Home News Cisah dan Siswa Lhokseumawe Meuseuraya di Kompleks Raja Pasai

Cisah dan Siswa Lhokseumawe Meuseuraya di Kompleks Raja Pasai

118
0

LHOKSUKON – Anggota Tim Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH) memprakarsai kegiatan meuseuraya (Gotong Royong) untuk membersihkan kompleks makam bersejarah tinggalan Kerajaan Islam Samudra Pasai di Gampong Serbajaman B, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Minggu, 10 Mei 2015.

Kegiatan meuseuraya dilakukan bersama 15 anggota CISAH dan disertai 20 siswa siswi yang berasal dari Grup Pecinta Sejarah SMAN 5 Kota Lhokseumawe. Kompleks ini telah didata oleh CISAH bersama tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh Sumut pada 2014 lalu.

Ketua Rombongan dari Grup Pecinta Sejarah SMAN 5 Lhokseumawe, Muhammad Rifai Febri, mengatakan kegiatan serupa sudah pernah dilakukan bersama tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) di kompleks makam Kesultanan Aceh Darussalam di Banda Aceh.

“Ini kali ketiga kita melakukan gotong royong membersihkan makam dan mencari jejak sejarah Aceh. Sebelumnya kami telah melakukan kegiatan meuseuraya di kompleks pemakaman inti tinggalan Samudra Pasai di Kutakrueng Samudera dan satu kali lagi di Banda Aceh, tepatnya di kompleks makam Teungku Bak Leumbee dan melakukan tinjauan ke kompleks makam Kandang XII,” ujarnya seperti rilis yang dikirimkan Cisah kepada portalsatu.com, Senin, 11 Mei 2015.

Menurut Febri selama ini pihaknya berangkat menggunakan dana sekolah (OSIS). Sementara dana yang kurang dikutip dari siswa yang ingin ikut berpartisipasi. “Siswa siswi yang ikut begitu senang, dan berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan,” katanya.

Siswa yang aktif  melakukan kegiatan sosial ini juga mengatakan bahwa situs-situs di Aceh kondisinya amat memprihatinkan.

“Kita sangat menyayangkan orang-orang tua kita yang kurang peduli. Kita telah mencoba untuk belajar banyak dari sejarah, tapi jika peran dari orang tua kami, juga pemerintah tidak ada, jangan salahkan generasi nantinya apabila mereka buta sejarah,” ujarnya.

Sementara itu, Ramlan Yusuf, Asisten Peneliti dari CISAH mengatakan tokoh-tokoh yang kini jasadnya dikubur di Kompleks Raja Pasai ini diperkirakan hidup pada masa Sultanah Nahrasyiah memerintah. Hal ini dilihat dari jenis ornamen pada makamnya.

“Pada kompleks sebelahnya, sudah diketahui satu nama tokoh pemilik makam, yakni Syaikh Ali bin Saman. Tapi disayangkan karena tidak terdapat tarikh wafat pada prasasti tersebut,” ujar Ramlan.[](bna)

Laporan: Mawardi Ismail