Mourinho Itu Rasis!

Jose Mourinho itu rasis!!

“La Republica,” koran terbitan Roma itu meradang dan menulis di “headline”nya dengan marah komentar si “special one” tentang gol Franck Ribery yang dikatakannya “offside.”

“La Republica” memang terkenal lawan tangguh Mou, begitu pelatih Real Madrid itu di sapa, ketika ia masih melatih Inter Milan tiga tahun lalu. “Ia seorang provokator yang menisbikan kemenangan lawan. Ia musuh bersama di liga Italia dan jangan pedulikan ocehannya yang menghasut.”

Koran terkenal Italia itu tidak sendirian memerangi kecabaran mulut Mourinho. Bacalah koran “La Marca” atau pun website “fbarcelona.com” yang pagi ini menulis dengan huruf kapital,  atas kekalahan Real atas Bayern Muenchen 1-2, ‘Si Pecundang Itu Terjengkang.” 

Dua media Spanyol itu terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya terhadap Mourinho. Bahkan fbarceloma.com, portal sepakbola paling banyak pengunjungnya, menyebut Mou sebagai “burung nasar pemakan bangkai.” Ia tidak pernah menghargai kemenangan lawan secara elegan. Ia selalu memiliki dalih.

Keberangan media Italia dan Spanyol itu terhadap Mourinho berasal dari komentarnya yang tidak mengakui gol Franck Ribery di menit ke -17. “Itu gol offside yang tidak perlu terjadi,” kata bekas pelatih Sporting Lisabon, Chelsea, Inter Milan, dan kini melatih Real Madrid.

Suhu yang dingin di Allianz Arena, stadion milik Bavaria, di Muenchen, Selasa malam, atau Rabu dinihari WIB, bukan sebuah suasana menyenangkan bagi El Real. Paling tidak 66.000 penonton, yang bagian terbesarnya pendukung Bayern, merupakan musuh yang harus mereka bungkam.

Untuk itu, di menit awal, ketika “kick off” laga semifinal Liga Champion bergulir, Jose Mourinho, pelatih jenius yang sedang merintis sejarah mempersembahkan trofi di tiga klub berbeda, melakukan dua strategi berbeda. Attacking dan impressing. Bayern terkejut, paling tidak di lima belas menit awal.

Karim Benzema, striker “The Blues” Perancis, yang di lapis Oezil, anak keturunan Turki yang bermain di tim “Panzer” Jerman,  melakukan pertukaran gerak secara reflek sejak di pertengahan lapangan Bayern lewat passing akurat Ronaldo. Secara bersamaan mereka memprovokasi Gustafo dan Lahm. Hasilnya? Benzema yang di puji  setinggi langit oleh Zidane sebagai penyerang paling dingin lolos dan menembakkan umpan terobosan Ronaldo.

“Kalau bukan Neuer di bawah mistar pasti gol,” tutur Frank Beckenbauer, legenda Muenchen dan Jerman, yang dijuluki “kaizer,” tentang tendangan Benzema di menit ke-9 itu. Neuer, kiper Bayern yang dipuji setengah mampus oleh pelatih Manchester United Alex Fergueson kerena ketenangan dan kelenturannya  itu, mentip bola tendengan Benzema dengan  gerakan safety setengah salto.

Masih ada serangan berdurasi lima belas pertama  yang mendebarkan dari zig zag Christiano Ronaldo, Alonso dan Khedira. Masih ada pressure ataccking yang  bergelombang dari Madrid dan dibunuh dengan “slidding tackling” mematikan oleh Lahm.

Saat itu, hampir seluruh penonton di Allianz Arena, juga di berbagai belahan bumi lainnya yang menyaksikan pertandingan dari siaran langsung televisi, sepakat; Bayern sudah selesai. Gol hanya menunggu waktu, dan Mourinho dengan punggung dibungkukkan dari bangku pemain cadangan mengangguk setuju, Madrid akan membawa pulang kemenangan.

Jose Mourinho mungkin lupa. Sama dengan lupanya hampir semua media sebelum pertandingan ini berlangsung yang menempatkan Madrid El Real sebagai pemenang. “Mereka mendahului takdir. Ini klub bukan lahir dari lelehan es Alpen, tapi dari tempahan baja Rhein yang bapak sucinya Otto van Bismarck. Mereka tentara yang tidak pernah menerima kekalahan di kertas corat coret,” kata Heynckes sang pelatih Die Bayern.

Heynckes tidak sesumbar. Perjalanan sejarah Bayern telah mencatatkan dua belas kemenangan dari 18 pertemuan kedua klub sepanjang kompetisi yang mereka lalui. “Terserah anda mau menempatkan kami di nomor berapa di peta klub elite Eropa ini. Untuk anda ketahui di sini pernah disemayamkan trofi Liga Champion dan kami pernah memiliki Beckenbauer, Gerd Mueller atau pun Karl Rummenige mereka semua pejuang,” kata sang pelatih di ruang pers sehari sebelum pertandingan kedua tim.

Bayern memang membalikkan situasi di lima belas menit lanjutan babak pertama. Lihatlah mereka membuka ruang dengan mengajak Madrid bermain terbuka dan berkelahi bak “gladiator” di lapangan tengah. Hanya ada satu pulihan bagi Ribery atau Lahm. Jangan berikan Ronaldo ruang untuk mengatur jalannya pertandingan. Beri dia ruang sesedikit mungkin untuk kemudian gasak Pepe, Ramos dan  Contreo di blok pertahanan.

Untuk itu jangan pernah berkedip untuk menyaksikan jelajah Ribery anak tempramental Lion, Perancis, yang mualaf dan bermasalah dengan kasus cabul anak di bawah umur, menggerakkan Bayern bersama Arjen Robben, anak Oranye yang hengkang dari Ayax, yang mengelupaskan tabir halangan di sisi kiri pertahanan Madrid.

Itulah pembalikan yang menghancurkan psikologis El Real. Pembalikan dengan menggasakkan umpan silang dan pertukaran posisi secara vertikal dan membuat garis serangan horizontal antara Mario  Gomez, Ribery, Robben dan Kroos. Serangan yang paling tidak menendang sikap overestimate Madrid sebagai tim di atas angin.

“Mereka lumat,” kata Berti Vogt, mantan pelatih Jerman yang cebol itu tentang beroindahnya penguasaan lapangan ke Bayern kepada wartawan “Del Spiegel”  tentang pertandingan “real final” itu.

Catatlah gol yang lahir dari posisi “second line” Ribery dari sepak pojok Toni Kroos yang coba dihadang  bek Madrid Sergio Ramos. Ribery yang posisinya terjepit di antara Pepe dan Arbeola memanfaatkan celah sempit itu dalam waktu sepersekian detik. Iker Casillas terjengkang di menit ke-17.

Madrid mencoba  bangkit. Tapi terlambat. Bayern telah merebut kemenangan psikologis. Mereka mendominasi hingga akhir babak pertama.

Di kamar ganti Mourinho seperti di komentari David Ronnie dari “Skay TV” mengembalikan kepercayaan pemain. Sebagai motivator ulung, pelatih asal Portugal, tutur Ronnie mengingatkan Madrid paling layak ke final. Bukan Bayern Muenchen. “Mereka klub nomor tiga,” katanya.

Di kick off babak kedua, El Real tampil rapi, dingin dan melakukan perpindahan setting serangan secara blok. Ronaldo di tarik agak dalam dan menempat Benzema dan Ozil dalam duet striker yang saling melapis. Serangan Madrid menjadi hidup, tapi mereka sesungguhnya kehilangan “ply maker” sekelas Kaka, yang kami sendiri tidak tahu apa alasan Mourinho tidak menghadirkannya ke lapangan.

Padahal Kaka yang impressing dan akurasi umpannya masih yang terbaik sampai sekarang sanga dibutuhkan oleh Madrid untuk menghidupkan peluang.

Lupakan Kaka. Ingat kembali bagaimana Benzema, Oezil dan Ronaldo melakukan gerakan bagaikan tombak trisula mengacak garis gawan Neuer dan membuat Lahm kucar kacir.

Gerekan mereka ini menghasilkan gol ketika Benzema di menit 53 melakukan reflek keeping secara memutar dan mengumpan Ronaldo secara simetris untuk kemudian menendang ke arah gawang. Bola melenceng dan di hadang Neuer. Kembali lagi dan di sana ada Ronaldo yang mengibaskan sepakan ke arah Oezil yang dengan lembut mencobloskannya ke gawang Bayern. 1-1.

Heynckes sadar, kalau Bayern terpengaruh dengan pola Madrid mereka akan takluk di kandang. Ia mengirim pesan lewat Muller yang masuk menggantikan Schweinsteiger di menit 60. “Terlambat,”  keluh Beckenbauer yang duduk di tribune kehormatan. De kaizer, yang hingga kini masih dihormati di lingkungan sepakbola Jerman dan Eropa, mengangat jempol krinya sebagai persetejuan penggantian.

Bayern kembali mengendalikan permainan. Dua kali Gomez melakukan safety passing dan sekali Ribery menandung umpan Robben. Semuanya dimentahkan Casillas, kiper gaek Madrid itu.

Dan di ujung permainan, menit 90, usai perkelahian man to man Lahm dengan Marcelo, ia mengirim  umpan ke kotak pertahanan Madrid dan Gomez menyambarnya. Tamat sudah jilid pertama semifinal Madrid lawan Bayern.

Secara keseluruhan pertandingan berlangsung keras dan terbuka. Sebuah tontonan, yang seperti telepon seorang kawan, pantas di beri bintang 5.

Terlepas dari ocehan terhadap kepemimpinan wasit baik dari Mourinho yang menuduh gol Ribery offside karena Luiz  Gustavo berdiri masuk garis gawang dan Gomez yang dijatuhkan tanpa sanki penalti, semua kita harus belajar bahwa mereka tak ada yang melawan keputusan wasit. []

  • Uncategorized

Leave a Reply