Masih besar harapan saya. Tapi sekarang semua sirna. Belum menikah malah sudah dekat dengan kematian).”

Sebelumnya, saat keluar dari ruang sidang, Muzakir sempat harus dipapah petugas kepolisian karena lututnya terasa lemas. Sambil berjalan, dia juga menyandarkan kepalanya di bahu salah seorang petugas. Ia berjalan perlahan sambil meminta air kepada petugas.

“Tolong berikan saya air, saya sangat lemas dan tidak sanggup lagi berpuasa,” ujarnya.

Saat petugas mencarikan air, Muzakir yang sudah tidak kuat lagi langsung menuju kamar kecil sel tahanan terdakwa dengan dikawal petugas. Ia langsung minum air bak dan mencuci wajahnya. Selang beberapa saat petugas tiba dengan membawakan air mineral dan air teh yang kembali diminum Muzakir.

Dalam berkas perkara Muzakir, tuntutan yang dibacakan JPU sama dengan tuntutan terhadap Herman, yakni hukuman mati.[](bna)