Home Histori Arkeolog Kupas Sejarah Belanda Serang Kerajaan Aceh

Arkeolog Kupas Sejarah Belanda Serang Kerajaan Aceh

61
0

BANDA ACEH – Arkeolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Dedi Satria,
menjelaskan Banda Aceh merupakan Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam pada masa lalu. Dalam prosesnya Aceh bukanlah suatu negeri yang tidak memiliki tantangan berat di masanya.

Salah satunya, kata Dedi Satria, keinginan besar Belanda menaklukkan Aceh. Banyak tenaga dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk menaklukkan Aceh.

“Tujuannya adalah membentuk kota baru kolonial di Aceh, seperti
beberapa daerah lain di Indonesia, katakanlah Medan. Jadi, Aceh ini
paling susah dibangun karena perangnya sangat lama,” kata Dedi dalam
Kajian Inspiratif Portal Satu (KIPaS) di Banda Aceh, Jumat, 8 Mei 2015.

Dedi menyebut upaya yang mereka lakukan untuk membentuk kolonial ini misalnya dengan menghancurka Istana Sultan Aceh dan membangun gedung yang kini menjadi Pendopo Gubernur Aceh. Mereka juga membakar Masjid Raya Baiturrahman, kemudian membangunnya kembali.

“Mengapa Gunongan dan Taman Sari tidak mereka hancurkan, karena itu
tidak ada urusan dengan mereka. Mengapa benteng-benteng itu tidak
mereka hancurkan, itu hanya sampah peradaban yang sudah rusak,”
kata Dedi.

Dedi juga menjelaskan bahwa Peunayong yang dulunya merupakan gudang
milik Kesultanan Aceh, disulap Belanda menjadi China Town-nya Aceh
dengan menghadirkan orang-orang China.

“Kita sering bertanya-tanya apa itu Peunayong? Apakah berasal dari
bahasa Cina? Peunayong itu berasal dari kosa kata Melayu yang artinya
pendayung, ketika dilafalkan dalam bahasa Aceh jadilah peunayong,”
katanya.[]

Foto: Arkeolog Dedi Satria (kanan) bersama komunitas peduli sejarah saat meneliti di situs sejarah Lamreh. Sumber foto: misykah

Berita terkait:

Portal Media Hadirkan Kajian Inspiratif Portal Satu