Mualem dan cerita peci hitam

TAHUKAH  Anda, mengapa Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang lazim disebut Mualem tidak pernah  terlihat memakai peci hitam -peci nasional- yang sering dipakai pejabat dan sebagian masyarakat Aceh?

Mungkin selama  ini tidak banyak yang tahu soal cerita peci hitam ini. Sabtu malam, 22 Juni 2013, sekitar pukul  21.15 WIB Mualem membuka rahasia terkait peci hitam yang tidak pernah dipakainya itu.

Malam itu bersama rombongan secara khusus Mualem datang ke Kota Subulussalam. Agenda utamanya adalah membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Aceh XXXI yang dilaksanakan Pemerintah Aceh.

Acara pembukaan  dilakukan Minggu, 23 Juni,  namun sebelumnya pada Sabtu malam, ada acara pendahuluan dalam bentuk pengukuhan dan penyumpahan Dewan Hakim MTQ Aceh XXXI oleh Wakil Gubernur.

Dalam pidatonya saat pengukuhan Dewan Hakim MTQ inilah ia buka rahasia terkait peci hitam yang tidak pernah dipakainya itu.

Dalam kesempatan tersebut Mualem tampil prima. Dengan membaca teks Mualem menyampaikan pidato dengan sangat runut, sistematis dan berisi. Salah satu pesannya kepada Dewan Hakim MTQ agar para dewan hakim tidak main sabun dalam perhakiman MTQ. “Ini bukan pertandingan sepak bola, gunakan hati nurani dalam melaksanakan tugas perhakiman," Mualem berkata tegas.

Ketika memasuki halaman terakhir dari teks pidato yang dipegangnya itu, tiba-tiba Mualem berhenti pidato. Dengan berdiri agak lebih tegak dan dengan tatapan matanya yang tajam menyorot ke depan,  Mualem lalu melanjutkan pidato tanapa teks.

“Dari tadi saya merasa ada yang tidak enak,” kata Mualem. Seluruh penjuru ruang tengah pendopo Bupati Kota subulussalam tempat acara dilangsungkan menjadi senyap sepi. Semua terdiam, termasuk Wali Kota Meurah Sakti. Seluruh mata dan telinga hadirin tertuju ke podium tempat Mualem berdiri tegak.

Lalu dengan santai Mualem melanjutkan kata-katanya. “Yang hadir di sini semua pakai peci hitam, termasuk yang duduk di depan,  di kiri dan kanaan saya. Saya tidak tertarik memakai peci hitam,” lanjut Mualem.

Ruangan acara masih terasa sepi, hadirin masih menyimak lanjutan kata-kata Mualem. “Dulu,” kata Mualem, “Sukarno datang ke Aceh menjumpai Tgk. Beureueh. Sukarno pakai peci hitam dan Tgk Beureueh juga pakai peci hitam. Lalu Sukarno mengajak Tgk Beureueh agar tetap bergabung di bawah Indonesia Raya,”.

Mualem tidak melanjutkan ceritanya itu, apalagi menjelaskan hubungan peci hitam yang tidak dipakainyaa dengan peci hitam kesukaan ayah Megawati itu.

“Saya tidak pakai peci hitam, saya punya penci sendiri, peci orang Aceh,” tegas Mualem sambil melempar pandangannya menyapu seluruh ruang pertemuan  di pendopo Negeri Sada Kata itu.

Selanjutnya dengan cekatan tangan  kanan Mualem yang sebelumnya bersandar di podium secepat kilat beralih ke kantong celana belakangnya. Lalu  Mualem mengangkat tangan kanannya  tinggi-tinggi dan memperlihatkan topi kain -mirip topi haji- berwarna hitam dan selanjutnya dalam hitungan detik sudah terpakai  di kepalanya.

“Ini topi saya, saya tidak suka peci hitam itu,” tegas Mualem. Seluruh hadirin di acara itu, tidak terkecuali wali kota, wakil wali kota, Dandim  serta Kapolres, semua tertawa saat menyaksikan aksi Wakil Gubernur Aceh itu.

Memang sejak Mualem masuk ke ruang acara pengukuhan Dewan Hakim MTQ Aceh XXXI itu di beberapa pojok ruangan yang yang dihadiri peserta dari seluruh Aceh ada yang berbisik, “Eh …Mualem kok tidak pakai peci,”.

Akhirnya bisik-bisik di Pendopo Wali Kota Subulussalam soal Mualem tidak pakai peci saat pengukuhan Dewan Hakim MTQ terjawab sudah. Mualem tidak suka peci hitam seperti yang dipakai Sukarno, dia lebih suka peci kain warna hitam yang menurutnya sangat khas Aceh.

Barang kali melalui momentum ini Mualem ingin menyampaikan pesan verbal bahwa identitas Aceh wajib dan dijaga, dalam hal peci sekalipun![]

 

Usamah Elmadny

Sekretaris Dinas Syariat Islam Aceh.

  • Uncategorized

Leave a Reply