Home News Berbicara di Malaysia, Senator Fachrul Razi: Permasalahan Perdamaian Aceh Belum Selesai

Berbicara di Malaysia, Senator Fachrul Razi: Permasalahan Perdamaian Aceh Belum Selesai

40
0

MALAYSIA – Sepuluh tahun perdamaian Aceh masih menyisakan permasalahan yang belum tuntas. Usia damai yang selama itu masih melahirkan konflik dan kekerasan baru.

“Perdamaian Aceh belumlah selesai, perlu dukungan pemuda internasional untuk bersama-sama menyuarakan  masalah Aceh di level international,’ kata Senator DPD RI  asal Aceh, Fachrul Razi, yang menjadi pembicara dalam Melaka International Youth Dialogue (MIYD) ke-15, tahun 2015 di Melaka, Malaysia, Senin. 22 Juni 2015.

Acara ini dilaksanakan oleh World Assembly of Youth (WAY) yang berkantor pusat di Malaysia.

Fachrul Razi memaparkan peran pemuda dalam perdamaian  Aceh. Menurutnya, pemuda bukan hanya sebagai korban konflik saja, tetapi juga sebagai aktor dalam perdamaian Aceh.

Dalam konferensi international yang dihadiri oleh 200 peserta dari seluruh dunia, senator muda ini menjelaskan bahwa konflik di Aceh lahir karena ketidakadilan Pemerintah Pusat terhadap Aceh. Demikian juga dengan pembangunan ekonomi Aceh yang tidak merata, Aceh semakin miskin. Pusat melakukan eksplorasi sumber daya alam Aceh yang menguntungkan Jakarta serta kegagalan Pusat dalam merealisasikan janji-janji politiknya sebagaimana Perjanjian Lamteh.

Katanya, kondisi kekecewaan ini melahirkan  sikap kritis dan akumulatif dari tokoh-tokoh muda tahun 1970 untuk melakukan perlawanan. Tokoh muda yang melakukan perlawanan terhadap Pusat ketika itu dipelopori oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro, seorang tokoh muda Aceh yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktoral di Amerika Serikat. Pada 1976 GAM lahir. Konflik kembali terjadi karena Pemerintah Indonesia menghadapi Aceh secara militer dan kekerasan.

“Semasa konflik juga pemuda banyak yang bergabung dengan GAM karena sikap represif Pemerintah Pusat terhadap Aceh. Pengangguran tinggi dan banyak pemuda putus sekolah. Kondisi ini juga terjadi saat ini di Aceh,” ujar Fachrul Razi.

Dalam era menuju meja perundingan, katanya, pemuda juga berperan penting dalam mewujudkan  perdamaian di Aceh melalui gerakan referendum yang dimotori oleh SIRA. Melalui gerakan itu, tokoh muda Aceh menuntut keadilan Pusat secara demokrasi.

“Pascadamai, gerakan pemuda terlibat aktif dalam sistem politik, baik di parlemen lokal maupun di pemerintah lokal hingga saat ini. Bahkan juga di tingkat Pusat. Keterlibatan pemuda dalam politik karena pemuda ingin melakukan perubahan dalam sistem,” katanya.

Senator Fachrul Razi menjelaskan keterlibatan peran pemuda Aceh dalam menjaga perdamaian.

Dalam pemaparannya, Fachrul Razi juga mengkritik sikap Pemerintah Pusat saat ini yang setengah hati menjalankan perdamaian di Aceh. Hal ini menurutnya, dapat dibuktikan dengan produk PP dan Perpres dari turunan UUPA yang tidak sesuai dengan semangat MoU Helsinki dan tidak sesuai dengan UUPA.

“Sepuluh tahun damai di Aceh masih menyisakan banyak permasalahan,” katanya. Fachrul Razi mengajak pemuda yang hadir dalam MIYD 2015 kali ini untuk dapat membantu Aceh dalam mengampanyekan isu-isu Aceh di dunia internasional.

Dirinya juga meminta agar isu-isu Aceh dapat dimunculkan kembali dalam diskusi serta seminar di level-level internasional.

Dirinya berterima kasih atas diangkatnya isu pemuda di Aceh dalam konferensi internasional tahun ini di Malaysia.

Kegiatan dialog internasional ini dilaksanakan pada 22 hingga 24 Juni 2015 di Melaka, Malaysia.[]