Nakhoda Baru Dua Generasi

USIANYA tak muda lagi: 72 tahun. Rambut dan kumis tipis yang bertengger di atas bibirnya seluruhnya memutih.  Namun, jika berbicara tentang nasib Aceh, semangatnya menyala-nyala. Mimik wajahnya langsung berubah serius. Baginya, marwah Aceh di atas segala-galanya.

Bernama lengkap Zaini Abdullah, ia kerap disapa Doto Zaini oleh orang-orang dekatnya. Doto adalah pengucapan Aceh untuk orang yang berprofesi sebagai dokter. Nada bicaranya teratur dan tidak meledak-ledak.

Lahir di Sigli, 24 April 1940, Zaini dibesarkan di bawah tempaan ayahnya, Teungku Abdullah Hanafiah, seorang guru agama di Beureunuen. Teungku Abdullah adalah teman seperjuangan Teungku Muhammad Daoed Bereueh ketika memimpin pemberontakan DI/TII di Aceh.  Jiwa pemberontak terhadap ketidakadilan ternyata diwariskan sang ayah kepada Zaini.

“Saya memiliki darah turunan yang tidak menginginkan negeri ini diperlakukan secara tidak beradab,” ujarnya suatu ketika dengan suara bergetar.

Menamatkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara pada 1972, Zaini sempat  tiga tahun menjadi Kepala Puskesmas/Kepala Rumah Sakit Umum Kuala Simpang, dulu masuk wilayah Aceh Timur.  Di sanalah Zaini menemukan ketidakadilan. Banyak masyarakat yang meregang nyawa karena kesulitan mendapat akses kesehatan. 

 “Diare, campak, demam tinggi, ibu melahirkan adalah sumber kematian saat itu,” ujarnya.

Zaini gelisah.  Pada 1976, ketika melanjutkan pendidikan spesialis penyakit kandungan dan kebidanan di Fakultas Kedokteran USU,  Zaini bertemu Hasan Tiro yang baru saja pulang dari Amerika Serikat. Mereka pun terlibat dalam diskusi-diskusi tentang nasib Aceh ke depan. Hasan pulang dengan membawa ide memerdekakan Aceh sebagai satu-satunya jalan memperjuangkan keadilan.  Zaini pun mulai terlibat lebih  intens dalam diskusi-diskusi kecil sesama ‘aneuk Aceh’ yang sedang menempuh pendidikan Medan.  Mereka pun sepakat, keadilan baru dapat dicapai dengan mengembalikan Aceh sebagai sebuah daerah yang berdaulat, lepas dari Indonesia.

Puncaknya, pada 30 Oktober 1977, Zaini termasuk satu dari 10 orang yang dilantik sebagai Menteri Neugara Aceh oleh Tengku Hasan Tiro di Kamp Alue Nilam, sebuah tanah lapang diantara aliran Krueng Tiro dan berlatar belakang Gunung Tjokkan.  Hari itu, seperti digambarkan Hasan Tiro  dalam buku The Unfinished Diary, semua yang hadir tak kuasa membendung air mata.

Derai air mata itu sekaligus tonggak baru hidup Zaini. Meninggalkan istri dan anaknya yang baru berusia enam tahun, ia  memulai hidup baru: bergerilya dari hutan ke hutan menghindari kejaran tentara pemerintah.  Apalagi, ketika itu tentara menyebarkan foto-foto mereka ke pelosok kampong sebagai buronan yang dicari hidup atau mati.

Empat tahun di hutan, Zaini memutuskan berangkat ke luar negeri, menyusul Hasan Tiro yang sudah duluan diungsikan keluar enam bulan sebelumnya.  Bersama Zakaria Saman, yang belakangan dinobatkan sebagai Menteri Pertahanan, ia keluar dari Aceh dengan sebuah boat kecil dan sempat bertaruh hidup setelah tiga malam terombang-ambing di lautan.

Mendarat di Singapura, Zaini kemudian mendapat suaka politik  dan menetap di Swedia, sebuah  negeri di Eropa Utara. Di sana, Zaini menata kembali hidupnya. Ia melanjutkan pendidikan dokter  di Uddevalla, kota kecil berjarak 400 kilometer dari Stockholm, ibukota Swedia.  Sejak itu, Zaini terpaut dengan Aceh secara fisik, tapi tidak secara batin. Di Aceh, gerilya masih berlanjut, meski dalam skala kecil.

Pada 1986 hingga 1989, Hasan Tiro memboyong ratusan pemuda dari Aceh untuk mendapat pelatihan militer di Libya. Ketika itu, pemerintah Libya punya program memberi pelatihan militer kepada sejumlah organisasi pembebasan dari seluruh dunia yang berjuang menuntut keadilan dari negaranya.

Salah satu anak muda Aceh yang mendapat pelatihan militer di Libya adalah Muzakir Manaf.  Usianya baru 22 tahun. Berperawakan tinggi besar, Muzakir berparas tampan. Ia tipikal lelaki pendiam, tak banyak bicara bila tidak terlalu penting.  Belakangan, karena dinilai cakap dan berjiwa pemimpin, Muzakir diangkat sebagai mualem atau pelatih bagi rekan-rekannya yang lain.  Ketika dipulangkan ke Aceh, sebutan Mualem masih melekat padanya hingga kini.

“Waktu itu saya mengenal Mualem dari foto-foto latihan di Libya. Ketika melihat fotonya, saya berpikir dia punya kelebihan daripada yang lain. Tentu ada sesuatu yang lebih padanya sehingga mendapat kepercayaan dari Wali (Hasan Tiro,” kata Zaini saat ditemui The Atjeh Times, Sabtu pekan lalu.

Ketika itu, Zaini hanya mengenal Muzakir dari fotonya. Mereka tak  pernah berkomunikasi. Bahkan, saat Muzakir dipercaya sebagai Panglima Teuntra Neugara Aceh, sayap militer GAM, sejak Januari 2002, mereka tak pernah saling teleponan. Kata Zaini, setiap instruksi untuk lapangan,  disampaikan lewat Zakaria Saman.

Mereka baru bertatap muka secara langsung saat berlangsungnya perundingan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia.  Muzakir hadir di Helsinki karena posisinya sebagai Panglima.

Belakangan, kita tahu, perjanjian ini mengakhiri konflik berdarah-darah di Aceh. GAM berubah menjadi partai politik lokal dan pemerintah Indonesia memberi sejumlah keistimewaan kepada Aceh untuk mengurus urusan “rumah tangga” sendiri. Perjanjian itu dikenal sebagai MoU Helsinki, sekaligus  cikal bakal lahirnya Undang-undang Pemerintahan Aceh.

“Kami baru bertemu lagi setelah saya pulang ke Aceh pada Pilkada 2006, setelah perjanjian damai.   Di situ saya sudah lebih mengenal Mualem. Tapi sayang waktu itu, hajat kita untuk menaikkan pasangan H2O (Humam Hamid-Hasbi Abdullah) untuk memenangkan pilkada ternyata meleset karena sesuatu dan lain hal. Itu tidak perlu kita ungkit lagi,” kenang Zaini.

Gagal meloloskan jagoannya memimpin Aceh pada 2006, Partai Aceh tak mau pengalaman itu terulang pada pemilihan kepala daerah berikutnya. Strategi baru dirancang. Pasangan calon gubernur ditentukan. Hasilnya, Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf diputuskan untuk dimajukan sebagai calon gubernur.

Zaini dipilih karena dianggap sebagai generasi awal GAM yang masih konsisten memperjuangkan keadilan untuk Aceh. Selain itu, ia punya pengalaman diplomasi di luar negeri sebagai juru runding dan paham benar proses lahirnya perdamaian di Aceh. Sedangkan Muzakir dinilai  sebagai pemimpin yang masih dipercaya bawahannya.

“Mualem kita lihat seorang figur yang sanggup membina, terutama mampu mengepalai angkatan perang ketika itu. Dia figur yang masih sangat dipercaya di bawah. Dengan demikian kita merasa merasa ini pasangan yang tepat.  Mualem seorang yang tidak banyak bicara, tetapi tenang dan cepat mengambil keputusan saat diperlukan,” kata Zaini.

Setelah GAM membentuk partai lokal yang diberi nama Partai Aceh, Muzakir duduk sebagai ketuanya. Dia juga menjabat sebagai Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA), organisasi yang dibentuk sebagai wadah transisi mantan kombatan GAM ke masyarakat sipil.

Suatu ketika, Zaini pernah berkelakar soal pasangan duetnya itu. Apalagi kalau bukan perbedaan usia keduanya yang lumayan jauh: Zaini 72 tahun, Muzakir 48 tahun.

"Lon tiep-tiep uroe lon ba aneuk sajan lon (saya setiap hari bersama anak saya)," kata Zaini dihadapan sejumlah politisi Partai Aceh yang datang ke tempat kediamannya di Geuceu, Banda Aceh.

Yang hadir tentu saja bingung, sebab setahu mereka tiga anak dokter Zaini masih di Swedia.  Ketika ditanya siapa yang dimaksud, Zaini pun menjawab,”nyoe si Mualem.”

Jawaban itu tentu saja tak disangka-sangka. Maka, berderailah tawa di ruangan itu. Ternyata Doto Zaini bercanda soal perbedaan usianya dengan Muzakir yang disebutnya ibarat hubungan ayah dan anak.

Begitulah. Duet dua generasi itu akhirnya dimajukan Partai Aceh untuk dipilih oleh rakyat dalam Pilkada pada 9 April 2012 lalu.  Bersaing dengan empat pasangan calon lain, mereka meraup 55 persen lebih suara pemilih di Aceh, jauh meninggalkan rivalnya. Jika tak ada aral melintang, keduanya akan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 pada 25 Juni mendatang.

Kini, Aceh berada di bawah kendali duet dua generasi mantan GAM itu. Cita-cita Zaini untuk berjuang menyetejahrakan rakyat Aceh yang sempat diperjuangkan dengan mempertaruhkan nyawa, menemukan momentumnya 36 tahun kemudian.[]

Tulisan ini sudah ditulis di The Atjeh Times (tabloid mingguan satu group dengan media online www.atjehpost.com)

  • Uncategorized

Leave a Reply