Mualem: Neu Meujanji Bak Lon, Bek yang Tuha-tuha Mantong Bak Meunasah

Mualem: Neu Meujanji Bak Lon, Bek yang Tuha-tuha Mantong Bak Meunasah

BANDA ACEH – Jamaah zikir akbar dari barisan ahlussunnah wal jamaah mengeluarkan beberapa tuntutan agar dipenuhi oleh Pemerintah Aceh. Tuntutan tersebut pernah disuarakan dalam parade akbar Aswaja pada Kamis, 10 September 2015 lalu di Kantor Gubernur Aceh. Salah satu tuntutannya adalah mencegah berkembangnya paham Wahabi, Syiah, komunis dan aliran sesat lainnya di Aceh.

Tuntutan ini kembali disampaikan oleh jamaah zikir akbar Aswaja dalam kegiatan zikir akbar di Kompleks Makam Syiah Kuala, Kamis, 1 Oktober 2015. Namun, kali ini tuntutan tersebut didengar langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf yang mendatangi lokasi kegiatan zikir akbar.

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Mualem ini meminta janji dari para ulama Aswaja jika ingin tuntutannya ditandatangani oleh Pemerintah Aceh. “Neutem meu janji ngon lon? Meuhan han lon teken? (mau berjanji dengan saya? Kalau tidak, saya tidak mau menandatangani),” kata Mualem.

Neu meujanji bak tip-tip meunasah na jamaah, bek yang tuha-tuha mantong bak meunasah, tapi awak dron muda-muda yang mantong kong teuot. Nyan neu meujanji ngon lon. Ta kalon singoh, lon man saboh Aceh lon rawon, akan ta kalon u keu (berjanjilah di tiap-tiap meunasah terdapat jamaah, jangan sekadar yang tua-tua di meunasah, tapi Anda yang muda-muda yang masih kuat. Berjanjilah itu kepada saya. Kita lihat nanti, saya akan keliling seluruh Aceh, kita lihat nanti),” kata Mualem.

Apa yang diminta oleh Mualem tersebut mendapat sambutan gembira dari para jamaah. Mereka berjanji memenuhi permintaan tersebut.

Sebelum menandatangani tuntutan jamaah Aswaja, 15 perwakilan ulama bersama Mualem menuju ke makam Syiah Kuala. Mereka bertawasul di kuburan ulama besar Aceh masa kerajaan tersebut dan mengharapkan apa yang dilakukan ini lebih aman. Sementara para jamaah zikir berada di luar sambil bershalawat.

Berikut ini beberapa butir rekomendasi dan tuntutan dari masyarakat Aswaja Aceh:

1. Mendesak pemerintah Aceh untuk menghentikan seluruh aktivitas salafi Wahhabi, Syiah, Komunis, dan aliran-aliran sesat lainnya di seluruh wilayah Aceh.
2. Mendesak pemerintah Aceh agar setiap keramaian dan kegiatan keagamaan wajib mendapat rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh (MPUA).
3. Tidak mengangkat kepala SKPA dan Ketua Badan pemerintahan Aceh yang tidak berpaham Aswaja.
4. Mendesak pemerintah pusat untuk mempercepat realisasi turunan butir-butir MOU Helsinski dan UUPA.
5. Mendesak pemerintah Aceh untuk menjalankan Qanun Aceh no.8 tahun 2012 tentang Lembaga Wali Nangroe.
6. Menolak intervensi pemerintah Aceh terhadap MPU Aceh.
7. Pemerintah Aceh Wajib menjalankan setiap fatwa yang dikeluarkan MPU Aceh.
8. Mendesak Pemerintah Aceh untuk menjalankan Qanun Jianayat dan Qanun Acara Jinayat.
9. Apabila tuntutan tidak diindahkan dan tidak dilaksanakan, akan ada gerakan lebih besar lagi.[] (bna)

Leave a Reply