Home News Disbudpar Aceh Bakal Koordinasi dengan BPCB Terkait Cagar Budaya

Disbudpar Aceh Bakal Koordinasi dengan BPCB Terkait Cagar Budaya

28
0

BANDA ACEH – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, memberikan apresiasi yang besar kepada Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) yang telah membantu menelusuri sejumlah situs sejarah. Dia mengatakan sudah banyak situs sejarah yang ditemukan Mapesa dan bukan hanya bangunan Kuta Teungku Dianjong yang diduga sebagai masjid kuno dari abad 16-17 masehi tersebut.

“Kita sangat berterimakasih kepada Mapesa yang telah membantu menyelamatkan situs sejarah Aceh selama ini,” katanya kepada portalsatu.com, usai mengunjungi situs sejarah di Kuta Teungku Diangjong, Ladong, Aceh Besar, Senin, 4 Mai 2015.

Reza berharap masyarakat di sekitar situs sejarah atau cagar budaya agar merasa memiliki sehingga dapat terawat dengan baik.

“Kita berharap kepada masyarakat Aceh agar terus menjaga situs sejarah yang ada. Jadi masyarakat ketika mengetahui itu merupakan peninggalan tempo dulu, masyarakat kita berharap memeliharanya dengan baik,”ujarnya.

Menurutnya Disbudpar Aceh akan terus menjaga dan memugar semua cagar budaya dan situs sejarah yang telah ditemukan karena hal tersebut dinilai sangat penting.

“Kita terus berkoordinasi dengan BPCB terhadap penemuan-penemuan situs sejarah di Aceh,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, bersama Sekjend Mapesa, Mizuar Mahdi, dan aktivis PuKAT, Thayeb Loh Angen berkunjung ke Dusun Kuta Teungku Dianjong. Dalam kunjungan tersebut, rombongan tidak banyak melakukan kegiatan dan terbatas melihat kondisi bangunan.

Seperti diketahui, tim ekspedisi Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa) bersama arkeolog independen lulusan UGM, Deddy Satria, berhasil menemukan satu kontruksi bangunan yang diduga masjid kuno dari abad 16-17 masehi pada Minggu, 3 Mai 2015. Bangunan yang diduga masjid ini terletak di Dusun Kuta Dianjung, Gampong Ladong, Aceh Besar.

“Konstruksinya besar terdiri dari tiga halaman yang disusun secara sentral berbentuk teras, yang disusun bertingkat. Teras di halaman pertama dikelilingi pagar dan parit, yang mengelilingi bangunan dan terhubung dengan sebuah alue, tempat air pasang surut naik dari Ujung Batee,” ujar Deddy Satria kepada portalsatu.com lewat sambungan telepon.

Bangunan ini, kata Deddy, juga memiliki struktur lainnya di halaman pertama teras yaitu sumur yang terdapat di sisi timur halaman. “Atau tepatnya di depan tangga masuk ke teras kedua yang memiliki sembilan anak tangga,” ujarnya.

“Halaman pertama berukuran 80×80 meter. Halaman kedua ukuran luasnya kurang lebih 40×40 meter. Di tengah-tengah halaman kedua, ada konstruksi tertutup berukuran 50-60 centimeter dengan ketebalan 40 centimeter. Dan di sisi paling timur, sejajar dengan tangga ada pintu masuk lebih kurang 60 hingga 70 centimeter,” ujar Deddy lagi didampingi Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi.

“Nah di tengah-tengah konstruksi bangunan tersebut terdapat bangunan induk berukuran 20×20 meter. Tafsiran awal kita, konstruksi ini adalah masjid yang model dan bentuknya sama seperti masjid tua Indrapuri,” katanya.

Namun, kata Deddy, bangunan ini tidak sebesar Masjid Indrapuri. “Ukurannya lebih kecil. Mungkin hanya bisa menampung kurang lebih 100 orang di dalamnya. Tapi jika di halaman baik teras kedua atau teras pertama itu bisa menampung sekitar 400 hingga 500 jamaah,” katanya lagi.

Selain itu juga terdapat tembok setinggi satu meter yang diduga sebagai pagar bangunan, tapi sudah tidak terlihat samar-samar. Tim ekspedisi Mapesa hanya menemukan bangunan yang menyerupai pagar sepanjang 60 centimeter di konstruksi tersebut.

Deddy menduga konstruksi ini merupakan masjid yang dipergunakan warga di Indrapatra pada masa kejayaannya. Dugaan ini berasal dari adanya sumur, pintu masuk dan tangga yang bertempat di arah timur bangunan.

“Ini artinya menghadap kiblat. Dari bentuk bangunannya juga tidak memungkinkan untuk pertahanan atau benteng,” katanya.

Sementara dari amatan awal, kata Deddy, teknologi bangunan ini menggunakan semen yang terbuat dari karang laut. Ia mengatakan teknologi ini nyaris sama seperti teknologi bangunan dari kebudayaan Turki dan Arab di abad 16-17 masehi.

“Diperkirakan sama seperti benteng Kuta Leubok, benteng Inong Balee, dan benteng atau Kuta Indrapatra,” ujarnya.

Berdasarkan amatannya di lokasi, kontruksi bangunan ini terdiri dari batu gunung yang diikat menggunakan semen dan kerang-kerang laut. “Kerang laut dan terumbu karang itu dibakar dan dihaluskan sehingga menjadi semen. Ini adalah kasus kedua setelah Masjid Indrapuri di Aceh. Dengan adanya temuan ini, teori Aceh Lhee Sagoe itu juga membuktikan adanya masjid di setiap sagoe-nya yaitu Indrapuri, Indrapatra dan Indrapurwa. Ini sangat menarik,” ujar Deddy yang juga ditemani oleh Afrizal Hidayat dan Rahmat Akbar.

Ia mengatakan satu-satunya masjid di Lhee Sagoe yang masih berdiri kokoh hingga kini adalah Masjid Indrapuri. Sementara Masjid Indrapurwa telah tenggelam ke lautan saat tsunami lalu.

“Temuan bangunan diduga masjid ini menguatkan teori Aceh Lhee Sagoe. Kita menghimbau BPCB serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh untuk meninjau bangunan ini, dan mendaftarkannya menjadi situs cagar budaya,” kata Deddy.[] (bna)