Home News AS dan Rusia Puji Kesepakatan Baru Nuklir Iran

AS dan Rusia Puji Kesepakatan Baru Nuklir Iran

38
0

JAKARTA – Para pemimpin dunia memuji kesepakatan nuklir Iran terbaru. Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut langkah ini sebagai “arah baru”, sedangkan Presiden Rusia Vladimir Putin merasa lega dengan dicabutnya sanksi terhadap Iran. Namun ekspresi berbeda diungkapkan Israel, yang mengkritik keputusan ini sebagai “kesalahan bersejarah.”

Perjanjian menyepakati pembatasan program nuklir Iran diumumkan bersama, Selasa, 14 Juli 2015, oleh Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dan Komisioner Tinggi Uni Eropa untuk Kebijakan Luar Negeri Federica Mogherini di Wina, Austria. Bagi Obama, kesepakatan ini memberinya kesempatan memperbaiki hubungan Washington dengan Teheran.

“Setiap jalur ke senjata nuklir sudah tamat,” kata Obama. “Kesepakatan ini menawarkan kesempatan bergerak ke sebuah arah yang baru. Kita harus mengambil kesempatan ini.”

Meski demikian, perundingan nuklir Iran belum selesai. Sebagian isi kesepakatan, seperti pencabutan sanksi AS, masih memerlukan persetujuan dari Kongres. Obama sebagai salah satu pihak yang mengupayakan perundingan ini bersumpah akan memveto segala upaya yang ingin mencegah terwujudnya kesepakatan itu.”Kesepakatan ini tidak berasal dari rasa percaya. Ini terwujud dari verifikasi,” kata Obama.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memuji usaha keras dan jujur tim negosiasi nuklir negaranya lewat Twitter dengan tanda pagar #IranDeal. Kegembiraan yang sama juga diperlihatkan Presiden Iran Hassan Rouhani. Ia berucap, “Kami tidak meminta bantuan, kami meminta keadilan dan negosiasi yang saling menguntungkan.”

Sementara itu, ribuan rakyat Iran berkumpul di Ibu Kota untuk merayakan kesepakatan yang tecapai sekaligus datangnya hari terakhir Ramadan. Bendera Iran berkibar di mobil-mobil, sementara pengemudinya membunyikan klakson tanpa henti.

“Menurut saya, seharusnya mereka melakukan ini dari dulu, sehingga rakyat tidak perlu mengalami semua kesulitan ini,” ucap Masumeh Momeni, warga Teheran, kepada Al Jazeera.[] sumber: tempo.co