Nestapa Mak Gadih di Gubuk Reot

NAMA aslinya Nuaji. Namun ia lebih terkenal dengan sebutan Mak Gadih. Usianya kini sudah 75 tahun. Berbeda dengan para lansia lainnya, kehidupan Mak Gadih sangat memprihatinkan. Setiap hari ia menghabiskan waktu dengan mendiami gubuknya yang kecil, bocor dan hanya beralaskan tanah.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Mak Gadih memelihara beberapa ekor ayam dan bebek. Dari uang penjualan telur bebek dan ayam itulah ia membeli barang-barang kebutuhan pokoknya, beras, gula, minyak dan juga kebutuhan lainnya.

Untuk menopang tubuh rentanya yang tak sehat itu, Mak Gadih mengandalkan sebatang tongkat dari kayu. Di usia senjanya Mak Gadih tak memiliki harta benda apa pun sebagai penjamin hidupnya. Ia pun kerap mendapat belas kasihan dari masyarakat sekitar.

Mak Gadih merupakan salah seorang warga miskin yang luput dari perhatian pemerintah. Ia tinggal di Desa Krak Rampai, Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya. Perempuan itu sebenarnya memiliki tiga orang anak. Namun kondisi mereka juga tak jauh berbeda dengan kehidupan Mak Gadih.

Saat The Atjeh Post berkunjung ke rumahnya pada Senin, 10 September 2012 kemarin. Mak Gadih menceritakan kisah hidupnya yang sudah puluhan tahun hidup di gubuk tersebut. Ia tinggal di sana sejak almarhum suaminya masih hidup.

Ironisnya, kemelaratan Mak Gadih justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Diakui Mak Gadih ia sering didatangi oleh pihak-pihak tertentu untuk menjanjikan bantuan macam-macam. Namun, bukannya mendapatkan bantuan mak Gadih malah kehilangan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarganya.

“Hana kutuso, leh so uroe nyan ka jiba KTP ngen KK, na jitinggal keurtah puteh nyan pih ka jiba chit (Tidak tahu saya, entah siapa hari itu membawa KTP dan KK, ada ditinggal kertas putih (salinan KK) sudah dibawa juga),” kata Mak Gadih kepada The Atjeh Post.

Salah seorang perangkat desa, Basri, kepada The Atjeh Post membenarkan ucapan Mak Gadih. Menurut Basri selama ini Mak Gadih luput dari perhatian pemerintah setempat. Bahkan jika hujan ia sering tidak tidur untuk menghindari agar tidak basah. “Kehidupan beliau sudah dari dulu begitu, tidak ada bantuan untuk mereka,” kata Basri.

Karena merasa dipermainkan Mak Gadih mulai menutup diri untuk dipublikasi. Bahkan awalnya ia sempat keberatan ketika The Atjeh Post ingin mengambil beberapa gambar dirinya. Bukan apa-apa, Mak Gadih hanya kesal karena semua orang yang datang menawarkan bantuan untuk dirinya. Tetapi tidak ada satupun yang merealisasikan janjinya.

Sebenarnya kata Basri, Mak Gadih bukannya tidak mendapatkan bantuan. Ia pernah diusulkan untuk mendapatkan bantuan rumah, tetapi karena rumah bantuan tersebut harus ditebus dengan uang jutaan rupiah. Mak Gadih pun memilih untuk tidak menerimanya. Karena mustahil seorang lansia yang menggantungkan hidupnya dari telur ayam dan bebek itu bisa memiliki uang sebanyak itu.

Belakangan kata Basri di desa tersebut ada dibangun empat unit rumah bantuan. Tapi rumah tersebut kembali diperjual belikan seharga Rp 5 juta.

“Ada yang menawarkan tebusan lima juta pada saya baru rumah tersebut akan dibangun,” katanya lagi. Namun Basri menolak menebus rumah tersebut karena menurutnya yang lebih berhak menerima adalah Mak Gadih, tetangganya.

Selaku aparat gampong Basri mengatakan telah mengupayakan berbagai hal agar Mk Gadih bisa mendapatkan rumah layak huni. Di antaranya rumah fakir miskin, rumah duafa, termasuk rumah bantuan BRR. Tapi lagi-lagi menurutnya semua itu terbentuk dengan uang tebusan.

Mak Gadih pun pasrah. Sambil meneteskan air mata ia menyampaikan jika dirinya tak lagi berharap soal bantuan apa pun.

“Saya malu, lebih baik tidak usah ditanya lagi dan difoto, jika hanya dijanjikan biarkan saja, kalau ada rejeki nanti saya bangun sendiri,” katanya.

Mak Gadih mengaku telah mempunyai sedikit uang untuk memperbaiki rumahnya. Dengan bantuan beberapa warga katanya ia sudah mengumpulkan sedikit kayu dan papan.

“Biar saya perbaiki sendiri, sudah ada sedikit papan dan kayu, nanti kalau sudah cukup baru diperbaiki,” ungkapnya.

Amatan The Atjeh Post, gubug Mak Gadih sudah tak layak huni lagi. Bangunannya sudah miring. Atapnya yang terbuat dari daun rumbia sudah bocor sehingga sinar matahari dengan gampang menerobos saat siang hari.

Dinding-dindingnya pun sudah rusak dimakan rayap. Di dalam rumah yang tak memiliki sekat itu, semua benda berada di satu ruangan seperti kasur dan perlatan dapur. Ketika malam ia menerangi ruang kecil itu dengan lampu teplok.

Semua kondisi itu seolah tak cukup bagi Mak Gadih. Saat musim penghujan tiba, rumahnya yang rendah juga kerap terendam air.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply