Mulia Mardi, Yatim Piatu Tsunami yang Kini Jadi Seniman Tutur

PEURATOH muda Aceh, Mulia Mardi, yang populer dengan nama panggung Mulia Tet Tet subuh tadi tampil live di studio SCTV. Mulia tidak sendiri, ia bersama Rizki Saxophone, yang juga pelaku seni muda dari Aceh. Kedua pemuda ini menjadi narasumber untuk program 10 tahun tsunami Aceh.

Mulia merupakan salah seorang korban tsunami Aceh. Ia hidup sebatang kara sekarang. Ayah, ibu, serta abangnya meninggal dunia dalam peristiwa tsunami satu dekade silam. Saat itu, Mulia masih berusia 13 tahun. Dia masih berstatus pelajar SMP.

Waktu terus bergulir, Mulia kini tumbuh sebagai pemuda kreatif penuh talenta. Ia mengasah bakat seni dalam dirinya hingga menjadi seorang seniman muda yang aktif. Tampil dari satu panggung ke panggung lainnya, bahkan hingga ke luar daerah.

Mulia berasal dari Gampong Teungoh Blang Mee, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Ini merupakan salah satu wilayah yang paling parah terkena tsunami karena letak wilayahnya langsung berhadapan dengan laut.

Bersama warga lainnya, pagi Minggu, 26 Desember 2004 silam Mulia merasakan bagaimana dirinya jatuh bangun melawan arus tsunami yang deras. Saat gelombang besar menerjang ia pun pingsan dan tidak sadarkan diri.

“Tiba-tiba saya sadar dan sudah berada di kaki gunung, badan saya berlumpur tapi tak separah korban selamat yang lainnya. Saya juga tidak merasakan sakit apa-apa,” kata Mulia kepada atjehpost.co, Jumat 26 Desember 2014.

Setelah tsunami berlalu ia kembali melanjutkan sekolahnya. Tahun 2005 ia masuk ke pesantren Misbahul Ulum untuk melanjutkan jenjang pendidikan SMA dan tamat 2008. Setelah itu Mulia melanjutkan kuliah ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan lulus sebagai sarjana tahun 2014 ini. Ia membiayai sendiri kuliahnya dengan uang yang didapatnya dari berkesenian. Di samping itu saudaranya juga turut membantu dan meringankan bebannya.

Setelah lulus kuliah, Mulia pun mencoba peruntungan ke Pulau Jawa. Sebagai seniman muda yang fokus pada kesenian tutur, Mulia selalu melengkapi dirinya dengan ‘senjata’ yang membuatnya siap tampil kapan saja. Senjata itu adalah sebuah baluem atau buntelan kain berisi properti yang ia gunakan tiap kali tampil. Setiap tampil ia selalu mengenakan pakaian adat Aceh yang selalu ia banggakan. Baginya, di mana pun jasadnya berada, Aceh dengan segala identitasnya harus melekat dalam dirinya.

“Tsunami 10 tahun silam harus dijadikan sebagai lentera yang menghidupkan, jangan hilang semangat anak muda bersama tsunami. Tsunami sudah berlalu, sekarang kita bangkit untuk menjadi sumber motivasi bagi diri sendiri.” Katanya.

Sebelumnya Mulia juga tampil dalam peringatan 10 tahun tsunami yang dibuat Goethe Institute di Jakarta pada Selasa, 23 Desember 2014. Dalam kesempatan itu Mulia meuratoh atau menuturkan cerita tentang hikayat tsunami Aceh yang diiringi musik seurunee kale oleh Rizki.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply