“Dewan Jangan Berpandangan Sempit Tentang Penyelamatan Cagar Budaya Aceh”

BANDA ACEH – Direktur Rumoh Manuskrip Aceh Tarmizi A. Hamid merasa prihatin dengan “dangkalnya” pengetahuan anggota DPR Aceh terkait aset kebudayaan, sehingga dinilai tidak memahami konteks permasalahan saat ini. Itu sebabnya, Tarmizi A. Hamid akrab disapa Cek Midi merasa penting untuk menyampaikan masukan kepada anggota dewan agar tidak lagi berpandangan sempit tentang penyelamatan cagar budaya.

Hal itu terkait pernyataan anggota DPRA Nurzahri yang menyebut sia-sia pemerintah jika tiap tahun menggelontorkan dana besar untuk menjaga sebuah bangunan bersejarah kalau tidak ada orang yang datang ke situs cagar budaya itu. (Baca: Dewan: Penyelamatan Budaya Belum Jadi Prioritas).

“Dewan itu, termasuk Pak Nurzahri, dipilih oleh masyarakat budaya dan adat yang lingkarannya bersyarat. Dia harus memahami dulu konteks permasalahan. Saya ikut tidak nyaman ketika Pak Nurzahri berbicara seperti itu,” ujar Cek Midi kepada portalsatu.com, Sabtu, 9 Mei 2015.

Cek Midi khawatir pernyataan Nurzahri sebagai anggota dewan itu akan salah dipahami masyarakat yang selama ini sangat menjunjung tinggi nilai budaya dan adat Aceh. “Saya capek-capek mengajar tentang hal itu, tau-tau ada orang berbicara macam-macam, walau secara pribadi maupun masyarakat cerdas,” katanya.

Menurut Cek Midi, budaya itu penciptaan, karya, dan karsa. Kata dia, manusia selama masih hidup akan terus melakukan kebudayaannya, sehingga menjadi sejarah. “Dalam rumah tangga, kita mengajarkan keluarga kita tentang kebudayaan. Setiap hari kita menjalankan sejarah, budaya, dan adat dalam lingkaran agama kita. Jadi berbicara budaya Aceh, adat, dan sejarah, sudah tentu alurnya Islam,” ujar Cek Midi.

Selain dalam rumah tangga, kata Cek Midi, di lembaga dewan yang saat ini menjadi tempat bagi Nurzahri menjalankan amanah rakyat, pekerjaan sehari-hari juga dihiasi dengan cara-cara yang berbudaya dan adat. “Maka sangat sedih hati kita membaca komentar Pak Nurzahri yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan,” katanya.

Contoh lainnya, menurut Cek Midi, lahirnya MoU Helsinki dan turunan UUPA merupakan hasil perjuangan orang-orang yang berbudaya dan menghargai arti sejarah yang konprehensif. Sebab, tanpa mencintai kebudayaan dan sejarah, Aceh sebagai pilarnya orang berbudaya tinggi tidak mungkin bisa melahirkan perjanjian damai tersebut.

“Supaya lebih mudah lagi dipahami, contoh lainnya adalah kita tentu semua mempunyai ijazah pendidikan, itu bukti kita dalam merekam jejak kehidupan dalam menuntut ilmu. Suatu saat kalau diperlukan dapat kita buktikan dengan menunjukkan secara otentik. Ketika semua ijazah kita tidak dihargai
oleh anak-anak kita nanti, sakit hati tidak kita,” ujar Cek Midi.

Begitu pula semua situs sejarah dan cagar budaya di Aceh. “Cagar budaya, aset kebudayaan yang diciptakan indatu kita masa lalu, seperti yang kita ciptakan suatu kebudayaan pada masa sekarang. Pertanyaannya, apa yang kita lakukan sekarang kalau tidak dihargai oleh anak cucu kita nanti, bagaimana,” kata Cek Midi lagi.

 Itu sebabnya, Cek Midi berharap Pemerintah Aceh termasuk DPRA tidak meremehkan upaya komunitas budaya dan sejarah yang telah bekerja keras menyelamatkan jejak sejarah dan kebudayaan warisan masa silam. “Apa yang dilakukan adik-adik itu (para anak muda peduli sejarah Aceh) harus dijunjung tinggi. Itu budaya kebijaksanaan,” ujarnya.

“Jadi pada intinya cagar budaya itu identitas kebangsaan kita yang mempunyai peradaban budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang sangat tinggi. Kalau sekarang kita tidak terlalu memikirkannya, wajar kita hidup dalam dunia yang selalu cekcok, tidak dihargai sesama, dan kehidupan jauh dari nilai-nilai kesantunan,” kata Cek Midi.

Cek Midi menjelaskan, keberadaan cagar budaya penting untuk penelitian dan pengkajian oleh para ahli guna melahirkan keilmuan yang baru lagi. Pasalnya, cagar budaya merupakan bukti otentik bangsa yang berperadaban tinggi. Itu sebabnya, situs-situs sejarah sebagai cagar budaya di Aceh banyak dikunjungi orang-orang yang mencari pengetahuan sejarah dan kebudayaannya.

Contohnya, kata Cek Midi, situs-situs makam peninggalan Kerajaan Islam Samudra Pasai, makam-makam di Gampong Pande Banda Aceh, dan kompleks makam ulama legendaris Teungku di Syiah Kuala, serta lainnya. Kata dia, cagar budaya itu memiliki nilai sejarah sangat tinggi yang tidak terhargakan.

Cek Midi berharap keberadaan cagar budaya jangan disamakan dengan papan reklame yang harus menghasilkan uang. Jangan pula disamakan dengan supermarket yang tiap hari ramai dikunjungi dan mendatangkan keuntungan dalam bentuk uang.

“Cagar budaya itu aset kebudayaan dan mempunyai nilai-nilai arkeologi yang cukup dasyat di mata orang yang berperadaban tinggi,” ujar Cek Midi.

Cek Midi menambahkan, untuk memulai pembangunan berkelanjutan di Aceh mestinya diprioritaskan membangun kebudayaan dan nilai sejarah supaya moral kita terobati dengan kehidupan berbudaya. “Tanpa budaya, adat, bagaimana arah kehidupan dan arah pembangunan,” katanya.

Itu sebabnya, Cek Midi berharap anggota DPRA Nurzahri jangan lagi berpandangan terlalu sempit terhadap permasalahan penyelamatan cagar budaya di Aceh. “Karena yang memilih Pak Nurzahri adalah orang-orang yang berperadaban dan masyarakat yang mencintai budaya. Jadi sangat teriris hati masyarakat kalau cara kita berpikir terlalu sempit,” ujarnya.[]

Leave a Reply